Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Siapa Kamu?


__ADS_3

"Kita kembali ke rumah, tolong kalian jemput Alia pastikan dia baik-baik saja. Aku khawatir dia jadi sasaran, langsung pulang jangan kemana-mana," ucap Al kepada Izal.


"Baik, Mas. Ayo, Sayang. Kita jemput keponakan kita!" Izal menarik tangan istrinya yang masih asyik makan.


"Aku masih lapar, Bang. Dikit lagi saja, mubadzir kan?" Lina merengek.


"Sayang, bisa dilanjutkan di rumah kan. Lagian perut apaan, sudah tinggal sedikit masih mengeluh lapar," Izal menggandeng tangan istrinya ke kasir untuk membayar. Sementara Al sudah beranjak pulang.


"Izal dan Lina tertahan sebentar untuk mengamati mobil yang mengikuti sejak keluar rumah. Tampak bergerak mengikuti arah mobil Al berjalan. Segera dirogohnya hp dari sakunya.


"Mas, hati-hati ada yang mengikuti di belakang,"


"Terimakasih, Zal. Kamu juga hati-hati, titip Alia ya, Zal. Barusan Aini ngabari wali kelasnya kalau mau di jemput kamu. Guru Alia sudah paham kamu. Tadi ada yang mau njemput Alia, nggak tau siapa. Untung Allah masih melindunginya, gurunya tak percaya dengan orang tersebut,"


"Alhamdulillah, syukurlah. Aku jalan dulu, Mas," Izal menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Al.


"Ayo, Sayang. Kita Jalan," Izal menggandeng tangan istrinya berjalan seolah tak terjadi masalah.


Sementara Aini terus berdoa, dan ada semburat kekhawatiran di wajahnya.


Yang membuat Al khawatir adalah ada seseorang yang mencoba menjemput Alia. Apa tujuannya?


"Mas, aku rasa kita nggak ada musuh. Atau membenci seseorang ya, Mas,"


"Iya, kita memang tidak membenci. Tapi tidak semua orang punya sifat baik. Meskipun semua orang terlahir dalam keadaan fitri atau suci tapi lingkungan juga berpengaruh dalam membentuk karakter seseorang,"

__ADS_1


"Mas, jadi lingkungan pengaruh ya? Bukannya yang penting keluarga mengajarkan hal baik?"


"Memang benar pondasi utamanya di keluarga, tapi tidak mungkin kan anak kita di kurung dirumah terus. Jelas butuh orang lain. Maka sebagai orang tua berkewajiban memilih lingkungan yang baik sebagai tempat tinggalnya. Namun peran terpenting ada pada orang tua tentang bagaimana cara menghadapi persoalan dengan teman-teman sebayanya. Bijak dalam mengahadapi pertengkaran anak kecil ini sangat pengaruh di kehidupan kedepannya bagaimana menghadapi dunia nyata,"


"Mas, kalau orang yang dendam, iri, pengin orang lain sengsara sikap kita ke mereka bagaimana?"


"Jadi gini, Sayang. Pada dasarnya setiap manusia ingin di hargai, ingin di akui. Bisa jadi mereka seperti itu karena tidak mendapatkan pengakuan dari sekitarnya. Contoh kecilnya, ketika kecil kakak beradik orang tua selalu berpihak pada si adik, kakak karena sudah besar selalu yang di salahkan dengan alasan adiknya masih kecil, sering kan kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Nggak perlu jauh-jauh anak tetangga kita di kampung dulu anak pertamanya selalu di perlakukan seperti itu sama mama papanya,"


"Iya, aku sampai kasihan melihat Ima sering diperlakukan kurang adil, meski bukan secara fisik tapi aku yakin membuat psikis tertekan,"


"Nah iya, si Ima. Psikis keduanya kedepannya tak baik. Si Ima psikisnya kena jadi timbul dendam menumpuk, iri dengan adiknya sendiri yang lebih disayang kesannya. Tapi sebenarnya justru tak menyayangi dalam arti sesungguhnya, karena perlakuan itu adik Ima juga tidak menjadi baik justru akan timbul sewenang-wenang, terbiasa menang dengan kakaknya ketika bergaul dengan teman sebayanya menjadikan dia egois, menangis jika teman tidak menuruti karena sudah terbiasa apa-apa kakaknya harus mengalah. Jadi terkadang mereka yang dewasa sekarang berbuat tidak baik bisa jadi efek pola didikan dari kecil terus dipengaruhi lingkungan,"


"Tapi ada juga kok, Mas. Anak Ustadz kelakuannya tidak baik,"


"Sayang, pada dasarnya semua orang tua berkeinginan anaknya baik. Namun terlepas dari itu bisa jadi ujian bagi orang tuanya, kembali lagi sebagai orang tua harus bersabar. Ustadz juga manusia yang memiliki kekurangan, semua manusia tidak ada yang sempurna kecuali Rasullullah, kan?"


"Iya, masih. Tapi kelihatannya nggak punya niat jahat, mungkin hanya memastikan, bisa jadi lagi jalan-jalan melihat aktivitas kita," ucap Al disertai dengan tawanya.


"Mas, bisa-bisanya bercanda saat situasi seperti ini, apa tidak khawatir sedikitpun?"


"Mas, khawatir jelas tapi, kita tidak boleh khawatir berlebihan. Ada Allah yang maha segala-galanya, berdoalah InsyaAllah akan ada jalan keluarnya,"


"Mas, apa kamu nggak curiga dengan salah satu temanmu?"


"Curiga, ke siapa? Aku nggak mau menebak, lihat saja nanti ketika di rumah. Kita akan menemuinya bukan?"

__ADS_1


"Pak Arif apa tidak mengatakan, siapa orangnya?"


"Tidak, Sayang. Sudahlah toh paling 15 menit lagi kita sampai,"


"Mas, Alia juga mainnya sama orang besar saat di rumah. Tentu mereka akan mengalah dengan kemauan anak kita. Apa itu akan berpengaruh terhadap mental dia di masa depannya. Yang aku takutkan dia menjadi egois, maunya menang sendiri dan otoriter terhadap teman-teman,"


"Jelas pengaruh, tapi Mas sudah ngomong ke mereka jika Alia bersalah maka wajib di tegur beserta alasan dan koreksi kesalahannya. Jangan sampai diam saja dan jangan sampai menegur kesalahan tanpa menerangkan salahnya dimana? Seharusnya bagaimana?,"


"Kok aku nggak kepikiran seperti itu ya, Mas?"


"Nggak apa, Sayang. Aku sudah melakukannya berarti tak masalah bukan? Kita saling melengkapi,"


"Aku minta maaf soal yang aku ucapkan dengan Zaki, Sayang. Aku tak punya niat sedikitpun untuk berpaling darimu. Hanya saja waktu itu aku terlena dengan bujukan dia hanya mengikuti naluri laki-laki saja saat melihat yang asing akan penasaran. Aku khilaf tidak menundukkan pandangan,"


"Iya, Mas. Aku juga minta maaf jika caraku membuat Mas Al tersiksa. Aku takut jika tidak menegur justru akan terjadi lagi di kemudian hari dan aku ikut mendapat siksa dari perbuatan kamu, Mas. Bukankan kita sebagai pasangan memang salah satu perannya saling mengingatkan?" tangan kiri Al meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.


Mobil memasuki gerbang rumah mereka perlahan, tak ada pemandangan aneh disekitar situ. Semua terlihat normal, karyawan hilir mudik seperti biasa.


Aini masuk rumah terlebih dahulu, sementara Al menuju pos satpam.


Tampak di ruangan ada seseorang yang duduk menghadap Pak Arif dengan posisi tangan terikat di belakang. Sorot mata Pak Arif sangat menyeramkan, ditambah dengan tubuh kekarnya sangat cocok dijadikan petugas keamanan. Pak Arif merupakan salah satu anak buat Pak Danu ayahnya Izal. Pak Danu khawatir dengan semakin berkembangnya usaha Al tentunya butuh petugas keamanan untuk menjaga ketertiban karyawannya terutama.


"Assalamualaikum, Pak Arif,"


"Wa'alaikumussallam, bos sudah pulang. Maaf jika mengabarkan sesuatu yang tak mengenakan, Bos," ucap Pak Arif sopan. Orang tersebut belum menoleh sedikitpun, nampak menunduk tak terusik dengan kehadirannya. Pak Arif berdiri dan mempersilakan Al untuk duduk di kursi yang dia duduki.

__ADS_1


"Kamu! Untuk apa kamu disni!" rahang Al menegang tak percaya dengan orang yang berada dihadapannya.


__ADS_2