
Ting tong...
Suara bel berbunyi membuat Alrez yang bersantai di sofa apartement dengan laptop di pangkuannya segera meletakkan laptop di atas meja. Lalu berjalan membukakan pintu.
“Kalian masuklah.” Alrez berjalan ke dalam diikuti dengan Arka dan Serra.
“Duduklah!” Seru Alrez mempersilahkannya.
“Eung, begini uncle. Aku mau minta izin istriku menginap semantara waktu di apartement uncle, apakah boleh?” Ujar Arka bertanya.
Alrez belum memberikan jawaban, mata memandang keduanya bergantian.
Arka yang mengerti arti tatapan unclenya, kembali bicara untuk menjelaskannya.
“Aku akan menceritakan yang sebenarnya uncle,” ucap Arka.
“Itu tidak perlu Arka, uncle tahu bahwa pernikahan kalian ini disembunyikan dari publik,” ucap Alrez.
Pernyataan Alrez membuat kedua pasangan suami istri itu tampak kaget. Pasalnya Alrez tak hadir di pernikahan ataupun diskusi sebelum pernikahan. Tetapi Alrez mengetahuinya saja.
“Astaga! Darimana pria mesum ini mengetahuinya, apa dia memata-matai kami.” Batin Serra kesal.
“Darimana uncle tahu?” Tanya Arka.
“Itu tidak penting Arka. Uncle mengizinkan istrimu menginap disini, tetapi disini hanya ada satu kamar. Kamar satu uncle pakai untuk ruang kerja, tidak usah khawatir istri mu bisa menempati kamar uncle. Uncle juga akan jarang berada di apartement,” tukas Alrez.
Serra tersenyum tipis, dalam hati gadis itu sangat bersyukur jika pria mesum itu jarang berada di apartement.
“Aku tahu sekarang gadis ku pasti senang mendengar aku yang akan jarang berada di apartement. Itu semua hanya tipuan sayang, aku akan sangat betah berada di apartement apalagi ada kehadiran kamu disini.” Ucap Alrez dalam hati.
“Syukurlah kalau begitu uncle, aku bisa lebih lega,” kata Arka merangkul istrinya dan mencium didepan Alrez.
“Dasar cari kesempatan saja, lihat saja istrimu nanti akan menjadi milikku seutuhnya. Aku akan membuatnya mencintaiku seperti aku yang mencintainya.” Tekad Alrez berucap dalam hati.
“Ekhem!” Dehem Alrez menghentikan kemesraan keduanya.
“Maaf uncle,” kata Arka.
__ADS_1
“Apa kau akan menginapa disini juga Arka?” Tanya Alrez.
“Iya aku akan menginap disini uncle, apa boleh?”
“Tidak masalah, aku mengizinkannya,” ucap Alrez bertentangan dengan hatinya yang berharap agar Arka pulang saja.
Tiba-tiba handphone Arka berbunyi. Arka melihat nama orang yang menelponnya adalah Alkavero papanya.
“Sebentar sayang aku akan mengangkat telpon papa dulu. Kamu bicara saja dengan uncle.”
Arka menjauh dari sofa untuk mengangkat telpon dari papanya. Sedangkan di sofa Alrez menatap Serra memuja, bahkan menyunggingkan senyumannya.
“Kamu senangkan bisa tinggal bersama ku,” kata Arlez pelan agar Arka tak mendengar.
“Apa maksud uncle? Aku tidak mengerti,” bales Serra malas ingin menanggapinya.
“Kamu senang bisa bersama ku disini, lihat suami mu malah membiarkan mu menginap di apartementu ku,” ucap Alrez.
“Dengar uncle, ini tidak seperti yang uncle pikirkan. Semua ini hanya terpaksa, aku sudah menolaknya. Tapi kami tidak ada cara lain selain harus menginap di tempat uncle,” ujar Serra.
“Cukup unc-“ Serra tak melanjutkan perkataannya saat melihat Arka berjalan kearah mereka.
“Apa semua baik?” Tanya Arka menyadari istrinya seperti tegang.
Serra tersenyum palsu, “Iya semua baik ka...”
“Sayang sepertinya aku tak bisa menginap, papa memintaku pulang untuk makan malam bersama. Aku tidak bisa menolaknya, papa meminta berkumpul,” jelas Arka.
“Pergilah ka, aku tidak papa kok. Kamu tenang saja aku baik,” ucap Serra memahaminya.
“Uncle apa papa juga menghubungi mu, tadi papa bilang di mansion ada opa dan oma juga,” beritahu Arka pada unclenya.
“Iya uncle juga akan kesana, kamu duluan saja. Uncle masih mau mengerjakan pekerjaan kantor yang belum selesai,” ujar Alrez.
“Sayang kalau ada yang kamu butuhkan, hubungi saja aku.” Arka berpesan dan mencium kening istrinya.
Kini tinggal Alrez dan Serra yang masih duduk di sofa berdiam-diam tak ada pembicaraan seperti tadi.
__ADS_1
“Saya tahu kamu capek, istirahatlah di kamar. Nanti pulang dari mansion saya akan membelikan mu makanan.”
“Tak usah repot uncle, aku bisa memasak jika aku lapar.”
Serra bangkit dan segera menaiki anak tangga menuju lantai dua. Serra menaruh kopernya disamping ranjang. Lalu membuka kopernya mengambil piyama. Setelah itu masuk ke dalam kamar mandi membersihkan diri.
Selesai memakai skincare wajah dan handbody. Serra naik ke ranjang dan berbaring, mata sebenarnya belum mengantuk tetapi ia sangat malas turun ke bawah dan bertemu uncle Alrez.
‘Kreek’ Serra mendengar suara pintu kamar di buka, gadis itu pura-pura memejamkan mata.
“Cepat sekali dia tidur, apa dia kelelahan,” gumam Alrez melepaskan pakaiannya memasukan ke dalam keranjang pakaian kotor.
Kaki melangkah masuk kamar mandi membersihkan diri. Barulah Serra membuka matanya, ketika mendengar gemericik air.
“Huhh! Syukulah uncle tidak menyadari jika aku hanya berpura-pura saja.”
15 menit kemudian, Alrez keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit bagian pinggang sampai sebatas lutut. Pria itu masuk walk-in closet memakai pakaian santai.
Alrez duduk di tepian ranjang mengelus pipi lembut Serra. Matian-matian Serra bertahan dengan kepura-puraannya.
“Aku senang kamu bersama ku sekarang,” kata Alrez pelan.
Bibir Alrez mendarat mencium kening Serra. Lalu beranjak keluar dari kamar.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓
__ADS_1