YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 33


__ADS_3

“Apa mereka ada masalah, sehingga Serra memilih tinggal di tempat ibunya semantara waktu...”


Arlez masih dalam perjalanan pulang menuju ke hotel. Malah sibuk berperang dengan pikirannya, bertanya-tanya masalah apa yang sedang dialami pasangan suami istri yang masih remaja.


“Angga berapa hari lagi kita berada di Turki?” Arlez bertanya pada asissten yang duduk bangku sebelahnya.


“Sekitar satu minggu tuan, tapi jika anda bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Kemungkinan tiga hari lagi kita sudah bisa pulang,” jawab Angga.


“Hemm... kita percepat urusan disini, saya ingin segera pulang,” tukas Arlez dan tidak ada percakapan lagi diantara keduanya. Arlez lebih memilih menatap handphonenya yang menampilkan walpaper gadisnya.


Angga merasa terheran-heran dengan sikap bossnya yang akhir-akhir ini mulai berubah. Biasa bossnya sangat suka berlama-lama di luar negeri dan selalu menunda-nunda kepulangan mereka. Sekarang malah berbalik, malas berlama-lama dan menginginkan urusan cepat selesai agar segera bisa pulang.


Mungkinkah bossnya ini sangat merindukan gadis yang dibawa oleh bossnya ke apartemen kemarin. Ya, Angga sangat yakin bahwa bossnya merindukan gadis itu.


Serra adalah orang pertama yang dibawa Arlez ke apartemen miliknya. Sebelumnya Arlez tidak pernah sama sekali memasukan perempuan dalam apartemen, jika Arlez mengizinkannya berarti perempuan itu sangat spesial dihatinya. Berarti Serra lah orang yang spesial itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arlez tampak senang, akhirnya urusannya selesai dalam waktu tiga hari seperti keinginannya.


“Kau sudah memesankan tiket pesawat untuk kepulangan kita besok,” ujar Arlez bicara dengan Angga sambil berjalan.


“Tuan tidak ingin menggunakan jet pribadi saja,” sanggah Angga.


“Tidak Angga! Pesan tiket pesawat saja,” putus Arlez.

__ADS_1


‘Sungguh bossnya sangat aneh sekali, ada jet pribadi malah ingin naik pesawat lain. Lebih baik saya turutin saja dari pada kena imbas.’ Batin Angga.


🌷


Keesokan paginya Arlez dan Angga segera terbang ke Jakarta, Indonesia. Semalaman Arlez tak bisa tertidur memikirkan gadisnya, ditambah beberapa hari dirinya kurang istirahat akibat pekerjaan yang ingin cepat diselesaikan. Arlez memijit kepalanya yang terasa pening, perutnya juga bergejolak.


“Tuan tidak papa?” Tanya Angga melihat wajah boss tampak pucat.


“Apa perlu kita tunda dulu penerbangan ke Indonesia.” Lanjut Angga.


“Tidak saya baik-baik saja. Kapan pesawat akan take off?” Tanya Arlez tak sabaran agar secepatnya sampai ke Indonesia dan bertemu gadisnya.


“Sebentar lagi tuan, sekitar sepuluh menitan,” jawab Angga.


Arlez memejamkan mata, sampai suara pemberitahuan jika pesawat sebentar lagi akan lepas landas.


🌷


Pukul sepuluh malam pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Mobil yang menjemput keduannya dibandara telah datang.


Sepanjang perjalanan menuju apartemen Arlez tetap menahan rasa sakit pada perutnya, padahal dia sudah makan tetapi rasa sakit diperutnya belum menghilang. Entahlah tidak biasanya dia mengalaminya, ditambah kepala sangat berat.


“Tuan kita sudah sampai,” kata Angga yang berad disamping Arlez.


Ketika pintu telah dibukakan oleh sopir, baru saja Arlez menurunkan kaki ke lantai basemant, tubuh hampir limbung jika saja sang sopir tidak sigap menahan tubuh Arlez.

__ADS_1


“Tuan!” Seru Angga kaget melihat bossnya hampir terjerembab jika saja tidak ditahan sopir.


“Biar saya yang memapah tuan Arlez. Kau bantu bawakan tas saja,” titah Angga langsung menggantukan sopir memapah Arlez.


Kini Arlez sudah berada dalam kamar apartemen, berbaring di ranjang miliknya.


“Tuan saya akan menelpon dokter Dimas memintanya datang ke apartemen untuk memeriksa anda.” Belum sempat Angga menelpon Arlez berbicara.


“Tidak, jangan menelponnya!” Sergah Arlez menghentikan Angga yang ingin menelpon dokter menyebalkan itu, karena ia tahu dokter menyebalkan itu pasti akan sangat senang melihatnya sakit.


“Saya hanya sedikit pusing saja, paling besok pagi sudah mendingan. Saya hanya butuh istirahat, bisakah kau tinggalkan saya sendiri,” tukas Arlez menyuruh Angga keluar dari kamarnya membiarkan ia istirahat untuk memulihkan dirinya kembali.


“Baiklah saya akan keluar dan kembali ke apartemen saya. Jika tuan butuh apa-apa hubungin saja saya,” ucap Angga.


“Hemm...” dehem Arlez menjawabnya.


Setelah itu barulah Angga benar-benar keluar dari kamar Arlez menuju pintu keluar apartemen dan kembali ke apartemennya sendiri untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


🌷🌷🌷🌷


Bersambung. . .


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609

__ADS_1


Terimakasih ❤


__ADS_2