
"Kakek apa kabarnya?" Alia nampak sangat bergembira bisa bicara dengan Kakeknya yang di kampung.
"Alhamdulillah sehat sayang, apa kabarnya cucu kakek, sudah pulang sekolah?"
"Sudah kek adek sehat kek. Tadi adek habis main bareng Fara mainan masak masakan, sekarang dirumah sudah ada banyak orang bantuin ayah kerja Kek"
"Iya sayang, siapa saja dek?" sengaja memancing Alia buat cerita untuk mengukur sejauh mana perkembangan cucu kesayangannya. Sebagai kakek takut kalau cucunya tidak bisa adaptasi dengan baik.
"Ada Mak Dang, sama om Izal kek. Baik-baik semua orangnya"
"Alhamdulillah, adek sudah makan?"
"Sudah kek, tadi pagi....hihi.....makan siang nunggu ayah. Kalau bunda pulangnya masih lama. Kakek kapan kesini?"
"InsyaAllah secepatnya sayang. Alia, ayah dimana?"
"Lagi di belakang kek, lagi ngukus kedelai. Kakek mau ngomong? adek panggil dulu ya"
"Terimakasih sayang"
Alia segera ke belakang rumah utama, ada sedikit pekarangan yang digunakan Al buat kegiatan usaha barunya, dibersihkan kemudian dikasih pagar dari bambu, dibuatnya tungku besar untuk ngukus kedelai.
"Ayah, Kakek mau ngomong" diambilnya ponsel dari tangan mungil anaknya lalu membawa ruang keluarga diikuti anaknya yang mau mainan.
"Bapak, apa kabarnya?"
__ADS_1
"Alhamdulillah Bapak baik nak, tapi Emakmu tidak baik. sudah 3 hari ini sakit, belum membaik. Seminggu yang lalu ketemu teman yang dulu anaknya pernah dijodohkan dengan kamu. Bu Burhan sama anaknya si Mira. Kamu ingat kan?"
"Iya pak, Al ingat"
"Jadi pak Burhan menyalahkan bapak sama emak, kenapa kita tidak sabar menunggu Mira waktu itu. Padahal bapak sudah jelaskan waktu itu sama pak Burhan kenapa bapak membatalkan pernikahan kalian"
"Astaghfirullah, bukannya sudah berlalu sekian tahun kenapa masih diungkit-ungkit ya pak"
"Entahlah lah Al, bapak juga heran. Kamu tau sendiri bagaimana emak, terlalu perasa, apa-apa dipikir sampai nggak doyan makan. Takut rumah tangga kamu diusik sama keluarga Mira"
Baik Al maupun bapak tahu betul tentang wanita yang apa-apa selalu dirasa, terlalu khawatir dengan semuanya bahkan yang belum terjadipun sering dikhawatirkan. Ujungnya akan berimbas kepada kaum bapak, kaum bapak sering jadi sasaran kejutekan istri karena hal sepele tapi terlalu dipikirkan melebihi memikirkan negara. Seperti harga minyak naik pun sudah sangat dipikirkan oleh kaum ibu-ibu, padahal sampai saat ini emak-emak masih bisa goreng terus...wkwkwk.
"Tidak akan Pak, yang penting dalam sebuah hubungan itu komitmen dan saling percaya, dan kuat iman. Do'akan kami ya pak, agar iman kami tidak goyah, mampu membentengi diri dari godaan syaiton"
"Iya Al, yang jelas menikah adalah ibadah terlama kita. Jadi kita harus menjaga dengan sungguh-sungguh. Syaiton akan selalu mencari celah untuk merusak rumah tangga manusia"
"Iya Al, nasihat emak supaya mau makan. Kemungkinan setelah emak sembuh langsung pengin kesitu mengunjungi cucu dan biar emak tenang kalau kamu dan keluarga baik-baik saja tidak masalah dengan Mira"
"Bagaimana dengan Mira. Maksudnya kenapa dengan Mira?"
Mendengar suaminya mengucapkan kata Mira ada perasaan cemas dan cemburu. Aini paham siapa Mira, wanita yang dijodohkan dengan Al sebelum menikah. Aini baru masuk mengucap salam tidak ada sahutan dari penghuni rumah langsung masuk begitu saja. Al belum menyadari kedatangan istrinya. Aini tidak tau suaminya sedang berbicara dengan siapa.
"Mira saat ini dimana?"
"Mira sampai saat ini belum mau menikah, karena sudah terlanjur cinta sama kamu"
__ADS_1
Lagi-lagi Al menanyakan tentang Mira, Aini semakin penasaran dengan yang dibicarakan suaminya.
"astaghfirullah, sejak kapan kamu disini Ai" kaget tiba-tiba Aini muncul dihadapan Al.
"Sejak tadi awal mas selalu menyabut nama Mira" ucap Aini ketus lalu pergi kekamar.
"Bapak, kayaknya ada yang salah paham disini. Nanti Al tlp lagi ya pak. Semoga emak segera sehat, salam buat emak. Assalamualaikum" Al langsung menghampiri istrinya yang berada dikamar.
"Kamu pulang gasik Ai"
"Kenapa mas, nggak suka aku pulang gasik?"
"Kok sewot si Ai, nggak baik sama suami bicaranya gitu"
"Tau lah.....Ai haus dan lapar. Minggir....." Aini keluar kamar.
"Mak Dang, makan bareng yuk" Aini sudah menyiapkan buat makan bersama. Rasanya semakin menambah nikmat ketika bisa makan rame-rame. Canda tawa mengiringi makan siang mereka. Meskipun baru saling mengenal beberapa hari namun hubungan mereka sangat baik, Mak Dang dan Izal sama-sama baik. Mak Dang asli orang Melayu sedangkan Izal pendatang dari Jawa Barat. Aini sangat pandai menutupi perasaannya ketika didepan orang lain, tadi yang wajahnya cemberut saat dikamar berubah seketika. Selesai makan dan sholat Aini mengajak anaknya untuk tidur siang sekaligus menenangkan pikiran yang tadi mendengar suaminya menyebut Mira dan menanyakan keberadaan Mira.
Aini meskipun sering mengatakan pada suaminya kalau dia tidak peduli kalau suaminya bermain dibelakang dengan wanita lain karena resiko ditanggung sendiri, menanggung dosa sendiri tapi tetap saja sangat sakti ketika dari mulut suaminya menanyakan keberadaan wanita lain yang pernah dijodohkan. Aini mengetahui masa lalu suaminya dari Al sendiri. Tentang Mira juga dari Al. Ketika menikah dengan Aini, sebelumnya Al dijodohkan dengan Mira, namun Al menolak dan memilih menikah dengan Aini yang baru beberapa hari dikenalnya. Mira anak dari sahabat bapaknya, yang saat itu lagi menjadi TKW di Singapore. Pak Burhan dan Bapaknya Al sudah sepakat menjodohkan keduanya, tapi takdir berkata lain. Pikiran Aini masih menerawang, kenapa tadi nggak menanyakan dulu suaminya lagi berbicara sama siapa di ponsel? kenapa juga aku harus marah-marah tak jelas tanpa mendengar penjelasan suaminya. Yang jelas masuk rumah dalam kondisi capek, salam nggak dijawab ternyata suaminya lagi tlp dalam kondisi menyebut nama perempuan yang pernah dijodohkan.
Al tidak nyaman dengan sikap Aini hari ini yang cendrung diam sejak pulang sekolah tadi, wajahnya masih ditekuk. Al menyusul istrinya ke kamar, tidak mau masalah berlarut. Terkadang keharmonisan rumah tangga akan terusik dengan percikan kecil yang tidak diselesaikan menimbulkan percikan itu menumpuk lalu meledak. Jika sudah seperti itu akan sulit untuk dikendalikan.
"Aini, kenapa dengan istri mas ini hem. Jangan cepat marah, karena terkadang telinga salah mendengar, mulut salah mengucap dan hati kadang salah menduga, dengarkan penjelasan mas dulu. Jangan asal menyimpulkan" Al menarik tangan Aini untuk duduk disamping dirinya.
"Kamu nggak mau tau, tadi mas telpon dengan siapa? Sedang membicarakan apa?"
__ADS_1
Aini masih menunduk, enggan untuk menatap suaminya. Sebenarnya penasaran dengan itu semua dan merasa ceroboh dengan sikapnya. Tapi hatinya terlanjur kacau.
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...