YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 19


__ADS_3

Ting! Tong!


Suara bell apartemen berbunyi, Angga yang tengah bersantai di sofa berdiri untuk membuka pintu. Dokter Dimas yang di tunggu-tunggu akhirnya datang dan tengah berdiri di depan pintu.


“Masuklah paman, tuan Arlez sudah menunggu anda di kamar.” Angga mempersilahkan dokter Dimas untuk masuk menemui Arlez.


“Wow.. Siapakan gadis manis yang tengah berbaring di ranjang mu ini tuan Arlez?” Tanya dokter Dimas berseru, pertama kalinya dokter itu melihat seorang gadis berada diapartemen mewah milik sang tuan datar.


“Kecilkan suara dokter tua! Dan cepatlah periksa gadis ini,” titah Arlez dengan menatap tajam dokter Dimas.


“Hei, aku ini lebih tua dari mu. Sopanlah sedikit denganku,” ujar dokter Dimas sambil melakukan tugas memeriksa gadis yang tengah terbaring dan mengobati luka didahinya.


Arlez tidak menggubris sama sekali perkataan dokter Dimas. Sedangkan Angga hanya menatap jengek kedua lelaki yang selalu beradu mulut jika bertemu.


“Bagimana keadaannya?” Tanya Arlez.


“Keadaan gadis mu tidak terlalu mengkhawatirkan tuan Arlez. Hanya saja prediksi ku nanti gadis mu ini akan mengalami demam panas, jadi kau harus siaga mengurusnya. Tetapi masih prediksi..” Jelas dokte Dimas.


Arlez mengangguk..

__ADS_1


“Oh ya, aku melihat pergelangan tangan seperti memar. Apa yang melakukannya tuan Arlez,” ujar dokter Dimas.


“Bukan urusan mu dokter tua. Sekarang berikan resep obat untuk ditebus diapotik. Setelah itu kau boleh pergi dari apartemenku,” usir Arlez, tanpa mengucapkan sekedar terima kasih pada dokter Dimas yang telah meluangkan waktu, mengalihkan pekerjaan pada dokter lain untuk memeriksa pasiennya.


Dokter Dimas menyerahkan resep obat yang harus ditebus ke Arlez dengan mendengus menahan kekesalan. Jika pria paruh baya itu tidak mengingat jasa-jasa Arlez padanya, mungkin ia tak sudi datang kemari karena Arlez selalu bersikap tak sopan padanya.


“Angga ambil resep ini, tebus di apotik. Pulang stoplah di restoran belikan makanan apa saja,” ujar Arlez memerintahkan asisstennya.


“Baik tuan..” Angga segera keluar sekalian mengantar dokter Dimas ke depan pintu keluar apartemen.


“Terimakasih paman sudah berkenan datang kemari. Paman sudah sangat mengenal tuan Alrez, jadi saya tidak perlu takut jika paman tersinggung dengan perkataan tuan Arlez yang tak sopan pada anda,” tutur Angga bicara berhadapan dengan dokter Dimas.


Angga mangut-mangut saja tak mau menanggapi lebih jauh lagi. Setelah dokter Dimas berlalu, Angga segera berangkat melaksanakan perintah bossnya.


“Uhuk, uhuk...” Serra terbatuk-batuk, Arlez yang masih berada di kamar dengan sigap menyodorkan air ke mulit Serra agar meminumnya.


Usai meminum Serra membuka matanya perlahan. Tangannya menyentuh dahinya yang terasa sakit.


“Dahiku, kenapa?” Tanya Serra lupa dengan kejadian kecelakan mereka.

__ADS_1


“Dahimu terluka akibat membentur dashboard mobil pada saat kita kecelakaan,” jawab Arlez memeperhatikan raut wajah Serra yang tengah mengingatnya.


“Ya aku mengingatnya uncle, tapi apa uncle juga terluka?” Tanya Serra memeriksa wajah pria dihadapan tanpa sadar merangkum wajah pria dihadapannya.


“Tidak, saya baik-baik saja,” ujar Arlez melepaskan tangan Serra dari wajahnya.


“Maaf,” kata Serra.


“Kenapa meminta maaf, kau tidak ada salah apapun. Saya yang harusnya meminta maaf karena menyebabkan kau terluka seperti sekarang ini,” ujar Arlez menatap penuh permohonan.


Serra mengangguk, “Jangan seperti itu lagi uncle, aku takut naik mobil dengan melaju kencang..”


“Saya tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Arlez. Serra tersenyum menangguk mempercayai yang padahal sebenarnya dia tak mempercayai ucapan pria datar yang duduk di tepian ranjang sebelah kirinya.


***


Bersambung. . .


Jangan lupa tinggalkan jejakt kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.

__ADS_1


Yuk follow ig author : @dianti2609


__ADS_2