
Di sebuah salon seorang gadis tengah dirias oleh ownernya langsung. Alrez sendiri yang memerintahkan, tentu saja Serra sama sekali tak mengetahuinya. Selesai di make-up owner meminta pegawainya menemani Serra berganti pakaian dengan gaun pilihan Alrez yang telah diantar dari dua jam yang lalu.
"Mari nona kami bantu memakaikan gaunnya," ucap perias mulai membantu Serra mengenakan gaun tersebut.
Kini gaunnya telah terpasang ditubuh Serra. Mata Serra sedari tadi menatap pantulannya di cermin, bibir tidak berhenti tersenyum. Baru kali ini Serra merasa ingin tetap berdiri di depan cermin, memandang wajah dan penampilan terus-menerus tanpa ada kata bosan. Bagaimana mau bosan? Make-upnya sungguh memuaskan, ditambah dengan gaun yang melekat ditubuh sehingga menjadi perpaduan yang pas dan menarik.
"Eum nona maaf saya mengganggu, nyonya Hilya memanggil anda," kata pegawai yang membantu Serra berganti pakaian.
"Baik kak, saya akan menemui oma sekarang," balas Serra melangkah keluar dari kamar ganti.
"Oma maaf aku agak lama di kamar ganti," ucap Serra.
"Engga papa sayang, oma tadi menyuruh pegawai memanggil mu, takutnya kamu kenapa-napa di dalam kamar ganti, abis kamu lama banget di dalam, oma jadinya khawatir," terang Oma Hilya.
Serra tersenyum dan mencium Oma Hilya, "Aku baik-baik aja oma sayang! Opa dimana oma?" tanyanya.
"Opa menunggu dibawah sayang, yuk sekarang kita kebawah temui opa dan orang yang kamu rindukan," ujar Oma Hilya yang malah menimbulkan rasa penasaran dari cucunya.
"Orang yang aku rindukan! Siapa oma?" tanya Serra.
"Udah kita kebawah aja dulu sayang, nanti juga kamu tau siapa yang oma maksud," kata Oma Hilya santai.
__ADS_1
Kedua perempuan berbeda usia melangkah masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai satu, dibawah telah ada Opa Haidzar dan orang yang dirindukan Serra selama belibur di bali.
"Ibu, abang," seru Serra kaget melihat Rida dan Aiden duduk bersama Opa Haidzar.
"Masyaallah putri Ibu cantik sekali," ucap Ibu Rida seraya berdiri, dia tak menghampiri Serra untuk memeluknya, takut akan merusak riasan putrinya.
"Ternyata yang oma maksud Ibu dan abang," ucap Serra menatap Oma Hilya yang memberikan anggukan.
"Ibu sama abang juga ikut ke pesta?" tanya Serra yang ditujukan pada Rida dan Aiden.
"Iya princess, abang sama Ibu dikabari Opa. Diminta agar ikut ke acara pesta ini, makanya abang dan Ibu langsung pesan tiket pesawat penerbangan ke Bali saat Opa menelepon abang," jelas Aiden.
Serra menunggu satu orang untuk menjelaskan, sampai dua menit kemudian keempat orang tetap bungkam tidak ada yang mau memberitahunya.
"Kalau gini aku jadi malas ikut pergi ke pesta, daripada gak ada yang mau ngasih tau aku, pesta siapa yang mau dihadiri? Mending aku pulang ke villa aja," cetus Serra sembari menghempaskan pantatnya ke sofa dan melipat tangannya.
Keempat terkejut mendengar perkataan Serra. Bahkan mereka berempat saling menantap dan mengkode masing-masing. Jika sampai Serra tidak datang makan acara pesta pertunangan akan gagal. Mana mungkin bisa dibiarkan!
"Princess!" Terdengar suara Opa Haidzar memanggil Serra.
"lya opa," jawab Serra santai.
__ADS_1
"Dengerin opa ya sayang, kalau princess mau tau pesta siapa yang mau kita hadiri. Berarti princess harus ikut datang kesana biar princess bisa tau sendiri, yang pasti orangnya adalah rekan bisnis papa mu," jelas Opa Haidzar, tidak berbohong tentang orang yang punya pesta. Alrez memang rekan bisnis Avrian.
"Opa benar! Kalau aku tidak ikut, gimana mau tau siapa yang punya pesta. Maaf opa, oma, ibu, abang, aku sempat ngomong gak mau ikut," tutur Serra.
"Sudah engga papa sayang," ucap Oma Hilya.
"Lebih baik kita berangkat sekarang, takutnya malah telat. Nanti jadi gak enak sama rekan bisnis papa." Pungkas Aiden angkat bicara.
Mereka lekas memasuki satu mobil, dengan Aiden yang menyetir. Sedangkan satu mobil lagi beisi bodyguard yang mengikuti dari belakang.
...****************...
...To be continue. . ....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1