
Tante Reta memegangi pipinya yang barusan di tampar Serra. Wanita paru baya itu mengepalkan tangan, menatap bengis ke arah Serra yang tampak terlihat tenang.
"Kenapa tante ngeliat aku segitunya, kaget aku bisa ngelakuin itu sama tante," ujar Serra menyilangkan tangan di dada.
"Jangan tante pikir aku diam saja, tante tuduh-tuduh begitu. Dengar ya tante, aku gak hamil di luar nikah, satu lagi tanpa dukun pun Mas Alrez udah cinta mati sama aku," lanjut Serra.
"Kamu! Berani sekali menampar saya, dasar wanita sialan," geram Reta mengangkatan tangan dan ingin balas menampar Serra.
Namun sebelum tangan Reta sampai ke pipi Serra, ada sebuah tangan yang menahan tangan Reta. Lalu dihempaskan begitu saja, membuat Reta mengaduh kesakitan.
"Berani anda menyentuh pipi istriku, saya buat hancur keluarga anda." Tekan Alrez.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Alrez lantas membawa Serra pergi dari perkumpulan ibu-ibu arisan, bahkan Alrez sama sekali tidak pamitan dengan mama Alia.
Sontak mama Alia merasa bersalah, karena dia menantunya di permalukan.
"Mas, mama gimana? Masa aku tinggalin gitu aja, kan tadi aku pergi bareng mama," kata Serra teringat mama Alia yang masih berada disana.
"Biarkan nanti mama pulang di jemput sopirnya," balas Alrez.
"Tapi seenggaknya kita nawarin mama, mau ikut pulang bareng kita atau enggak. Ga sopan banget sih Mas, gak pamit sama mama, main tinggal gitu aja. Aku juga ngerasa bersalah udah ngerusak acara arisan mama," ucap Serra sendu, bumil menunduk sedih.
Alrez terpaksa belum menjalankan mobilnya, dia lebih memilih menghadap ke arah istrinya yang tengah menunduk sedih. Alrez mengangkat dagu Serra agar wajah istrinya menghadap padanya.
"Jangan pernah ngerasa bersalah soal tadi sayang, yang terjadi di dalam sana sama sekali bukan salah kamu. Kamu pantas menampar wanita tua tadi, karena dia sudah berani menghina dan menuduh kamu, Mas gak terima kamu dipermalukan kaya tadi. Untung saja Mas datang tepat waktu, kalau sampai tubuh kamu terluka sedikit saja, lihat saja Mas akan buat hancur perusahaan Benedicto." Papar Alrez.
"Kok Mas bisa nyusul aku ke tempat arisan mama, padahal kan aku gak ngasih tau tempatnya," heran Serra menantap suaminya penuh intimidasi.
"Entalah Mas tadi ngerasa gak enak, kepikiran kamu terus. Jadi Mas inisiatif buat nyusul kamu, soal tempat arisan mama, Mas emang pernah ngantar mama arisan. Udah sayang jangan tatap Mas kaya gitu, mau dicium hemm!!"
Serra langsung menutup mulut suaminya supaya tidak bisa menyosor bibirnya.
"Aku lagi engga mau dicium," ujar Serra.
"Masa gak percaya, coba sini Mas kecup dulu bibir sayang."
Cup
__ADS_1
"MASS!!"
"Apa sayang, mau lagi?" goda Alrez membuat pipi Serra bersemu merah.
"Cukup Mas jangan mesum di dalam mobil, ayo cepat jalankan mobilnya. Aku laper tau," kata Serra mengalihkan pembicaraan suaminya, supaya tak menggodanya lagi.
"Pengen makan apa hemm?" Tanya Alrez sambil mengusap kepala Serra lembut.
"Seblak, aku lagi pengen seblak Mas," ucap Serra jadi ngiler saat teringat makanan tersebut.
"Boleh, tapi jangan yang pedas," kata Alrez yang malah membuat Serra cemberut ketika mendengar perkataan suaminya.
"Yaudah gak jadi makan seblak," pungkas Serra langsung buang muka menatap ke arah jalan raya.
"Sayang kok gitu ngomong," ujar Alrez menoleh ke istrinya yang tak melihat ke arahnya balik.
"Makan seblak kalau ga pedas mana enak Mas, mending gak usah makan aja sekalian," sungut Serra kesal suaminya tak mengerti.
"Perasaan tetap enak kok sayang, meskipun gak pedas," ucap Alrez berusaha membujuk istrinya.
"Itu menurut Mas, kalau aku ya gak enak makan gak pedas, rasanya kaya aneh makan tanpa cabe," balas Serra.
"Makasih suamiku sayang," ucap Serra merangkul lengan Alrez serta mengecup pipi suaminya.
Alrez pun juga merasa bahagia karena mendapatkan ucapan terimakasih dengan kecupan, walaupun cuman di pipi tapi itu sudah cukup membuatnya berbunga-bunga.
****
Dalam mansion Alkavero, kedua pasangan suami istri tengah ribut. Dimana Rachel tak sengaja melihat Arka tengah memandangi foto Serra di layar ponsel lelaki itu.
Rachel langsung merampas ponsel Arka dan menyembunyikan tangan dibelakang punggungnya.
"Kamu apa-apaan sih, kembalikan ponsel gue," bentak Arka, tidak membuat Rachel gentar sendikitpun.
"Kapan sih Ka? Kamu bisa move on dari Serra, gak bisakah kamu sedikit saja ngelirik aku, aku ini istrimu dan beberapa hari lagi kita bakal jadi orang tua," ujar Rachel.
"Tolong berhenti mikirin istri orang Arka! Serra udah bahagia sama uncle Alrez, mereka juga bentar lagi mau jadi orang tua. Kalau sampai uncle Alrez tau kamu mandangi foto istrinya, aku yakin uncle Alrez pasti ngamuk dan bakal ngelakuin sesuatu ke kamu," sambung Rachel memperingatkan suaminya supaya move on dari sahabatnya. Rachel mengerti betapa sulitnya melupakan cinta pertama, tapi dia harap Arka bisa melakukannya.
__ADS_1
"Gue gak perduli mau uncle ngamuk, gue gak takut. Lihat aja nanti Serra bakal jadi milik gue lagi," kata Arka tidak ada rasa takut sedikitpun.
"Sini balikin ponsel gue," pinta Arka baik-baik, namun Rachel tetap tak memberikan.
"Ponsel kamu aku sita," ujar Rachel beraninya.
"Mulai kurang ajar ya lo sama gue, cepat balikin. Jangan sampe gue berbuat kasar sama lo," ancam Arka.
Ketika Rachel hendak berbalik pergi keluar dari kamar, Arka menahan lengan Rachel. Hingga tubuh wanita itu menghadap kearahnya. Arka berusaha merebut ponsel dari Rachel, tetapi Rachel mencoba menjauhkan ponsel Arka dengan menggunakan tangan satunya.
Arka yang tidak bisa menahan emosi, tanpa sengaja mendorong Rachel hingga perutnya terbentur nakas samping tempat tidur, membuat Rachel mengaduh kesakitkan, ditambah perutnya tiba-tiba saja kontraksi.
"Ashh perut aku Ka sakittt, tolong Ka bawa aku ke rumah sakit hiks," tangis Rachel pecah karena tidak kuat menahan sakit.
"Tenang Chel!" ucap Arka.
Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Arka, karena saking paniknya melihat darah mengalir di paha Rachel yang menggunakan dress khusus ibu hamil.
"Ayo cepat Ka, sakitt hiks."
"Sabar Chel."
Arka mengebut bawa mobil, sebab Rachel meminta cepat.
"Ka aku gak tahan lagi." Suara Rachel melemah, matanya juga mulai terpejam.
"Chel tetap buka mata lo pleasee jangan tutup," ucap Arka, namun sayang Rachel yang lelah menutup matanya.
"Rachel gue pastiin lo bakal baik-baik aja," ucap Arka tetap fokus pada jalanan.
Sesampainya dirumah sakit Arka menggendong Rachel membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
Perawat yang melihat Arka, lantas mendorong brankar. Rachel lalu dibaringkan Arka di brankar, kemudian dia juga ikut mendorong brankar Rachel menuju UGD.
Salah satu perawat menghalangi langkah Arka yang ingin ikut masuk ke dalam.
"Pak, silahkan tunggu di luar saja. Biar dokter yang menangani istri anda."
__ADS_1
...****************...