YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 154.


__ADS_3

"Mas Alrez, makasih sudah hadir dalam hidup Serra. Walaupun dipertemuan pertama kita kurang baik. Kamu pria pemaksa, apapun kemauan mu harus diturutin, tapi bodohnya aku selalu kalah setiap ngebantah omongan kamu. Aku mencintai mu Mas Alrez, lelaki dewasa yang mampu mengimbangi ku. Kamu pria baik dan pantas dicintai, aku mencintai mu suamiku. Semoga Mas Alrez adalah cinta terakhir ku dan pernikahan kita bakal langgeng sampai maut memisahkan kita berdua."


Serra berkata panjang lebar dengan suara pelan supaya tak membangunkan Alrez yang sedang tidur pulas. Tengah malam Alrez kebangun dan muntah-muntah, sampai semua makanan yang dimakan keluar. Alrez juga baru bisa kembali terlelap jam 3 dini hari, itupun Serra harus pasrah dadanya kebas oleh Alrez yang manja minta susu langsung dari pabriknya.


Bahkan sekarang pun suaminya itu tidak melepaskan dadanya hingga Serra harus mengurungkan niat untuk ke dapur. Serra melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul 06:30 pagi. Serra tak bisa membiarkan kegiatan suaminya terus berlanjut, bisa-bisa dadanya bisa bengkak.


"Mas, bangun yuk! Sudah pagi loh," ujar Serra menepuk-nepuk pipi suaminya.


"Eungh, masih ngantuk sayang," balas Alrez serak, dengan manjanya pria itu malah mendusel-duselkan wajah ke dada istrinya.


Serra mencubit lengan suaminya, bukannya kesakitan Alrez menyeringai usil, Alrez membelitkan kakinya, menjadikan Serra guling empuk.


"Mas, ayolah bangun! Hari ini kita mau kerumah mama kamu, gak enak kalau telat udah janji," kata Serra berusaha sabar menghadapi kemanjaan Alrez dalam tiga hari ini. Selama tiga hari Serra terkurung disangkar emas kediaman mereka, ia sama sekali tidak diperbolehkan keluar rumah oleh Alrez. Tidak hanya itu, kemanapun Serra melangkah Alrez dengan setia mengekori seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.


"Pengin dirumah aja sayang, batalin aja kerumah mama. Disana pasti ada Arka, mas gak suka kalau kamu ketemu Arka, apalagi dekat-dekat." Cemburu Alrez dimulai lagi, membuat Serra jengah dengan kadar kecemburuan Alrez yang meningkat saat ini.


"Aku udah lupain Arka, Mas. Sekarang aku cuma anggap dia sebagai keponakan, karena aku istri kamu, unclenya. Aku ingin berdamai sama masalalu, aku berusaha buat lupain semuanya. Aku akan kuat selama Mas tetap berada disisiku," ungkap Serra agar suaminya bisa menghilangkan rasa cemburu yang berlebihan.


"Mas percaya kamu tidak lagi mencintai Arka, tapi tidak dengan keponakan sialan ku itu, dia pasti masih menyimpan banyak cinta untuk mu dan mencari celah agar bisa dekat-dekat sama kamu," ujar Alrez masih nyaman dalam posisinya.


"Terserah Mas, mau mikir kaya gimana. Intinya aku mau ke rumah mama, Mas ikut atau gak terserah." Serra dengan paksa melepaskan diri dari belitan Alrez.


"Sayang kamu marah?" Tanya Alrez sedikit berteriak, namun tidak dihiraukan Serra yang memilih masuk kamar mandi.


Alrez beranjak menyusul istrinya ke kamar mandi, tetapi pintu kamar mandi telah dikunci Serra dari dalam. Tiba-tiba saja Alrez merasak perutnya diaduk-aduk, Alrez menutup mulutnya ingin muntah.


"Sayang buka pintunya, Mas mau muntah," seru Alrez.


Serra yang mendengar tidak tega langsung membukakan pintu, meskipun dirinya dalam keadaan polos tanpa pakaian. Alrez lantas menuju toilet dan muntah-muntah lagi, anehnya yang keluar hanya cairan bening saja.


Hueekk... Hueeek...


Sedangkan Serra mengurut tengkuk Alrez, air mata Serra mengalir begitu saja tanpa diminta. Serra benar-benar kasian melihat suaminya selalu muntah dipagi sama malam hari.

__ADS_1


"Mas, gimana sebelum ke rumah mama, kita mampir ke rumah sakit dulu. Buat periksa keadaan kamu, aku khawatir takutnya muntah-muntah seperti ini berbahaya, apalagi ini sudah tiga hari berturut-turut kamu terus aja muntah. Mau ya, jangan nolak. Demi kesehatan kamu juga Mas," bujuk Serra berharap kali ini tidak mendapat penolakan lagi dari suaminya yang susah diperiksa, perkara takut disuntik.


"Enggak sayang, Mas baik-baik saja. Paling nanti siang Mas sehat kaya biasanya, Mas cuma muntah diwaktu-waktu tertentu saja, pasti ini cuma masuk angin biasa, udah ya gak usah khawatirin keadaan Mas. Sebaiknya kita segera mandi dan langsung ke rumah mama," ujar Alrez menolak bujukan istrinya.


"Kenapa sih susah banget ngajak kamu periksa, lagian dokternya gak bakalan suntik kamu juga," sungut Serra menatap kesal pada Alrez.


"Mandikan Mas sayang, Mas lemas banget rasanya mau gerak," kata Alrez mengalihkan pembicaraan, ia menutup toilet dan duduk anteng dengan tangan memeluk perut istrinya.


"Suamiku udah pinter ngalihin pembicaraan," tukas Serra sebal, namun urung membiarkan suaminya.


"Sayang ayo mandi," ulang Alrez.


Serra membuka kancing piyama Alrez berserta celananya. Akhirnya Serra harus memandikan Alrez lebih dulu jika ingin tenang saat mandi. Sekarang saja Alrez kembali mengusai dadanya.


"Selesai, bayi besarkan silahkan keluar. Sekarang giliran aku mandi."


Setelah Alrez benar-benar keluar dari kamar mandi, Serra mengunci pintunya dan membersihkan dirinya.


****


"Assalamu'alaikum." Serra mengucap salam.


"Waalaikumsalam Serra," balas Alia menyambut kedatangan menantunya dengan berpelukan.


"Gimana honeymoon kalian di Sydney?" Tanya mama Alia antusias ingin mendengarnya, sampai mama Alia menarik Serra membawa menantunya duduk di sofa ruang tamu, dimana seluruh keluarga Xander berkumpul semua.


"Alhamdulillah Serra senang banget bisa kesana bareng Mas Alrez," ucap Serra seadanya, karena wanita itu bingung mau bercerita dari mana.


"Baru pernah ngerasain jadi orang kaya sih, makanya agak kaku liburan ke luar negeri. Kasian banget Alrez dapat istri bekas Arka," sindir Olivina yang langsung mendapat teguran dari Nevano.


"Vina jaga bicara mu," tegur Nevano tak suka istrinya memancing emosi Alrez nantinya.


"Apaan sih Van, orang aku benar kok. Iya kan Mba Dev," ujar Olivina meminta persetujuan Devita.

__ADS_1


Devita hanya dapat mengangguk tanpa mengeluarkan suara, sebab Alka memelototi istrinya untuk tidak memperkeruh suasana.


Ketika Alrez hendak membalas perkataan Olivina. Paha Alrez dicengkaram Serra supaya tidak bicara.


"Oh iya mah, aku bawain oleh-oleh buka mamah dan semua orang disini," kata Serra.


"Mana nak, mama ingin melihatnya," ujar Alia.


"Bentar mah, aku telpon Iqbal untuk membawanya masuk." Alrez segera menelpon Iqbal dan memerintahkan sopirnya itu membawa masuk oleh-oleh yang telah istrinya atur.


"Semoga para kalian semua suka dengan oleh-oleh yang aku berikan ini," kata Serra mengulas senyum.


"Woah, ini banyak sekali Ra, makasih ya mba senang banget dapat oleh-oleh dari pengantin baru. Semoga kamu cepat isi ya, biar Malvin dan Carvin serta Lina dapat sepupu baru," ujar Firesa lantas mendoakan Serra yang sudah dia anggap seperti adik sendiri.


"Aamiin mba, Serra sama Mas Alrez juga gak sabar pengin jadi orang tua. Iyakan Mas," sahut Serra.


"Iya sayang, kita harus terus berdoa dan berusaha," kata Alrez memeluk istrinya tanpa malu mencium bibir istrinya depan semua orang bahkan Arka mengepalkan tangan melihat unclenya yang terlihat romantis. Sampai sekarang Arka belum bisa melupakan Serra, padahal dia sudah berusaha semampunya, namun tetap saja Serra menempati hatinya.


"Asem banget lo Rez main nyosor-nyosor aja, untuk anak-anak pada main," imbuh Nevano sebal melihat tingkah sepupu mesumnya, mentang-mentang baru menikah.


"Permisi, maaf menganggu nyonya. Makanan sudah terhidang semua dimeja makan." Lapor pelayan yang bekerja dikediaman Damareno Xander.


"Ya, kami akan segera ke meja makan," balas Alia.


Kini mereka telah memgambil tempat duduk masing-masing. Alrez duduk berdekatan dengan Serra dan disamping Serra kebetulan ada Rachel. Keberadaan Rachel disamping membuat Serra agak canggung, mereka belum saling menyapa sejak Rachel ketahuan hamil anak Arka yang waktu itu masih berstatus suaminya.


"Sayang Mas jadi mual banget cium bau sop iga, bisa gak dijauhin" ucap Alrez membekap mulutnya.


"Alrez kamu kenapa?" Tanya Reno menatap aneh putranya.


"Ini pah, Mas Alrez mual cium bau sop iga," jawab Serra menggantikan Alrez bicara.


Semua orang menatap Alrez dan Serra bergantian, setelah mendengar ucapan Serra. Alrez tak bisa menahan mual, pria itu lantas berdiri dari duduk dan berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


Hueeekk... Hueeekk..


__ADS_2