
Sampailah di sebuah ruang rawat yang cukup sepi, lebih tepatnya ruang VVIP.
"Pak, aku disini saja," ucap Lina ragu untuk mengikuti langkah Bapaknya Izal.
"Nak, Ibu didalam menunggu kedatangan kamu. Izal nggak disini, dia lagi mengurus lanjutan pemeriksaan psikiater semalam. Orang tua Virna sedang perjalanan menuju sini,"
"Pak, psikiater?" ucap Lina kaget.
"Iya, masuklah dia nggak ngamuk-ngamuk seperti tadi. Setelah kami datang dia sudah nggak teriak, tadi malam ketika Izal mau pulang dia mengamuk persis orang dengan gangguan kejiwaan, makanya Izal langsung menghubungi Psikiater RS ini untuk segera menangani,"
"Baiklah, masuk saja yuk, Mba. Jadi penasaran," dengan senyum miringnya.
"Wah ... ada yang merasa tertantang rupanya, apakah yang kamu pikirkan sama dengan Mba?"
"Mungkin, yg jelas tadi malam kita jelas-jelas lihat bagaimana keadaannya kan?"
"Mas, kami masuk dulu ya. Mas mau disini apa mau ikut?"
"Ikut dong, di dalam luas kok tenang saja," ucap Pak Danu.
"Assalamualaikum," Lina memberi salam. Di itu terlihat Bu Yuli duduk di sofa dan Virna tidur di bad khusus pasien. Tanpa selang infus ataupun apa, hanya pakaian yang menunjukkan kalau dia seorang pasien.
"Wa'alaikumussallam, Sayang. Alhamdulillah kamu mau kesini, duduk sama Ibu sini, Mba Aini dan Mas Al maaf merepotkan," ucap Bu Yuli sambil memeluk Lina dan berganti dengan Aini. Virna merasa terganggu dengan percakapan di ruangannya. Dia mengerjapkan mata, kaget melihat siapa yang datang. Wanita itu jelas yang tadi malam di lihat bersama Izal.
"Siapa, kalian! kenapa kalian disini, pergi!" teriak Virna terus mengamuk.
"Izal, usir mereka! Kamu kemana, Zal? Kamu sudah janji akan selalu menunggu disini," tangis Virna pecah. Sebentar menangis lalu berteriak kembali dan dibarengi dengan tawa.
__ADS_1
"Tenanglah, Virna. Ingat kata dokter, kamu tenang ada Ibu disini, ada Ibu sama Bapak yang menggantikan Izal jaga, Izal hanya pergi sebentar," ucap Ibu lembut dan iba melihat keadaan Virna yang sangat berantakan.
"Ibu, mereka harus pergi! jangan disini!" teriaknya lagi lepas kontrol.
"Wanita yang pakai baju tosca, kamu keluar!" teriaknya lagi.
"Lina, jangan dengerin Virna. Kamu tetap disini temani Ibu. Bapak, pegangin Virna cepat. Bantu Ibu pegangin, Pak!" ucap Ibu panik dan Bapak lekas menuruti kata istrinya.
"Kapan si, mereka sampai. Orang tua macam apa, sudah dikabari anaknya sakit nggak datang-datang," Ibu Izal terus mengomel.
"Kenapa aku harus keluar?" ucap Lina dengan wajah polosnya.
"Kamu perusak, harus pergi dari sini!" teriak Virna.
"Lina, jangan diambil hati perkataannya. Dia lagi dalam gangguan kejiwaan," ucap Ibu takut Lina tersinggung.
"Tenang, Bu. Kata mereka, kakak-kakakku aku wanita hebat, benar kan Mas, Mba?" jawab Lina cekikikan sambil menunjuk kakak-kakaknya. Aini dan Al hanya menanggapi dengan senyuman, takutnya dianggap tidak sopan. Al dan Aini hanya orang luar, tak akan berbicara apapun disini. Mereka hanya menjadi penonton dan membiarkan Lina mengambil peran disini.
"Kamu, jangan mendekat! Aku akan bunuh diri!" teriak Virna.
"Jangan bunuh diri, Virna. Masa depan kamu masih panjang, jangan lakukan hal bodoh dan berdosa," Ibu membujuk Virna dengan sabar.
"Pak, Bu. Duduk saja bareng Mas Al dan Mba Aini," ucap Lina lembut tapi begitu tegas, orang tua Izal menuruti kata-kata Lina, berjalan dan duduk di sofa dekat Aini dan Izal.
Lina menarik nafas panjang sebelum berbicara, "Mba Virna jika mau bunuh diri nggak usah mengancam kami. Apalagi didepan orang tua, kalau mau bunuh diri itu harusnya diam-diam supaya berhasil. Aneh, ... bunuh diri pakai pamitan! Bunuh diri jika pamit jelas nggak berhasil, kalau Mba Virna ingin tau triknya," ucap Lina sambil berdiri di depan Virna. Virna hanya sebatas ngamuk nggak jelas duduk di kasur tanpa beranjak kemanapun, kalaupun ngamuk Lina sudah siap. Lina sudah mengantongi sabuk hitam nggak ada yang perlu di takutkan ketika berhadapan dengan Virna, yang otaknya bisa dibilang tumpul.
"Jawablah Mba Virna, terus satu lagi. Siapa yang mau memperistri orang dengan gangguan kejiwaan alias gi*la. Mana ada, kalau aku jadi Izal maka jelas menolak Mba Virna jadi istri. Strategi Mba Virna kurang TOP," ucap Lina sambil melipat tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Oh, ... iya aku tau. Dengan menjadi gi*la maka Izal tidak akan meninggalkan kamu, kamu bisa bersamanya. Seperti malam tadi kamu senang kan? di temani sama calon suamiku? Tapi ingat, meski kamu bersamanya namun tidak menikmati, ah ... tersiksa, itu kalau menurutku. Kalau mau mengikat laki-laki pakai cara yang berkelas,"
"Ah ... sial*an. Gadis kampung saja berlagak!" ucap Virna mulai terpancing bicara normal.
"Aku memang gadis kampung, betul-betul masih gadis, karena kegadisanku hanya ku persembahkan buat suamiku kelak. Bukan seperti Mba Virna, status masih gadis tapi rasa janda," ucap Lina sambil mencibir sengaja memancing emosi yang sesungguhnya, bukan mengamuk tak jelas seperti orang gangguan jiwa.
"Jaga mulutmu, aku tak terima. Kamu memfitnah saya, siapa kamu kenapa kamu disini. Kamu sudah merusak rencana ku!" bentak Virna.
"Rencana apa calon nyonya Fadil? Normalnya kayak gini kan, Pak? Ku bilang juga apa, nggak perlu psikiater," ucap Lina kepada calon mertuanya.
Ternyata Izal sudah menyaksikan sejak tadi, dia mau masuk bersama psikiater namun di urungkan terlebih dahulu, melihat calon istrinya sedang berbicara dengan Virna. Namun semuanya belum ada yang menyadari.
"Kamu bisa keluar dari sini! Aku tidak mau melihatmu!"
"Siapa yang menyuruhmu melihatku, kamu aneh. Mba nggak jadi gi*lanya? Padahal seru loh, aku bisa bicara sepuasnya tanpa kamu tersinggung, setelah sembuh kamu bakalan lupa kan? Kamu yang mengusik kehidupanku jadi aku yang seharusnya marah, Mba Virna,"
"Diam, kenapa kalian diam saja melihat wanita ini mengoceh! Izal calon suami saya, bukan calon suamimu," ucap Virna kesal.
"Mba Virna , sudah nggak asyik diajak ngomong. Mba Virna, ini berapa?" ucap Lina kocak.
"Izal, kenapa kamu hanya diam. Usir wanita ini!" teriak Virna marah. Izal hanya tersenyum menahan tawa melihat aksi calon istrinya. Izal sudah ketahuan sama Virna akhirnya masuk diikuti oleh sahabatnya Fadil yang notabene adalah pacar Virna. Menyusul di belakangnya orang tua Virna. Ibu Virna langsung memeluk anaknya, tatapannya tidak percaya.
"Terimakasih, kamu sudah menjaganya dengan baik," ucap Ferdi.
"Tak masalah, meski aku sangat tersiksa tadi malam, namun handphone hilang saat membawa Virna kesini nggak tau nomor kamu jadinya. Sementara Handphone Virna mati. Dan tak ada kesempatan buat cas, dia terus berteriak macam orang gangguan jiwa. Makanya aku menghubungi Psikiater buat cek, hasilnya nanti kamu bisa tanyakan pada Dokter yang menangani,"
"Aku mau sama Izal. Bukan sama kamu, laki-laki penggoda!" teriak Virna.
__ADS_1
"Bro, meskipun aku belum lihat hasil pemeriksaan psikiater tapi sudah tau motif dia melakukan ini. Selamat bekerja keras memenuhi ambisi calon istrimu, kamu yang bertanggungjawab jangan sekalipun dia mengusik kehidupanku," ucap Izal sambil memeluk sahabatnya dengan nada ancaman.
"Karena Ibunya Virna dan calon suaminya sudah di sini maka kami pamit. Semoga Virna lekas sembuh," ucap Izal cuek. Izal terus memandangi calon istrinya, terlihat ada kekecewaan di mata Lina. Bagaimana nanti menjelaskannya? Lina terlihat sekali kurang tidur, apakah dia mengkhawatirkannya?