YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 43


__ADS_3

Arlez benar-benar tidak bisa fokus bekerja, komputer didepannya ia biarkan saja layarnya tetap menyala. Pikiran pria itu saat ini tertuju pada seseorang siapalagi kalau buka Serra Alifiana, gadis manis yang mampu membuat hati Ceo dingin bergetar setiap kali mengingat wajah cantik gadis tersebut.


Handphone diatas meja kerja berdering. Arlez mengangkat telpon dari Iqbal bodyguardnya yang diminta untuk selalu mengawasi pujaan hatinya.


“Tuan saya melihat nona Serra sedang dihukum berdiri dilapangan dengan menghormat ke bendera...” lapor Iqbal yang tengah berdiri jauh dari tempat Serra.


“Suruh guru yang berani menghukum Serra temui saya diruang kepala sekolah di jam pulang sekolah.”perintah Arlez lalu mengakhiri telponnya.


“Berani sekali dia menghukum gadisku, tidak akan ku biarkan begitu saja,” geram Arlez mendengar gadisnya tengah dihukum.


Kemudian pintu ruangan Arlez terbuka, terlihat laki-laki paruh baya memasuki ruangan Arlez.


Melihat siapa orang yang datang memasuki ruangannya tanpa mengetuk pintu, lantas membuat Arlez berdiri ketika tahu orang yang datang adalah papanya yaitu Damareno.


“Ada kepentingan apa papa kemari? Tidak biasanya papa ke kantor aku,” ujar Arlez bertanya menatap sang papa yang duduk menyilang kaki.


Damareno belum bicara dan malah menepuk sofa panjang yang didudukinya, meminta putra agar mendekat padanya.


Arlez menuruti permintaan papa dan mengambil duduk di dekat sang papa.


“Papa mau kau membawa calon istri mu secepatnya kenalkan pada kami. Jika tidak kamu akan papa jodohkan dengan anak rekan bisnis papa.”


Wajah Arlez yang semula santai berubah kaku. Mendengar perkataan papanya yang sangat tumben membahas calon istri.

__ADS_1


“Jika papa datang ke kantor ku hanya untuk membahas itu sebaik tidak usah kemari,” ketus Arlez bernada dingin.


“Aku sudah dewasa pa, aku bisa mencari pasangan ku sendiri yang aku cintai dan mencintaiku. Tak perlu menjodohkan ku segala,” sambungnya..


“Kamu maunya apa Rez? Usia mu sebentar lagi 31 tahun, papa kira ini sudah saatnya kamu menikah. Jangan sampai Arka mendahului mu punya anak, kau baru menikah Rez...”


‘Tidak akan ku biarkan itu terjadi. Serra ku hanya boleh mengandung anak-anak ku.’ Batin Alrez..


“Itu tidak akan pernah terjadi pa..”


“Mengapa kau yakin sekali Rez? Arka sudah menikah, kemungkinan besar sebentar lagi mereka akan memiliki anak,” tukas papa Reno menatap putranya bertanya.


‘Karena akulah yang akan menghamili Serra dan merebutnya dari Arka suami yang tidak bisa tegas dengan pendiriannya.’ Lagi-lagi Alrez membatin.


“Hemm, papa lihat saja nanti,” balas Alrez.


“Dalam tiga bulan ke depan kau belum juga membawa calon istri mu, mengenalkan pada papa. Siapkan dirimu, papa akan menjodohkan, papa tidak menerima penolakan ataupun bantahan. Ini bukan permintaan tapi perintah,” telak Reno berkata tegas, lalu keluar tanpa mau mendengar balasan putranya yang baru saja ingin bicara.


Crazy! Alrez mengacak rambutnya semakin kesal mendengar perkataan papa sebelum keluar dari ruangannya.


Tok tok tok... pintu ruangan Arlez diketuk dari luar. Angga mencoba membuka pintunya yang tidak dikunci.


“Ada apa Angga?” Tanya Arlez yang telah duduk kembali di kursi kebesarannya.

__ADS_1


“Begini tuan besok kita ada meeting dengan perusahaan Benedicto. Tetapi yang akan meeting bersama kita, menggantikan tuan Dicto adalah putrinya yaitu nona Luciana.”


“Gimana tuan, apakah anda bersedia untuk meeting besok pagi di restoran yang sudah di reservasi oleh perusahaan Benedicto?” Tukas Angga bertanya pada bossnya sebelum mengambil keputusan.


Sebenarnya meeting bisa dibatalkan, toh perusahaan Eldrick’s corp juga tidak akan dirugikan. Tetapi keputusan ini kembali lagi pada Arlez.


“Hemm, kita akan meeting besok,” putus Alrez


Setelah mendengar keputusan bossnya, Angga segera melangkah keluar dari ruangan Ceo. Belum lagi tangan sempat memegang gagang pintu, suara Alrez menghentikan.


“Oh ya Angga tunggu sebentar!” Seru Alrez.


“Hari ini saya akan pulang cepat. Kamu handle pekerjaan di kantor,” lanjutnya..


“Memang tuan mau kemana?” Mulut Angga benar-benar tidak bisa di kontrol, menanyakan sesuatu yang tidak harus diketahuinya.


“Kau tak perlu tahu Angga, urus saja pekerjaan kau dengan baik. Satu lagi jangan coba mencari tahu kemana saya pergi.” Alrez mengingatkan asisstennya.


Alrez tahu bagaimana sifat asisstennya itu. Karena Angga sudah bekerja sangat lama padanya.


...****************...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.

__ADS_1


Yuk follow ig author : @dianti2609


Terimakasih


__ADS_2