
Arlez tetap mencengkram pergelangan tangan Serra dan menyeret menuju dimana mobil BMW miliknya terparkir. Membuka pintu mobil dan mendorong Serra masuk, lalu menutup pintu kencang.
“Awssh,” rintih Serra ketika Arlez melepaskan cengkramannya.
Arlez masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan mengemudikan dengan kecepatan tinggi. Membuat gadis disebelahnya merasa ketakutan. Pria itu juga melupakan bahwa gadis disebelah belum mengenakan sabuk pengaman.
“Un-uncle bi-bisakah pe-pelan pelan saja membawa mobilnya,” ujar Serra terbata-bata.
“DIAM!! Saya tidak suka di perintah.” Bentak Arlez..
Serra menelan salivanya mendengar bentakan pria yang dipanggilnya uncle. Serra berteriak saat melihat mobil dari depan melaju kencang kearah mereka.
“Awaaaasss!!”
Braaakk!
Braaakk!
Arlez membanting setir ke kanan hingga menabrak pohon. Tidak terjadi apa-apa dengan Arlez, tetapi gadis disebelahnya pingsan akibat kepalanya membentur dashboard mobil sampai berdarah.
“Hei? Serra bangun...” Arlez menepuk pelan pipi gadis disebelahnya.
“Serra bertahan sayang...” Arlez sama sekali tak sadar mengatakan kata yang tidak harus keluar dari mulutnya.
Pria itu mengambil handphone di saku celananya, menghubungi asisstennya untuk segera menjemput ditempatnya kecelakaan.
“Halo tuan-“
“Angga jemput saya di daerah xxx... Cepat! Jika dalam waktu 10 menit kau tidak sampai, siap-siap menerima hukuman...”
__ADS_1
Tutt!
Telpon langsung dimatikan Arlez secara sepihak, tanpa menunggu jawaban orang yang diseberang sana.
“Boss sialan,” umpat Angga kesal pada bossnya.
Walaupun begitu Angga sangat setia bekerja pada Arlez. Karena boss adalah orang yang mengulurkan tangan membantu saat tertimpa suatu masalah besar sepuluh tahun yang lalu. Ya, usia Angga dan Arlez sama.
Mobil Alphard berwarna putih berhenti dekat Angga. Pria itu langsung masuk duduk di depan bersama sopir.
“Iqbal, kemudikan cepat mobil ini ke alamat xxx. Boss menunggu disana,” ujar Angga.
“Siap pak,” sahut Iqbal membawa mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Iqbal memang paling bisa diandalkan dalah menyetir mobil.
Tidak berselang lama, mobil Alphard sampai dimana lokasi sang boss besar berada. Angga yang mengenali mobil yang menabrak pohon langsung turun menghampirinya, begitu pun dengan Iqbal mengikutinya dari belakang.
“Tuan apa yang terjadi, mengapa anda bisa kecelakaan?” Tanya Angga.
“Simpan dulu pertanyaan mu itu Angga.” Pungkas Arlez. Sedangkan Angga hanya mengangguk dan mengikuti boss menuju mobil.
Iqbal telah membukakan pintu penumpang belakang agar boss bisa masuk.
“Apa kita ke rumah sakit tuan?” Tanya Iqbal.
“Tidak, ke apartemen saya.” Singkatnya.
Iqbal mengangguk dan membawa mobil menuju ke apartemen sang boss.
Sampai di basemant apartemen, Arlez lagi lagi harus menggendong Serra membawa ke lantai paling atas dimana disana hanya ada dua unit apartemen. Apartemennya dan apartemen Angga.
__ADS_1
“Angga ambil kartu di saku saya,” titah Arlez menyuruh Angga mengambil kartu akses masuk ke apartemennya di sakut celana kainnya.
Tanpa membantah Angga langsung mengambil dan membuka pintu apartemen menggunakan kartu. Arlez menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya. Membuka pintu kamar dengan salah satu tangannya. Arlez membaringkan Serra dengan penuh kehatian.
“Angga hubungi dokter Dimas, minta pria tua itu ke apartemen saya sekarang.” Angga mengangguk, mengeluarkan handphone dan menghubungi dokter Dimas dengan sedikit menjauh.
“Halo, dokter Dimas bisakah datang ke apartemen tuan Arlez sekarang?” Tanya Angga di telpon.
“Apa boss datar mu itu sedang sakit Angga?” Dokter Dimas bertanya balik diseberang sana.
“Tidak paman, bukan boss saya yang sakit. Sebaiknya anda segera datang kesini, secepatnya. Jika tak ingin dalam masalah besar...”
“Apa kau sedang mengancam ku Angga?”
“Ya, anggap saja ini sebuah ancaman, jadi cepatlah datang kemari...”
“Katakan pada boss datarmu itu sepuluh menit lagi aku sampai...”
Setelah itu sambungan telpon berakhir, Angga masuk kembali ke kamar untuk memberitahu bossnya.
“Sepuluh menit lagi dokter Dimas tiba disini tuan,” beritahu Angga.
“Hem..” dehem Arlez.
Arlez lalu menatap Angga yang masih berada dibelakangnya. Angga mengerti maksud dari tatapan bossnya, segera keluar dari kamar dan menunggu di bawah.
***
Bersambung. . .
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakt kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609