
Rida mengusap kepala putrinya penuh kasih sayang. Awal pertama kali Rida tahu bahwa Serra berpacaran dengan Arka, Rida sempat tidak menyetujui hubungan keduanya. Arka terlalu sempurna untuk putrinya.
“Ibu enggak mau kamu mengalami hal yang sama seperti ibu nak,” ucapnya dalam hati, menahan rasa sesak didadanya mengingat masalalunya.
Rida mengingat tentang dua minggu yang lalu Arka melamar putrinya dan datang ke kontrakan sendirian tanpa membawa siapapun bersamanya. Rida langsung menolak dengan baik lamaran anak muda itu dan mengatakan jika benar-benar serius melamar putrinya. Rida meminta anak muda itu membawa kedua orangtuanya untuk ikut serta datang melamar putrinya.
Arka menyanggupi permintaannya, anak muda itu kembali datang membawa kedua orangtuanya. Saat itulah Rida tak bisa menolak lagi lamaran anak muda itu, apalagi putrinya menerima lamaran anak muda itu karena memang keduanya saling mencintai. Rida sangat tahu bahwa orangtua Arka seperti terpaksa datang ke kontrakan kumuh mereka, tetapi Rida tetap berpikir positif. Mungkin keluarga Arka adalah orang yang berada, makanya keduanya merasa tak nyaman berada dilingkungan mereka.
Serra bangun dari tiduran paha ibunya, kalau kepalanya terus saja diusap seperti ini maka dirinya akan tertidur nantinya. Serra melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 16:00 sore.
“Mau pulang sekarang nak?” Serra menjawab dengan anggukan.
“Sebentar ibu panasin sotonya dulu ya. Kamu mau kan menunggu nak,” ujar Rida.
“Iya bu.. Ini aku baru mau telpon Arka, bu..”
Serra mengambil handphone dalam tasnya, menelpon Arka. Berdering tetapi tidak diangkat, berulang kali Serra menelpon tetap tidak diangkat. Akhirnya Serra memutuskan untuk mengechat Arka.
My Husband
Ka aku udah mau pulang, kamu jadikan jemput ke rumah ibu..
Serra menggenggam handphonenya menunggu balasan dari Arka. Tetapi hampir setengah jam belum mendapat balasan juga.
“Belum ada balasan dari nak Arka?” Serra menggelengkan kepalanya.
“Bu, sepertinya aku pulang naik angkot saja. Enggak enak sama orang mansion jam segini aku belum disana,” ujar Serra.
“Tidak mau menunggu nak Arka saja?” Tanya Rida.
“Enggak ibu, kayaknya Arka masih latihan basket sama teman-temannya,” ucap Serra. Dia tahu ini adalah lomba terakhir Arka di basket, siswa kelas XII tak diperbolehkan lagi mengikuti eskul, karna sebentar lagi akan ada bimbel dan banyak ujian.
“Mau ibu antar sampai kedepan gang,” ujar Rida menawarkan untuk mengantar putrinya sampai depan gang.
“Biar aku sendiri saja bu, mending ibu istirahat saja. Aku enggak mau ibu sampai jatuh sakit.”
Rida tersenyum pada putrinya yang perhatian dengannya. “Kamu hati-hati dijalan, kalau udah sampai hubungi ibu, agar ibu tahu dan tidak khawatir.” Pesannya
“Aku pamit ya bu, assalamualaikum,” ucap Serra menyalami tangan ibunya.
“Waalaikumsalam,” jawab Rida.
.
__ADS_1
.
Serra sudah sampai depan gang, menunggu angkot lewat. Serra melambaikan tangannya ketika ada angkot lewat, Serra masuk kedalam angkot. Dipertengahan jalan angkot yang ditumpangi berhenti mendadak.
“Maaf neng angkot bapak mogok. Kalau nunggu nanti lama, saran bapak ada baiknya neng cari angkot lain,” ujar bapak sopir angkot memberitahunya.
“Iya pak, saya cari angkot lain saja. Ini pak ongkosnya.” Serra menyerahkan uang pada bapak angkot, bukannya diterima bapak angkot malah menolaknya.
“Tidak usah bayar neng, karna bapak tak mengantar sampai ke alamat.” Tolaknya.
“Tak masalah pak, ambil saja uangnya. Bapak juga sudah mengantar setengah jalan,” ucap Serra menyerahkan uangnya kembali, bapak angkot akhirnya menerimanya.
“Baiklah uangnya bapak terima, terimakasih ya neng,” kata bapak angkot.
“Sama sama pak.” Balasnya.
“Neng mau bapak cariin angkot saja,” tawar bapak angkot ingin mencarikannya angkot.
“Enggak usah pak biar saya jalan mencari sendiri saja.” Tolaknya, Serra segera berjalan untuk mencari angkot. Tetapi tidak ada satupun angkot yang lewat dan jalan yang dilewatinya sangat sepi. Serra jadi merinding takut, padahal hari masih terang tetapi gadis itu merasa ketakutan.
“Sendirian aja neng!” Seru seorang dibelakangnya, berjalan mendekati padanya.
Serra menoleh kebelakang ketika ada orang yang bicara, ternyata ada tiga laki-laki berperawakan seperti preman. Serra berjalan cepat untuk menghidari ketiga laki-laki yang masih mendekatinya.
Serra semakin ketakutan karna jalan dilewatinya sama sekali tak ada orang untuk dimintainya tolong.
“Disini sepi neng, tidak akan ada orang yang lewat.” Preman itu kembali bicara saat mengetahui Serra seperti mencari pertolongan.
Tiba-tiba salah satu merangkul bahunya dan berjalan beriringan disebelahnya. Serra yang kaget dengan cepat melepaskan tangan preman dibahunya.
“Oh engga mau dirangkul bahunya, maunya abang rangkul dipinggang ya neng.” Preman itu dengan berani mencolek dagunya.
“Lepasin, jangan macam-macam atau saya teriak.” Serra berhenti menghempaskan tangan preman yang kurang ajar padanya.
“Gadis ini sok jual mahal sekali.” Ketiga preman mengikutinya kini sudah berada dihadapannya dan menatapnya.
“Jangan mendekat, tolong jangan ganggu saya. Saya tidak punya barang mewah untuk kalian ambil,” ucap Serra ketakutkan.
Ketiga preman itu malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi gadis dihadapan mereka.
“Siapa bilang kami ingin mengambil barang mu, tujuan kami ingin menikmati mu gadis manis,” ucap salah satu ingin mencolek dagu Serra dengan refleks dia mundur kebelakang.
“Wah berani sekali gadis ini menghindari boss. Ayo bos kita sikat tidak perlu berlama-lama.”
__ADS_1
Kedua preman memgangi tangan Serra, paper bag yang berisi soto jatuh kebawah, tetapi sotonya tidak tumpah sama sekali. Saat boss preman ingin menciumnya Serra membrontak dan berteriak sekeras mungkin dan kebetulan ada satu mobil lewat.
“TOLOOONNNG!!!”
Mobil yang melintas mengerem mendadak dan keluar langsung mengajar ketiga preman.
BUG!
BUG!
BUG!
“Bajingan berani sekali kalian ingin menyetuhnya,” umpat pria yang menghajar ketiga preman yang hampir memperkosanya.
Lutut Serra melemas dan jatuh terduduk. Pertama kalinya bagi Serra melihat perkelahian depan matanya sendiri. Serra ketakutkan melihat seorang pria sangat bruntal menghajar ketiga preman itu.
Ketiga preman itu terkapar tak berdaya dengan bersimbah darah. Serra mundur agak menjauh, takut melihatnya.
Setelah puas meghajar ketiga preman itu sampai tak berdaya lagi. Pria itu mengelap keringat didahinya. Mata tajam menatap sang gadis yang hampir diperkosa sedikit menjauh jaraknya.
“Kau takut?” Tanyanya.
Serra mengangguk dan menunduk menyembunyikan wajah ketakutannya.
“Sudah tak usah takut lagi, preman itu sudah saya habisi. Masuklah ke dalam mobil saya.” Perintahnya.
Bukan bergerak berjalan ke mobil, Serra malah tetap berdiri ditempat. Kaki Serra sangat susah untuk melangkah ke mobil.
“Apa kau masih ingin berada disini dan diperkosa oleh komplotan preman lainnya.” Serra menggeleng kepalanya..
“Cepat masuk mobil atau saya tinggal.” Pungkasnya yang sudah berada dikursi kemudi.
Serra berjalan cepat masuk ke dalam mobil pria yang menyelamatkan dari tiga preman tersebut.
“Pasang seatbelt mu!” Serra memasangnya tetapi kesusahan karena tangan masih bergetar.
Pria disebelahnya menghela nafas, tanpa bertanya lagi untuk meminta persetujuan. Pria itu langsung memasangkan seatbelt untuk gadis disampingnya. Lalu menjalankan mobilnya menjauhi tempat tadi.
****
Bersambung. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
__ADS_1
Yuk follow ig author : @dianti2609