
Hoek! Hoek!
Rachel sudah beberapa kali bolak balik kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Rachel merasa sangat lemah saat ini, tenaga telah terkuras habis.
Ketika akan keluar dari kamar mandi Rachel berpegang pada tembok, kepalanya tiba-tiba berdenyut pusing. Sebelum pandangannya buram dan hilang kesadaran terjatuh pingsan depan pintu kamar mandi yang masih terbuka. Rachel sempat mengingat apa yang terjadi padanya satu bulan yang lalu bersama cowo yang dicintainya.
Di ruang tengah Ranti dan Syahreza tengah bersantai. Ranti sedari tadi tampak heran tidak melihat Rachel turun, biasanya putrinya akan bersantai juga bersama menikmati hari libur sebelum perkuliahan di mulai.
“Pah! Mama ke kamar liat Rachel, tumbenan banget dia belum turun. Perasaan mama juga tiba tiba aja gak enak,” ungkap Ranti. Sehabis sarapan tadi pagi Rachel langsung masuk kamar dan sampai sore ini belum keluar juga turun kebawah.
“Iya mah, biar papa nunggu di sini,” balas Syahreza.
Ranti bergegas menaiki tangga menuju lantai atas. Ranti langsung membuka pintu kamar putrinya yang kebetulan tidak di kunci.
“Rachel sayang kamu dimana nak!” Seru Ranti sembari terus berjalan menyusuri kamar luas milik putrinya.
Mata Ranti melebar saat melihat Rachel tergeletak pingsan tepat depan pintu kamar mandi.
“Astagfirullah, nak kamu kenapa. Bangun sayang!” Ranti mencoba menepuk pelan pipi putrinya, tapi tetap tidak bangun.
“Papa! Cepat naik lantai atas sekarang.” Teriak Ranti kepanikan memanggil nama suaminya. Memerintah agar segera menghampirinya.
Syahreza menghentikan aktivitasnya yang tengah membaca koran dan berlari terburu-buru menaiki tangga mendatangi sang istri yang meneriakinya.
“Mama mengapa menangis? Ada apa mah?” Cecar Syareza bertanya.
Ranti lantas menarik tangan suaminya membawa masuk ke dalam kamar, tanpa berkata apapun.
“Astagfirullah! Rachel... Apa yang terjadi mah?” Syahreza begitu sama terkejut melihat putrinya pingsan.
“Mama juga enggak tahu pah,” jawab Ranti.
“Yasudah mah, sebaiknya kita ke rumah sakit saja sekarang. Mama panggil mamang suruh siapin mobil papa.”
Syahreza menggendong putrinya. Sedangkan Ranti lebih dulu turun kebawah memanggil mamang meminta menyiapkan mobil.
“Non Rachel kenapa bu?” Tanya mamang melihat nonanya digendong oleh tuan Syahreza.
“Kami juga belum tau mang. Maka ini kami membawa ke rumah sakit,” jawab Ranti cepat dan segera menyusul suaminya.
“Yaallah semoga nona baik baik saja,” ucap mamang berdoa. Mamang menganggap Rachel sudah seperti putrinya sendiri, ia bahkan sangat menyayangi anak majikannya tersebut. Karna Rachel sudah di jaga olehnya sejak mulai sekolah dasar.
__ADS_1
Rumah sakit.
Rachel berbaring di ranjang rumah sakit dengan infus terpasang di tangan kirinya. Wajahnya keliatan sangat pucat sekali.
Syahreza lantas berdiri berhadapan dengan dokter. Setelah melihat dokter selesai melakukan pemeriksaan pada putrinya.
“Bagaimana dok keadaan putri saya?” Tanya Syahreza, bahkan Ranti juga berada di samping suaminya ingin mengetahui hasil pemeriksaan putrinya.
“Selamat sebentar lagi Ibu dan bapak akan menjadi kakek dan nenek. Karena anak bapak dan Ibu tengah hamil!” Dokter malah memberikan selamat pada Syahreza dan Ranti.
“Tidak mungkin dok! Hasil pemeriksaan anda pasti salah. Asal anda tahu putri saya belum menikah, jadi mana mungkin hamil,” tukas Syahreza menatap tajam dokter.
“Iya dok suaminya benar, pasti hasil pemeriksaan anda salah,” ujar Ranti ikut-ikutan menyalahkan dokter.
“Begini saja pak, saya akan minta dokter kandungan ke ruangan ini sekarang untuk melakukan pemeriksaan ulang pada pasien.”
Dokter lantas bergegas keluar menuju ruangan salah satu temannya yang seorang dokter kandungan dan membawa segera ke kamar pasien yang barusan di periksa.
“Dokter Sindi saya minta tolong anda agar melakukan pemeriksaan ulang,” ujar dokter Dimas yang tadi memeriksa Rachel.
Dokter Sindi mengangguk dan segera melakukan pemeriksaan. Sebelum membawa dokter Sindi ke kamar rawat ini, dokter Dimas telah menjelaskan perihal maksud dari meminta melakukan pemeriksaan ulang pada seorang perempuan yang terbaring lemah dengan wajah pucat.
“Hasil pemeriksaan dokter Dimas sepenuhnya adalah benar pak bu. Putri kalian memang tengah hamil, putri anda pingsan karena mengalami morning sickness,” jelas dokter Sindi.
“Dokter Dimas kami minta maaf sempat tak mempercayai anda. Dan untuk dokter Sindi terimakasih sudah mau melakukan pemeriksaan ulang,” ucap Ranti pada kedua orang dokter di hadapan sekarang.
“Tidak papa bu,” balas dokter Dimas tersenyum.
“Ada lagi yang mau Ibu tanyakan,” ucap dokter Sindi.
Ranti menggelengkan kepala, bahwa penjelasan dari dokter sudah cukup untuk sekarang ini.
“Yasudah Ibu kalau tidak ada lagi yang mau di tanyaka, kami pamit dulu,” ujar dokter Sindi seraya melangkah keluar bersama dokter Dimas rekannya.
Beberapa menit kepergian kedua dokter tersebut dari kamar rawat Rachel. Jari-jemari Rachel bergerak bersamaan dengan terbukanya mata gadis itu. Ia melihat sekeliling ruangan yang berwarna putih dan sadar dimana sekarang ia tengah berada.
“Mama Papa!” Seru Rachel melihat mama yang duduk di sofa bersama papanya.
Syahreza memang hanya sebentar saja keluar dan kembali lagi membawa air minum untuk istrinya.
Mendengar suara putrinya. Syahreza lantas bangkit dari duduk mendekati ranjang putrinya.
__ADS_1
“Siapa ayah anak mu?” Tanya Syahreza datar dan dingin.
“Anak! Maksud papa apa, aku gak ngerti,” balas Rachel masih bingung dan tak paham.
“Jangan pura-pura tidak mengerti Rachel Ananda Putri! Sekali lagi papa tanya, dengan siapa kamu melakukan hubungan badan hah?” Bentak Syahreza marah, emosinya mulai mengusai dirinya.
“Pa tenang! Jangan membuat putri kita ketakukan.” Ranti mengusap lengan suaminya, lalu mendekati putrinya yang menangis akibat bentakan suaminya.
“Jawab saja nak pertanyaan papa mu. Katakan saja siapa ayah dari bayi mu. Kita akan mendatangi untuk meminta pertanggung jawabannya,” ucap Ranti lembut.
Rachel menatap mamanya dan memberikan gelengan masih tidak paham juga.
“RACHEL!!!” Berang Syahreza berteriak.
“Papa stop berteriak! Ingat kita lagi di rumah sakit”Pinta Ranti sembari mengingatkan suaminya keberadaan mereka.
“Nak, dokter kandungan memeriksa dan hasilnya positif menyatakan bahwa kamu tengah hamil. Jadi kami ingin tahu siapa ayah dari bayi mu,” jelas Ranti.
Barulah Rachel paham maksud dari pertanyaan papanya.
“Arkananta Xander! Dia ayah bayiku pa.”
Setelah Rachel menjawabnya. Syahreza lekas pergi meninggalkan kamar rawat. Syahreza akan mendatangi kediaman Alkavero Xander sekarang juga.
“Pa! Papa mau kemana?!” Rachel memanggil papanya.
“Ma, papa pasti mau datangi Arka. Ayo kita susul ma, aku engga mau sampai papa mukulin Arka.”
“Sayang keadaan mu masih lemah, biar mama saja yang susul papa.”
“Enggak ma, aku harus ikut.”
Rachel mencabut infusnya dan bangun dari ranjang rumah sakit. Ranti tidak bisa mencegahnya lagi, terpaksa ia membantu putrinya.
Kedua berada dalam taksi yang diberhentikan oleh Ranti. Mereka menyusul Syareza yang telah duluan kesana.
...****************...
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejakt kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
__ADS_1
Yuk follow ig author : @dianti2609