
"Sayang, duduk dulu sini," meraih tangan istrinya untuk duduk di sofa kamar.
"Mas mau minta maaf, telah menerima karyawan yang jauh dari kriteria kita selama ini. Tadi Pak Burhan yang menawarkan seseorang untuk menjadi karyawan kita. Padahal sebenarnya kita lagi nggak butuh kan Yang, tapi beliau kekeuh dengan alasan kemanusiaan," Al menceritakan detail tentang kedatangan Pak Burhan dengan salah satu warga yang bernama Irma.
Dalam hati Aini bertanya, mungkinkah Irma yang karyawan barunya sama dengan orang aneh pagi tadi. "Nggak perlu bersusah payah mikir, tinggal kebelakang saja memastikan," batin Aini.
"Hai... Sayang, kamu kenapa? Marah sama suamimu ini?"
"Nggak marah Sayang, nggak apa kok. Toh kalau nantinya kita nggak bisa mengendalikan tinggal ngomong kan sama Pak Burhan?" Al mengangguk.
"Mau istirahat dulu atau mau ikut Mas kebelakang, nanti kenalan sama Irma,"
"Mas keluarlah dulu, aku mau meluruskan badan dulu alias rebehan," ucap Aini sambil tertawa.
"Kenapa mesti ngusir, Mas juga mau rebahan disamping istriku," dengan tawa usilnya.
"Mas, kalau nggak keluar nanti aku yang nggak jadi istirahat," rengek Aini.
"Siapa bilang, Mas nggak akan mengganggumu. 2,5 bulan lagi rasanya lama banget ya Ai?"
"Memangnya ada apa dengan 2,5 bulan lagi?"
"Huh... Pura-pura nggak ingat, awas ya kalau sampai nggak jadi," ancam Al.
"Siap Bos, aku juga mau dimanja terus nggak usah repot kerja," ucap Aini lembut dan menggoda.
"Tuh kan Mas, aku nggak bisa istirahat. Tanganmu usil terus dari tadi," protes Aini.
"Mana ada Ai, Mas itu lagi pegang milik suamimu sendiri. Nggak mengusik sama sekali," dengan tatapan penuh minat.
"Hmmm... Iya iya, semua tubuhku ini milik suamiku," ucap Aini pasrah. Percuma menolak toh tubuhnya juga nggak bisa menolak sentuhan suaminya. Antara ucapan dan kenyataan bertentangan.
Baik Al maupun Aini sudah mandi sekaligus bersiap sholat asar. Aini ke kamar anaknya sebentar untuk mengecek. Ternyata kamarnya sudah kosong, seperti biasa Alia bangun yang dicari Abang yang dibelakang.
"Sore Bu," sapa Lastri.
"Sore Mbak, berhenti dulu kerjanya. Sholat nanti lanjut kerja lagi. Alia mana Mbak?"
__ADS_1
"Tadi disini, loh kemana ya? Mak Dang adek tadi kemana?" teriak Lastri.
"Nggak usah teriak Tri, aku masih normal. Adek tadi kedepan mau ikut Ayahnya ke Masjid kata dia,"
Aini hanya mengangguk kepada Irma sebagai tanda hormat. Dia sendiri merasa tidak perlu berbasa-basi dengan kesan pertama pagi tadi yang berantakan. Aini lebih memilih meninggalkan ruang kerja karyawan dan kembali masuk kediaman untuk sholat asar.
"Kak, kok nggak menyapa Bu Bos? Beliau orang yang sangat baik, kami selalu dimanjakan sama beliau dengan kata-kata lembutnya. Bagiku Bu Bos itu sosok seorang kakak yang sangat baik," puji Lastri.
"Biasa saja, dandanannya saja sangat kampungan. Bisa-bisanya semua memujinya,"
"Kak, ingat disini saya sudah kerja 7 bulan belum ada satupun dari kami yang bertengkar, apalagi memusuhi bos sendiri. Kakak jika ingin kerja awet ikuti aturan, jangan semaunya sendiri, kalau sampai kakak macam-macam siap-siap saja kehilangan lapangan pekerjaan. Cari kerja susah Kak, apalagi yang suasana seperti disini," Lastri mengingatkan teman barunya.
"Iya suasana aneh," ucap Irma lirih namun masih terdengar oleh Lastri.
"Bilang apa Kak?" Lastri menyelidik.
"Kamu mau kemana mbak?"
"Kak sudah masuk waktu sholat, itu artinya mau sholat."
"Sholat nanti saja dirumah kan bisa mbak, rumahku dekat jam 5 kita jam pulang kan? Masih bisa buat sholat,"
"Jilbabnya kurang lebar Mbak Lastri kalau mau ceramah,"
Tanpa menolah maupun menjawab Lastri meninggalkan pekerjaannya menuju tempat sholat yang ada dirumah itu. Meladeni Irma tidak akan ada habisnya, yang ada menaikan tensi. Al Ghazali selalu mengarahkan mereka untuk menjalankan sholat diawal waktu. Selalu ditekannya kewajiban utama pada Allah meskipun sedang bekerja harus dihentikan terlebih dahulu untuk menjalankan sholat jika adzan sudah berkumandang.
"Mbak Irma, berhenti dulu kerjanya. Sudah waktunya sholat,"
"Iya Bu, ini pekerjaan belum selesai,"
"Kalau menunggu pekerjaan selesai maka nggak ada habisnya Mbak, sudahlah ambil air wudhu dulu sana,"
"Ini sebentar lagi saja Bu, tinggal berapa bungkus,"
"Ya sudahlah, toh itu kewajiban antara kamu dengan Allah, saya sudah mengingatkan selebihnya terserah Mbak Irma," ucap Mak Dang pasrah.
"Halo, halo....ucap bang Trio lantang, ternyata sepi pada kemana ini Mak?"
__ADS_1
"Sholat belum pada balik,"
"Mak Dang sama Kakak itu kenapa nggak ikut?"
"Aku baru mau sholat, permisi,"
"Haha ... lucu, setelah kamu yang komentar langsung berangkat. Dari tadi nggak beranjak dari sini. Takut sama kamu kayaknya Trio,"
"Orang tampan begini masa menakutkan Mak,"
"Husss.... Ingat bini dirumah,"
"Pastinya Mak, sudah pengin pulang ketemu sang pujaan malahan, asli nggak betah lama-lama diluar rumah, bawaannya kangen," tertawa lepas.
"Mak Dang, ini kopi siapa? Terlihat masih utuh, tapi sudah dingin banget," tanya Aini yang sudah duduk diposisi Al biasanya.
"Punya Mas Al, Mbak,"
"Tumben ngopi, tak buang aja ya Mak sudah dingin dikerubungi semut, makanan juga mubadzir ini nggak dimakan tapi berhubung sudah di kepung semut," sambil membawa cangkir dan piring ke wastafel. Mak Dang tertawa dalam hati saat melirik ke Irma sang pembuat kopi itu terlihat cemberut.
"Mak Dang, Mas Al nggak makan berarti,"
"Kayaknya makan di dapur utama Mbak,"
Aini berjalan mendekat kearah Irma dan duduk persis disampingnya.
"Bu Irma, semoga betah ya. Maaf mungkin tidak sesuai bayangan. Disini semua serba sederhana, nggak ada yang istimewa," Aini berbicara lirih memastikan orang lain tidak mendengar dengan jelas setengah berbisik.
"Iya Mbak,"
"Amati kerja teman-teman barumu, sikap dan cara berbicaranya supaya terbiasa berbaur dengan mereka?" ucap Aini lembut.
"Iya Mbak,"
Aini merasa tidak heran jika Irma ngotot mau kerja disini, dia mendapat laporan dari Izal kalau dari kemarin-kemarin sebelum pindah ada seorang wanita yang selalu mengamati keadaan disini. Gelagatnya aneh, tak masuk akal. Pernah wanita itu ijin untuk masuk ke rumah itu, namun karena merasa tidak berkepentingan tidak pernah diijinkan oleh Al maupun para pekerja. Izal lebih tahu karena dialah yang bertugas mengontrol keadaan bersama Al Ghazali.
"Bu Irma sudah sering kesini kemarin-kemarin kan? Sebelum kami pindah, waktu baru ada pekerja?"
__ADS_1
"Emmm ... "
"Nggak perlu jawab Bu, aku percaya sama pekerja mereka tidak akan memasukan orang yang tidak berkepentingan, jika ingin serius kerja lanjutkan, jika hanya ingin main-main makan lebih baik berhenti hari ini juga," masih dengan berbisik.