YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 99.


__ADS_3

Sekarang Serra berada dalam mobil Alrez menuju mansion Alkavero, setelah perdebatan yang cukup panjang, dimana akhirnya Serra menyetujui permintaan dari mama Devita dan papa Alka yang menyuruhnya menemui Arka untuk membujuk pria itu menanda tangani surat cerai. Apalagi Alrez memberitahu bahwa Arka sudah dua hari tak mau keluar kamar ataupun makan, mereka semua khawatir dengan keadaan Arka.


Alrez melirik Serra, entah apa yang sedang dipikirkan oleh gadisnya sehingga membuat gadisnya itu melamun.


Semantara Serra sama sekali tak sadar di lirik Alrez. Ia memejamkan matanya, untuk menguatkan dirinya bertemu Arka.


Flashback...


Selesai berganti pakaian Serra lekas keluar dari kamar untuk menghampiri Ibunya. Sampai di meja makan ternyata Ibunya sudah tidak ada.


"Ibu mu sedang istirahat di kamarnya," ujar Alrez memberitahu Serra.


"Terus uncle ngapain masih disini?" tanya Serra.


"Duduk dulu, ada hal penting yang mau saya bicarakan dengan mu," ucap Alrez meraih tangan gadisnya, menyuruh duduk.


"Hal penting apa uncle?"


"Begini ra, maksud kedatangan saya kesini. Meminta mu untuk menemui Arka untuk terakhir kalinya. Tolong bujuk dia agar mau keluar kamar dan makan, sudah dua hari Arka tak keluar kamar sama sekali, bahkan pelayan yang mengantar makanan untuknya pun tidak dibukain pintu. Sekalipun makanan tersebut di taruh depan pintu, tak diambilnya sama sekali."


Walaupun Alrez senang Serra dan Arka akhirnya berpisah. Tetapi ia masih mempunyai hati, rasa iba melihat keadaan keponakannya.


"Tapi a-aku-"


"Pleasee, temuin Arka. Saya akan menemani, dan ini surat perceraian kalian tanda tangani dan minta agar Arka juga menanda tanganinya." Alrez menyela omongan Serra.


"Oke! aku mau menemui Arka, tapi ini untuk terakhir kalinya. Aku tak ingin bertemu dengan lain kali," putus Serra menyetujuinya.


Alrez tersenyum tipis, mendengar keputusan Serra. Ia bahkan senang saat gadisnya mengatakan tidak ingin bertemu Arka lain kali.


"Oh itu sungguh bagus sayang, aku tak akan merasa cemburu lagi, dan akan lebih mudah mendapatkan hatimu," ucap Alrez dalam hati.


Flashback off...


Mobil berhenti dihalaman mansion, Alrez turun mengelilingi mobil dan membukakan pintu untuk gadisnya.


"Ra kita sudah sampai."

__ADS_1


Serra tersentak kaget dan mengerjapkan matanya sesaat. Kemudian setelah kembali seperti semula, Serra turun dari mobil yang telah dibukakan oleh Alrez. Serra tadi terlarut dalam pikirannya sendiri, otaknya tidak bisa melupakan kalimat Om Syarhreza papa Rachel, ditambah ia harus bertemu Arka sekarang, semakin terngiang-ngiang kalimat tersebut dikepalanya.


Arlez sudah masuk duluan ke dalam mansion, tidak dengan Serra yang malah menghentikan langkah kakinya tepat diambang pintu.


"Serra ayo kemarilah," seru Alrez.


"Enggak! Aku tidak bisa, hatiku semakin sakit jika bertemu dia," ucap Serra berbalik, melangkah pergi menjauhi pintu mansion.


Alrez mengejarnya dan menghalangi kepergian gadisnya. Serra mendorong badan Alrez agar menyingkir dari hadapannya.


"Serra berhenti," bentak Alrez tanpa sengaja mengeraskan suaranya.


"Hiks, aku engga mau ketemu dia. Mengapa uncle memaksa ku," tangis Serra pecah dihadapan Alrez.


"Kenapa kalian tak pernah mengerti perasaan ku, dia telah menghianati pernikahan ini, padahal aku sudah merancang masa depanku. Perbuatan itu sudah menghancurkan segalanya, dia jahat jahat," pekik Serra membuat Alrez mendekap tubuh gadisnya, mengusap rambutnya membiarkan gadisnya menangis didadanya.


"Gimana udah agak tenang sekarang?" tanya Alrez saat gadisnya melepaskan diri dari dekapannya.


Serra mengangguk, menghapus lelehan air mata yang tersisa dipipinya. Alrez merangkum wajah gadisnya, mengusap lembut pipi gadisnya yang basah akibat habis menangis.


"Maaf saya sudah bentak kamu tadi. Sekali ini saja temuin Arka, saya janji tidak akan mempertemukan mu dengan Arka lagi setelah ini," ucap Alrez berjanji pada gadisnya.


Kini kedua berjalan masuk ke dalam mansion bersama-sama. Alrez melingkarkan tangang ke pinggang ramping gadisnya. Mereka sudah berdiri depan pintu Arka, dimana terlihat seorang pelayang mengetuk-ketuk pintu dengan nampan berisi makanan dan minuman yang dibawanya.


"Bibi berikan makanannya padaku, biar aku saja yang memberikan," ujar Serra.


"Makasih non, semoga tuan muda Arka mau membukakan pintunya," balas Bi Tantri menyerahkan nampan pada Serra, tapi diambil alih oleh Alrez disampingnya. Bi Tantri lalu segera pergi melanjutkan pekerjaannya.


Tokk...tok...tok...


"Arka buka pintunya, ini aku Serra."


Mendengar suara lembut yang dirindukannya. Arka berdiri tapi terjatuh, tubuhnya memang lemas, karena dua hari tidak makan dan minum apapun. Tetapi Arka berusaha bangkit kembali, melangkah pelan membawa kaki membuka kunci pintu.


Setelah pintu terbuka lebar, Arka langsung memeluk Serra erat. Bahkan tangan Serra susah buat terangkat membalas pelukan Arka. Mata Serra melirik Alrez yang hanya memberikan anggukan sebagai jawaban.


"Aku merindukan mu, jangan tinggalin aku. Aku engga bisa hidup tanpa kamu sayang," ungkap Arka menarik tangan Serra masuk dalam kamar.

__ADS_1


Ketika berada dalam kamar, betapa terkejutnya Serra melihat kamar sudah seperti kapal pecah, barang berhamburan kemana-mana. Cermin rias pun juga pecah.


"Apakah ada gempa yang menerjang kama ini," batin Serra.


"Sayang maaf kamu pasti kaget ngeliat kamar kita berantakan, nanti aku minta bibi buat bersihan kamar kita ini," ucap Arka.


"Ka kamu pasti laper sama haus kan," ujar Serra.


Arka mengangguk, "Iya aku laper banget, aku mau makan tapi disuapin sama kamu."


"Sebelum makan sebaiknya kamu mandi dulu ya, baru aku obatin luka lebam kamu." Serra menyuruh Arka biar menyegarkan diri terlebih dahulu.


Arka menggeleng, "Nanti kamu tinggalin aku."


"Mandi Arka! Aku bakal tetap disini, cepat. Kalau engga aku tinggal sekarang," ancam Serra membuat Arka lari terbirit-birit ke kamar mandi.


Serra keluar menghampiri Alrez yang masih berdiri di samping pintu kamar. Mengambil alih nampan tersebut.


"Uncle aku bisa minta tolong gak, panggilin pelayan buat ngebersihin kamar ini. Kepala ku jadi pusing ngeliat kamar berantakan kaya gini," ucap Serra.


"Hem." Alrez menjawab dengan sebuah dehaman dan lekas keluar dari kamar turun kebawah memanggil pelayan.


Dua orang pelayan masuk membersihkan kamar, tapi Serra tak mengenali pelayan perempuan tersebut, karena kedua pelayan baru di mansion. Dalam waktu lima menit kamar menjadi beres dan bersih kembali.


"Makasih ya mba sudah membersihkan kamar ini," ucap Serra.


"Ini sudah menjadi tugas kami nona," balas salah satu dan tersenyum ramah.


"Iya nona benar kata teman saya, adalagi yang bisa kami bantu?" tanya pelayan satunya sopan.


"Tidak ada mba, mba bisa melanjutkan perkerjaan lainnya," ujar Serra, kedua pelayan tersebut pamit meninggalkan kamar.


Beberapa menit kemudian setelah kedua pelayan tersebut pergi. Arka keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambut yang basah. Serra tahu Arka pasti sengaja membiarkan rambut masih basah, agar dia yang membantu mengeringkan.


...****************...


TBC

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakt kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609


__ADS_2