
Singapura,
Aiden terbang ke Singapura tanpa persiapan, bahkan lelaki itu tidak membawa pakaian hanya membawa diri saja. Sebelum berangkat ke bandara, Aiden menghubungi Rafael agar memesankan dua tiket pesawat untuk mereka berdua.
Aiden membawa Rafael agar bisa membantu mencari dimana Alrez membawa kembaran dan Ibunya menginap.
Sekarang pesawat Aiden telah tiba di bandara. Aiden bersama Rafael turun dari pesawat, keluar bandara. Rafael telah menyiapkan segalanya, dari mobil jemputan, hotel, serta pakaian mereka berdua.
“Kau yakin mereka menginap disini?” Tanya Aiden memastikan.
“Benar tuan, mereka menginap disini. Cuma sepertinya mereka sedang berada di rumah sakit sekarang menemani Ibu Rida melakukan operasi mata,” ujar Rafael.
"Mending kita langsung ke rumah sakit saja, saya mau melihat keadaan Ibu," kata Aiden.
"Tuan menurut saya, kita tak usah menemuinya sekarang. Demi kesehatan Ibu Rida dan kebaikan nona Serra, lebih baik kita mencari waktu yang tepat untuk menemui mereka. Sambil kita juga berpikir cara membuat nona Serra menerima anda sebagai kakak kembar dan keluarga yang lainnya. Intinya disini kita pantau mereka dari kejauhan saja, saya juga telah memerintahkan mata mata untuk memgawasi di rumah sakit," jelas Rafael memberikan saran agar Aiden tak bertindak gegabah, yang malah menimbulkan kekacauan nantinya. Maklum saja Aiden jauh lebih muda dari Rafael.
"Kau benar Raf! Saya harus memikirian sebuah cara meluluhkan hati adikku. Saya tak ingin berpisah lagi dari mereka, sudah cukup selama ini saya dibohongi papa kandung saya sendiri. Mereka tega sekali membuat Ibu kandungku terluka, sampai kami harus terpisah sedari kecil. Dimana seharusnya sedari kecil kami hidup bersama, saling melindungi dan berbagi kebahagiaan." Aiden rasanya ingin menangis sekarang, tapi air matanya tak mampu mengalir dihadapan Rafael. Jika yang sekarang bersamanya adalah Serra ataupun Ibunya, pasti air matanya sudah mengalir deras didepan kedua perempuan kesayangannya.
Rafael menepuk bahu Aiden, menguatkan bossnya. "Sabar! Badai permasalahan dalam keluarga tuan, sebentar lagi akan berlalu. Keluarga kalian akan bersatu dan utuh kembali, kebahagian akan menghampirinya."
"Aamiin.. Saya juga berharap ini cepat terselesaikan dan keinginan saya tinggal bersama Ibu dan adikku segera tercapai," ungkap Aiden dilubuk hati terdalamnya, selama ini selalu memimpikan bertemu mereka dan tinggal bersama dalam satu atap.
"Pasti tuan, sebentar lagi.." kata Rafael tersenyum.
__ADS_1
...•••...
Satu minggu kemudian perban mata pasca operasi akan dilepaskan oleh dokter. Nampak hawa menegang diruangan sangat ketara dirasakan oleh Serra dan Alrez, bahkan Ibu Rida sendiri juga ikut menegang.
Perlahan suster yang sebagai assisten dokter membantu melepaskan perban pada mata Ibu Rida. Setelah perban terlepas, mata Ibu Rida tetap terpejam, menunggu intruksi dari dokter.
"Silahkan buka mata anda, lakukan dengan pelan saja," ujar dokter menyuruhnya.
Ibu Rida membuka pelan pelan kedua matanya. Ketika telah terbuka sempurna tatapan matanya mengarah pada Serra dan Alrez.
"Fhia anak Ibu," panggil Ibu Rida.
"Alhamdulillah Ibu, akhirnya..." Tangis Serra pecah, lantas mendekati ranjang memeluk Ibunya.
"Kamu nak Alrez kan! Yang selama ini selalu berada disamping Fhia, menemani dan melindunginya," ujar Ibu Rida ketika melihat wajah pria yang berdiri tak jauh dari dokter.
Serra mengurai pelukannya ketika mendengar suara Ibunya menyebut nama Alrez.
"Kemari nak, Ibu ingin memegang wajah mu." Rida meminta Alrez mendekat.
Alrez melangkah maju mendekari ranjang. Telapak tangan Ibu Rida merangkum wajah Alrez, dan memeluknya.
"Terimakasih banyak telah membantu kami selama ini nak. Kami terlalu banyak berhutang budi padamu," ucap Ibu Rida sembari menangis mengingat kebaikan Alrez padanya dan putrinya.
__ADS_1
"Ibu sudah saya anggap kayak Ibu sendiri. Semua hal menyangkut Ibu dan Serra akan menjadi urusan saya juga. Jadi jangan sungkan meminta pertolongan ke saya," kata Alrez.
"Kamu masih ingatkan perkataan Ibu kemarin. Ibu telah memberikan restu untuk kalian berdua, hanya saja Ibu tidak bisa memaksanya Fhia harus menerima mu nak Alrez. Sebab Fhia sendiri sudah dewasa menentukan pasangan hidupnya, Ibu berharap kamulah yang menjadi pasangan Fhia nantinya, jika kalian berjodoh." Tutur Ibu Rida.
Serra malah salah tingkah sendiri, untuk menyembunyikan rona merah diwajahnya Serra memilih memandang ke arah lain, agar orang yang berada di dalam ruangan tidak ada yang menyadarinya.
Semantara diluar kamar rawat Aiden menyaksikan Ibu kandungnya sekarang bisa melihat lagi membuat ikut turut bahagia. Walaupun Aiden tidak bisa mendengarkan percakapan orang-orang di dalam, karena kamar rawat tersebut kedap suara. Merasakan kebahagian terpancar dari kedua kesayangannya, sudah cukup bagi Aiden.
^^^"Tuan adalah orang baik, anda berhak bahagia bersama dua orang yang selama ini anda rindukan. Saya sendiri yang akan memastikan kalian akan bahagia bersama nantinya." batin Rafael hatinya ikut tersentuh melihat tatapan bossnya yang cuma bisa mengintip dari celah kaca pintu.^^^
...****************...
...Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!...
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓
__ADS_1