
“Ka kamu tenang aja, aku jamin warung ini tempatnya bersih dan bakso juga higenis. Bukan cuma itu, baksonya juga super enak banget, sahabat aku Rachel sama Nabila aja suka makan disini.”
“Iya aku percaya. Ayo kita cari tempat duduk sebelum penuh.”
Arka merangkul Serra, keduanya masuk bersama dan mencari tempat paling pojok, dekat kipas angin. Setelah Serra menyebutkan pesanan mereka tak berapa pesanan mereka datang.
“Cobain dulu kuahnya,” pinta Serra.
Arka menurut dan langsung mencoba kuahnya, matanya seketika melebar saat merasakan kuah dari bakso tersebut.
“Gimana enak ga?”
“Sumpah yank, ini enak banget.”
“Siapa dulu aku gitu loh.” Serra menunjuk dirinya dengan bangganya berucap.
“Arka ayo turun,” ajak Rachel.
Namun Arka masih diam, tenggelam dalam lamunannya, mengingat masa-masa saat dia masih berpacaran dengan Serra.
“Arka!” Rachel memukul bahu.
Barulah Arka sadar dari lamunannya.
“Arka kita pulang aja, aku tahu kamu pasti malas kan turun. Daripada aku makan sendirian di dalam sana, lebih baik engga usah aja. Lain kali aja kesini laginya,” ucap Rachel menyembunyikan kesedihannya.
“Siapa bilang aku malas! Ayo turun bersama, aku engga mau sampai ngeliat anak aku ileran pas lahir,” ujar Arka membuka pintu mobilnya dan turun.
Dengan perasaan hati yang senang, Rachel lekas turun juga dari mobil dan mengikuti Arka masuk ke dalam warung bakso. Setelah pesanan mereka diantar, keduanya langsung menikmati bakso.
“Kamu mau nambah lagi ka, serius?”
“Serius dong sayang, bakso enak sih jadi aku ketagihan.”
__ADS_1
“Ternyata apa yang dikatakan Ibu ku benar, kalau orang pertama kali makan bakso disini dan ngerasain baksonya seenak ini. Pasti bakalan nambah lagi dan sekarang terbukti sama kamu yang minta nambah lagi.”
Arka tersenyum-senyum mengingat kebersamaannya dulu dengan Serra. Semantara Rachel menatap Arka keheranan, bagaimana tidak heran. Arka selalu tersenyum, tapi bukan kearahnya melainkan seperti tengah mengingat sesuatu. Entahlah Rachel juga tidak tahu.
“Ka, aku perhatiin sedari di warung bakso tadi kamu selalu senyum. Apa ada sesuatu yang lucu?” Ujar Rachel bertanya. Saat ini mereka sudah berada dalam mobil melanjutkan perjalanan pulang.
“Tidak ada yang lucu! Memang salah kalau aku senyum senyum,” balas Arka
Rachel menggeleng kepala, “Aku malah senang liat kamu ceria gini.”
“Hem.” Arka berdehem menjawabnya.
Lima belas menit kemudian akhirnya mobil berhenti di halaman rumah Rachel.
“Mau mampir dulu,” ucap Rachel menawari Arka untuk masuk ke rumahnya.
“Aku masih ada urusan.” Arka langsung menjalankan kembali mobil keluar dari komplek perumahan Rachel.
...•••...
Kepala Alrez rasanya ingin meledak. Mama dan papanya terus mendesak dirinya membawa seorang wanita ke rumah dan memperkenal pada mereka.
Apalagi ini belum waktu yang tepat melamar gadisnya. Alrez akan melamar gadisnya saat usai pernikahan Arka dan Rachel. Kenapa ia harus menunggu? Padahalkan bisa saja ia melamar gadisnya sekarang. Karena dirinya tidak ingin terburu-buru mengambil sebuah tindakan, jadi ia harus merencanakan semua dengan matang.
“Permis tuan! Saya ingin memberitahukan bahwa hari anda ada meeting dengan perusahaan Lesham Corp. Jam satu siang di restoran,” tutur Angga mengingatkan Alrez tentang meeting bersama perusahaan Lesham Corp.
Alrez melirik alroji di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul setengah satu siang.
“Angga kita berangkat sekarang saja. Saya tak ingin telat lagi dan kehilangan rekan bisnis seperti pak Avrian,” ujar Alrez lekas mengambil berkas yang akan di perlukannya. Berkas yang diambilnya ia serahkan ke Angga agar assistennya saja yang membawakannya.
“Dasar boss pemalas, gini aja harus saya yang bawa. Huhh! Menyebalkan sekali, untung boss, kalau bukan udah saya amuk,” gerutu Angga.
“Angga cepatlah kemari, atau kau mau tetap berada diruangan ku saja. Lalu gaji ku potong.” Terdengar suara bariton membahana di luar ruangan.
__ADS_1
“Siap tidak tuan.” Angga bergegas menyamai langkah Alrez.
Setelah selesai meeting, mereka berempat mengobrol ringan seputar pembahasan sehari-hari. Avrian melontarkan sebuah pertanyaan kepada Alrez.
“Pak Alrez apa sudah menikah?” Tanya Avrian.
Wajah Alrez seketika berubah tegang, “Hm, saya belum menikah pak Avrian.” Jawabnya sopan.
“Saya kira anda sudah menikah pak Alrez. Maaf jika pertanyaan saya membuat anda tersinggung,” ucap Avrian.
“Tidak sama sekali pak,” balas Alrez.
“Andai anak perempuan saya tinggal bersama saya. Pasti saya akan menjodohkan dengan anda,” kata Avrian serius, tapi disangka bercandaan oleh Alrez.
“Hati saya sudah milik orang lain pak. Saya hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melamarnya,” ungkap Alrez.
“Baguslah kalau begitu pak Alrez. Jika anda menikah nanti, jangan lupa mengundang saya,” ujar Avrian.
“Pasti pak, anda akan saya undang sebagai tamu VIP,” ucap Alrez.
Padahal mereka duduk berempat, tapi yang keliatan banyak bicara hanya Alrez dan Avrian semantara Angga dan Lorenzo hanya diam mendengarkan kedua orang yang tengah akrab mengobrol. Sudah seperti menantu dan mertua saja.
“Tuan Alrez kayaknya lebih nyaman ngobrol dengan pak Avrian dibanding sama tuan Reno dan nyonya Alia bahkan tuan Alka pun sama. Mereka baru dua kali bertemu tapi sudah sangat akrab satu sama lain. Saya merasa senang kalau ngeliat tuan Alrez tidak datar dan dingin seperti biasanya. Seolah-olah sifatnya pergi entah kemana, mungkin ini karena tuan bahagia Serra akhirnya bisa dia dapatkan. Aku selalu mendoakan tuan agar selalu diberi kebahagian dan cepat bersatu bersama Serra.” Batin Angga mendoakan kebaikan untuk bossnya.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
__ADS_1
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓