YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 22


__ADS_3

Serra berjalan menuju kulkas untuk melihat-lihat bahan-bahan yang dibutuhkan untuk memasak nasi goreng udang ada atau tidak. Ternyata masih ada udang.


“Apa udangnya masih ada?” Serra terlonjak kaget suara Arlez tepat ditelinganya.


“Masih ada... Uncle bisa munduran nggak,” ujar Serra menyuruh Arlez mundur, karena dia mau berbalik susah, jarak tubuh Arlez sangat dekat dengan dia.


Arlez yang paham, segera mundur memberi ruang untuk Serra.


“Jadi saya bantuin apa?” Tanya Arlez pada Serra yang tengah mengambil beras untuk mencucinya.


“Uncle bisa kupas bawang?” Tanya Serra balik menoleh pada Arlez bingung mau melakukan apa.


Arlez mengangguk tak pasti. Ini pertama kali seorang Arlez membantu memasak di dapur dengan gadis yang menjadi istri keponakannya dan baru beberapa hari dikenalnya. Gadis pertama yang duduk di mobil mercy kesayangan, gadis pertama yang dibawanya ke apartemen dan gadis pertama yang pernah berada dalam gendongannya. Dia adalah Serra Alifiana istri keponakannya yang bernama Arkananta Xander.


Sebelum mencuci beras Serra mengambilkan beberapa bawang putih dan merah. Meletakan bawang tersebut di hadapan Arlez. Setelah itu Serra melanjutkan mencuci berasnya.


Baru dua siung bawang merah yang di kupas, mata Arlez sudah berair perih.


“Mata saya kok jadi perih sekali ya,” ucap Arlez panik, sampai tangan yang memegang bawang dikucek ke matanya.


“Uncle matanya jangan kucek,” pekik Serra berteriak sampai kedengaran di ruang tamu. Angga yang kaget langsung berlari ke dapur.


Angga melihat bossnya tengah dibantu gadis remaja itu mencuci tangan. Bukannya kembali ke ruang tamu, Angga malah tetap berdiri dan melihat kedua orang yang berada dapur tampak mesra. Walaupun Angga tidak tahu siapa sebenarnya gadis yang disamping bossnya itu. Tetapi Angga sangat yakin bahwa gadis itu membawa perubahan besar bagi bossnya. Mungkin saja perkataan dokter Dimas akan terbukti menjadi kenyataan. Merasa telah lama berdiri ditempatnya, Angga segera kembali ke ruang tamu sebelum ketahuan sedang mengintip keduanya.


Serra mengelap mata Arlez menggunakan tisu yang sudah ia basahi setengahnya untuk membersihkan mata Arlez akibat bekas bawang yang menempel karena sempat dikucek pakai tangannya.


“Uncle coba buka matanya,” pinta Serra, Arlez perlahan membuka matanya.


“Masih perih,” kata Arlez dengan mata kembali terpejam.


Serra kembali mencoba mengurangi perih di mata Arlez dengan meniup mata pria itu sambil berjinjit agar sampai.


“Uncle bisa nunduk, aku capek jinjit uncle ketinggian,” ucap Serra.


Pria itu mensejajarkan wajahnya dengan gadis yang tinggi hanya sampai dadanya. Lagi-lagi Serra meniup mata Arlez, membuat pria itu merasakan hembusan angin dari nafas gadis dihadapannya.


‘Cup’ Arlez mencari kesempatan dalam kesempitan, memberikan kecupan di bibir Serra.

__ADS_1


“Terimakasih, mata saya sudah lumayan,” ucap Arlez tepat dibibir Serra.


Tubuh Serra mematung, gadis itu belum tersadar apa yang telah dilakukan pria dihadapannya.


“Bibir kamu manis, saya menyukainya..”


“Un-uncle jahat! Aku ini istri keponakan uncle, apa pantas uncle memperlakukan aku layaknya seperti gadis gampangan yang mudah di sentuh laki-laki yang bukan mahramnya,” isak Serra, tangannya tak tinggal diam memukul dada bidang Arlez.


Kini Arlez dibuat tertegun oleh perkataan Serra. Karena tidak bisa menahan diri saat berdekatan dengan gadis di hadapannya membuat pria itu gampang terbawa suasana.


“Maafkan saya Serra...” Arlez mencoba ingin menghapus air mata Serra tapi gadis itu lebih dulu menghapus air matanya sendiri.


“Uncle bisakah kita seperti orang biasa saja. Seperti uncle dan keponakan, tolong ingat aku sebagai istrinya Arka keponakan uncle. Jangan jadikan kedekatan kita dan kepolosan ku membuat uncle mudah memanfaatkan situasi dan keadaan,” tutur Serra menatap medalam sorot mata Arlez yang tajam.


“Ya saya tidak akan mengulanginya,” ucap Arlez. Pria itu tidak bisa mengatakan janji, karena mulutnya tak bisa mengucapkan kata-kata itu.


“Aku berharap uncle bisa melakukannya,” ucap Serra penuh harapan.


“Sebaiknya uncle duduk dimeja makan saja. Biarkan aku memasak sendiri,” tukas Serra bicara enggan menatap orangnya.


Tanpa sepatah katapun Arlez berjalan meninggalkan dapur. Bukannya duduk di meja makan, pria itu melangkah ke ruang tamu dan menghempaskan pantatnya di sofa panjang.


“Arka maafkan aku!” Isaknya sambil mengatakan maaf pada suaminya.


Serra merasa agak lega setelah menangis. Gadis itu kembali melanjutkan acara memasak nasi goreng udang yang tadi dikatakan pada Arlez. Nasi yang di masaknya telah matang. Siap untuk di buat menjadi nasi goreng, walaupun sebenarnya ia merasa malas untuk melanjutkan acara memasaknya akibat kejadian tadi. Tapi mengingat Arlez yang kelaperan membuatnya mengurungkan niat malasnya dan berusaha konsen dalam memasak nasi goreng udang, agar rasanya tetap enak dan Arlez bisa menikmati makanan tersebut.


Nasi goreng udang buatan Serra telah matang. Angga yang berada di ruang tamu bisa mencium aroma sedap masakan tersebut. Seketika perut lelaki itu menjadi laper.


Serra menghidangkan dua piring nasi goreng udang di atas meja makan. Tak lupa dengan gelas berisi air putih. Serra tidak langsung ke ruang tamu untuk memanggil kedua lelaki yang tengah duduk. Melainkan Serra menuju dapur kembali membersihkan alat-alat masak yang di gunakannya tadi. Beres semua yang dilakukannya, barulah Serra melangkah ke ruang tamu memanggil kedua lelaki tersebut untuk makan.


“Uncle nasi gorengnya sudah matang dan sudah aku siapkan di meja makan. Eung, uncle boleh mengajak teman uncle, karna tadi aku menyiapkan dua nasi goreng,” kata Serra memberitahu dengan canggung..


“Hemm..” dehem Arlez menjawabnya dingin.


“Uncle aku izin ke ke kamar untuk istirahat, bolehkah?” Tanya Serra ragu meminta izin untuk beristirahat di kamar Arlez.


“Ya, istirahatlah. Minum obat mu sebelum tidur,” ucap Arlez mengingatkan Serra.

__ADS_1


Serra mengangguk, lalu segera menaiki tangga untuk beristirahat. Tangan membuka pintu kamar, dilihatnya kamar sudah bersih.


“Siapa yang membersihkan kamar ini? Seingatku tadi kamar ini berantakan sekali karena ulah ku,” pikirnya.


“Mungkin saja uncle Arlez memanggil petugas kebersihan untuk membersihkan..” gumannya.


Serra mengambil kresek yang berisi obat, lalu meminum salah satu obat. Untunglah di dalam kamar ada gelas berisi air putih yang masih penuh. Jadi tidak membuatnya harus turun kebawah mengambil air dan bertemu uncle Arlez.


Usai meminum obat Serra tak langsung berbaring tetapi memilih untuk duduk dan membuka ponselnya ternyata ada chat whatsapp masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Serra yang penasaran membuka chat tersebut.


+628575116xxxx


Ra lo baik-baik aja kan?


“Nomor siapa ya? Kok ni orang kenal sama aku. Mending aku bales dulu aja kalinya..” Serra mengetikan sesuatu membalas chat nomor tidak dikenal tersebut


+628575116xxxx


^^^Kamu siapa?^^^


Gua Aldo, ra


^^^Oh Aldo, aku kira siapa. Aku baik kok Al. Al dapat nomor aku darimana?^^^


Syukurlah kalau lo baik-baik aja gue tenang jadinya. Gue dapat nomor lo dari Nabilla. Bolehkan kalau gue save dan chat lo?


^^^Boleh Al. Udah dulu ya aku mau istirahat.^^^


Oke ra.. good night😘


Serra melihat chat terakhir Aldo tanpa membalasnya. Ia merasa geli sendiri melihat emoticon yang disematkan Aldo di chatnya.


Serra menarus handphonenya di meja nakas, gadis itu lalu berbaring memejamkan mata. Beberapa menit kemudian dia sudah benar-benar tertidur diiringi dengkuran kecil.


***


Bersambung. . .

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakt kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609


__ADS_2