
Jam sekarang sudah menunjukkan pukul 4.15 pagi, Serra terbangun karena dering jam weker dengan kuatnya menggema di kamar hotel, di iringi suara adzan yang berbunyi di ponselnya.
Serra mengerjapkan matanya supaya perlahan bisa terbuka sempurna. Saat ingin bangun Serra merasa berat di perut, ketika menunduk barulah ia sadar akan tangan kekar masih melingkar posesif di pinggang dan dadanya, ia menggeliat kecil melakukan perenggangan agar bisa melepas diri dari suaminya.
"Jika tidur seperti ini wajah mu sungguh terlihat sangat manis mas. Ku harap kamu tidak seperti dia, aku ingin pernikahan ini adalah yang terakhir bagiku," tutur Serra membelai wajah tampan suaminya dan mengusap alis tebalnya.
Setelah puas memandangnya, Serra beranjak dari ranjang. Baru saja kakinya akan menginjak lantai, suara serak khas bangun tidur mengagetkan dirinya, hingga membuat ia menoleh kebelakang mendapati suaminya yang telah bangun dan bersandar di kepala ranjang.
"Mau kemana hem?"
"Yaampun mas kamu bikin kaget aja," omel Serra. "Ini mas aku mandi bersih, terus lanjut mau sholat subuh," lanjutnya.
"Kenapa mas gak dibangunin sayang," ujar Alrez.
"Tadi rencana setelah selesai mandi baru mau bangunin, biar aku bisa mandi dengan tenang. Kalau bareng mas mandinya gak cukup 15 menit, pasti selesainya setengah jam atau engga satu sampai dua jam. Waktu sholah subuh bakalan habis di kamar mandi aja," tukas Serra panjang lebar sembari menantap suaminya yang malah terkekeh.
"Sekarang malah pikiran kamu yang mesum." Alrez mencondongkan tubuhnya ke depan dekat pada istrinya, tangan kiri sebagai tumpuan dan tangan kanan digunakan menjawil hidung sang istri kecilnya.
"Ayo sekarang kita mandi bareng, mas janji kita hanya mandi tidak ada aktivitas lainnya. Lagian mas ngerti kamu kelelahan dan butuh istirahat."
Serra mengangguk. Alrez turun dari ranjang dan menggendong Serra masuk ke dalam kamar mandi. Seperti yang dikatakan Alrez sebelumnya bahwa mereka hanya akan mandi saja. Selesai mandi dan berpakaian, Serra lebih dulu berwudhu lalu menyiapkan alat sholat, disusul Alrez yang juga sudah berwudhu. Mereka melaksanakan kewajiban sebagai umat muslin yaitu menjalankan sholat.
__ADS_1
Serra mencium tangan Alrez mengakhiri sholat mereka. Alrez tiba-tiba merasakan gejolak tak enak di perutnya, sampai menutup mulutnya dan langsung berlari ke kamar mandi tanpa sepatah katapun.
"Mas kamu kenapa." Serra dengan cepat melepas mukena dan buru-buru menyusul Alrez ke kamar mandi.
"Hoek..." Alrez memuntahkan isi di dalam perutnya, sampai yang keluar tinggal cairan bening.
"Sayang jangan mendekat ini sangat menjijikan." Alrez mengangkat tangan kirinya meminta agar istrinya berhenti.
Serra yang tak perduli tetap berjalan mendekati suaminya, ia membantu mengurut tengkuk suaminya.
"Sayang-"
"Sudah selesai mas," sela Serra.
"Perut kamu aku urut ya, biar enakan. Abis itu aku bikinin teh hangat." Serra lantas mengambil minyak kayu putih yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Ia menumpahkan sedikit ke perut Alrez, mengurut pelan.
Serra pergi ke pantry memasak air untuk menyeduh teh. Usai membuatnya ia langsung membawa teh tersebut kepada suaminya dan membantu meminumkannya.
"Gimana perutnya udah agak enakan belum?" tanya Serra masih tersimpan ke khawatiran terhadap suaminya.
"Lumayan sayang! Makasih," ucap Alrez menggengam tangan istrinya, membawa ke bibirnya dan menciumnya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau gitu, aku sempat takut ngeliat mas muntah-muntah tadi. Karena tumben banget, biasanya mas gak pernah muntah, apalagi badan mas gak panas terus gak sakit juga," kata Serra.
"Mas juga gak tau sayang, tiba-tiba perut ngerasa gak enak aja dan pengen muntah," balas Alrez.
"Kalau gini kita ga jadi aja ya mas keluar ketemu teman kamu, di telpon aja teman mas biar aku yang jelasin alasan kita gak bisa ketemuan," ujar Serra menyuruh agar Alrez menghubungi orang yang akan mereka temui hari ini.
"Jangan sayang, mas gak enak batalin janji temunya. Palingan entar siang mas udah agak enakan kok, jadi kita bisa tetap ketemuan sama teman mas sayang," balas Alrez tak ingin pertemuan ini di batalkan.
"Terserah mas! Tapi kalau sampai nanti siang mas masing sakit, jangan di paksain ketemuannya, biar kita batalin aja, oke! Gimana mas setuju?"
"Siap sayang." Jawab Alrez, lalu menggeser badannya agar istrinya bisa berbaring bersamanya.
...****************...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1