
"Ibu, yuk kita sarapan. Aku sudah masak makanan kesukaan Ibu," ujar Serra mengajak Ibunya sarapan bersama, sebelum ia membuka warung.
"Kamu duluan saja makannya nak, Ibu gampang entaran aja," jawab Rida baring membelakangi Serra. Rida mati-matian menahan tenggorokkannya agar tidak mengeluarkan batuk depan putrinya.
"Uhuk, uhuuk." Rida akhirnya batuk juga.
"Ibu sakit?! Yaallah Ibu badannya panas banget. Ibu bangun dulu, aku gantiin pakaian Ibu, kita harus ke rumah sakit sekarang." Serra panik dan juga khawatir.
Tanpa membuang waktu Serra langsung mengambil pakaian Ibunya di dalam lemari. Lalu menggantikan pakaian Ibunya dengan yang baru, tak lupa dengan hijabnya sekalian.
"Fhia kita hendak kemana nak? Kamu mau bawa Ibu kemama," cecar Rida dengan pertanyaan-pertanyaan, walaupun sebenarnya tubuh lemah sekali rasanya ingin limbung kalau tidak dipapah oleh putrinya.
"Kita harus ke rumah sakit bu, keadaan Ibu gak memungkinkan untuk dirawat dirumah," ucap Serra.
Kini mereka telah tiba dijalan raya, dari kejauhan Serra melihat ada sebuah angkot. Serra melambaikan tangannya untuk menghentikan angkot tersebut, ketika sudah berhenti, Ibu dan anak lantas segera masuk ke dalam angkot dimana ada beberapa penumpang lainnya.
"Kemana neng?"
"Puskesmas dekat sini pak," jawab Serra.
Sepuluh menitan mereka sampai di puskesmas, saat bersiap menyeberangi jalan. Serra lupa ngeliat kanan kiri, di arah kanan mereka ada sebuah mobil yang tengah melaju. Serra memeluk Ibunya seerat-eratnya.
CKIITT
Orang yang berada dalam mobil menginjak rem dengan menekan kuat. Orang yang berada di kursi penumpang belakang mengelus dada.
__ADS_1
"Pak Avri ada yang terluka?" tanya Lorenzo khawatir dan menoleh kebelakang melihat keadaan bossnya.
"Tidak, saya baik-baik saja," jawab Avrian menenangkan jatung yang sempat berdebar kencang.
"Bapak tunggu disini, biar saya yang keluar," ujar Lorenzo menyuruh bossnya agar tetap berada dalam mobil.
Lorenzo sang assisten Avrian segera turun dari dalam mobil, tetapi Avrian juga ikut turun ingin melihat siapa orang yang telah membuat assistennya mengere, mendadak.
"Mbak kalau menyeberang perhatikan kanan kiri, untung saya cepat nginjak remnya. Kalau tidak mbak sama Ibunya bisa celaka," ucap Lorenzo bernada datar.
"Maaf pak, saya benar benar enggak tahu kalau dari arah kanan ada mobil anda sedang melaju kencang. Sekali saya minta maaf," ucap Serra sopan dan ramah dengan kepala menundui tak berani menatap lelak bertubuh tinggi dan besar didepannya.
"Nak kepala Ibu pusing banget, Uhuk uhuuk.." Rida bersuara lemah, diiring batuk.
"Serra!" Seru Avrian memanggil gadis yang dikenal saat diacara pernikahan kemaren.
"Suara itu! Tidak itu enggak mungkin dia. Kumohon jangan dia ya tuhan, kami sudah tujuh belas tahu tak bertemu, aku tak menginginkan bertemu dengan lagi. Sesungguhnya rasa sakit atas semua kebohongan masih aku pendam, tidak bisa memaafkan maupun melupakannya. Cukup jangan pertemukan lagi, biarkan aku bahagia bersama putri ku." batin Rida berdoa dan berharap suara yang didengarnya bukanlah orang yang amat dicintai di masalalu.
"Loh pak Avrian," kaget Serra ketika menoleh dan mendapati rekan bisnis uncle Alrez berdiri disamping lelaki yang tak ingin ditatapnya sedari tadi. Karena merasa takut, sekaligus merasa bersalah.
"Ya allah mengapa engkau pertemukan lagi aku dengan dirinya. Apa tak bisa aku hidup tenang bersama putriku saja." batin Rida ingin berteriak rasanya ketika putrinya menyebut nama pria yang dibencinya. Mati-matian Rida menahan sesak dalam hatinya dan tangis air matanya.
"Ternyata kamu yang hampir saja kami tabrak. Kamu baik-baik saja kan nak, tidak ada yang terluka kan." Avrian mendekat memegang kedua bahu Serra memeriksa keadaan gadis tersebut. Semantara Rida menunduk agar mantan suaminya tidak mengenalinya.
Serra tersenyum, "Aku tidak apa-apa pak, begitupun dengan Ibuku. Kami baik-baik saja," ucapnya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, saya takut kamu dan Ibu kenapa-napa." Avrian memperhatikan wanita di samping Serra yang hanya menunduk tak mau melihat kearahnya.
"Apa aku semenyeramkan itu untuk dilihat," batin Avrian tersenyum tipis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh ya, saya bantu menyeberangkan. Kamu pasti mau ke puskesmas diseberang sana kan," tebak Avrian.
Serra mengangguk, Avrian lekas membantu menyeberangkan kedua perempuan tersebut. Sedangkan Lorenzo masuk ke dalam mobil, mengemudikannya membawa kearah pinggir jalan agar tidak menghalangi kendaraan yang lain berlalu lalang.
"Eum makasih pak, telah membantu kami menyeberang," kata Serra.
Avrian membalasnya dengan anggukan, "Yasudah saya pamit dulu." ucapnya segera masuk ke dalam mobil dan meluncur ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓
__ADS_1