YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 113.


__ADS_3

Rafael Fadilah tengah melakukan pencarian dengan menggali informasi seseorang yang fotonya ada ditangannya. Info barusan yang dia dapatkan adalah orang yang dicarinya bertempat tinggal disini. Rafael merogoh handphone mahal yang ada di saku celananya. Mengeluarkan handphone tersebut, lalu mencari nama boss mudanya.


"Halo tuan,"


"Ya ada?"


"Tuan, saya hanya ingin mengabarkan bahwa orang yang anda cari sudah saya temukan tempat tinggalnya. Saya akan sherlock sekarang,"


"Kerja bagus Raf, kau akan mendapatkan bonus mu."


Ketika sambungan telpon telah dimatikan, Rafael langsung mengirimkan lokasi tempatnya berada kepada bossnya.


Semantara di kantor dengan gedung bertingkat-tingkat, seulas senyum terbit dari kedua bibir pria dengan setelan kantor, yang sedang duduk dikursi kebesaran, disibukkan oleh banyak pekerjaan. Aiden sendiri tak berminat menjabat sebagai CEO, paksaan dari papanya membuat Aiden mau tak mau harus menuruti dan mengambil alih beberapa pekerjaan dikantor pusat.


"Yaallah terimakasih akhirnya kau mempertemukan ku kembali dengan Ibu kandung dan kembaranku. Bertahun-tahun aku mencari keduanya, akhirnya pencarian ku kali ini berbuah manis. Aku berjanji dengan segenap jiwa dan ragaku, akan menjaga mereka sebaik mungkin. Aku tak ingin kehilangan mereka untuk keduq kalinya, sudah cukup tujuh belas tahun kami berpisah." Ungkap Aiden merasa sedih dan sakit sekaligus, saat mengingat kebohongan papa dan mamanya selama ini. Aiden memang memaafkan keduannya, tapi tak bisa melupakan kesalahan yang telah mereka perbuat sampai mengharuskan dirinya berpisah dari Ibu kandung dan kembarannya.


Aiden bergegas membereskan mejanya dan mematikan layar laptopnya, lelaki itu mengambil kunci mobil. Lalu tergesa-gesa keuar dari ruangannya, sampai dibawah Aiden malah berpapasan dengan sang papa yang barusan memasuki kantor.


"Aiden mau keluar kemana kamu? Sebentar lagi kita ada rapat para direksi perusahaan, untuk memperkenalkan kamu sebagai CEO pengganti papa," sergah Avrian menghalangi putranya.

__ADS_1


"Pleasee pa, untuk kali ini saja aku minta batalkan rapatnya. Aku ada urusan darurat yang penting sekali, tidak bisa kutunda," pinta Aidan memohon pada papa agar mau menuruti kemauannya.


"Ya papa bisa saja membatalkan rapatnya, asalkan kamu mengatakan kemana tujuan mu. Sepenting apa urusannya dibanding kantor ini," tukas Avrian menatap putranya.


"Penting, karena ini menyangkut kebahagian ku yang selama ini selalu ku cari, dan hari aku akan menjemputnya." Aidan lantas pergi begitu saja, tanpa ingin menunggu jawaban dari papanya.


Kalimat yang diucapkan oleh Aiden, membuat Avrian tertegun dan merasa tertampar seketika. Avrian paham siapa yang dimaksud oleh putranya.


"Renzo batalkan rapat kita hari ini. Handle kantor, saya akan pergi menyusul Aiden," ucap Avrian memerintahkan assistennya. Sedangkan dia berjalan cepat menuju parkiran dan masuk dalam mobil putranya.


"Papa-"


Aiden menghidupkan mesin mobilnya dan keluar dari area kantor. Aiden menambah sedikit kecepatan mobil agar cepat tiba dialamat yang telah dikirimkan Rafael.


Mata Aiden melihat sebuah mobil yang dikenalinya adalah mobil Rafael. Segera saja dia memberhentikan tepat didepan mobil tersebut.


Rafael yang masih berada di dalam mobil keluar saat tahu mobil boss sudah berada didepannya.


"Tuan Avrian juga ikut," ucap Rafael sedikit tegang dan canggun secara bersamaan jika bertemu Avrian. Sebab Avrian lebih datar daripada bossnya.

__ADS_1


"Hemm, dimana rumahnya?" tanya Avrian menatap kesekeliling tak menemukan satu rumahpun.


"Sebenarnya rumah ada di dalam gang ini tuan, hanya saja kita tak bisa membawa mobil masuk kesana. Bisanya cuma berjalan kaki, sebab gang sangat sempit. Yang bisa masuk hanya kendaraan roda dua tuan," jelas Rafael.


Ketiga lelaki berbeda usia pun melangkah memasuki gang sempit tersebut. Jalanan gang ini serba tanah, tidak ada jalan semen. Kalau dipikir, saat hujan turun sudah dipastikan jalanannya akan becek dan penuh lumpur.


Sembari berjalan, tanpa terasa air matanya menetes. Aiden sama sekali tak bisa membayangkan kedua perempuan yang selama ini dicarinya hidup ditempat seperti ini. Bahkan ulu hatinya sesak mengingat selama ini dia hidup aman, makan enak, semuanya serba ada. Tetapi tidak dengan Ibu dan kembarannya mungkin harus banting tulang menghidupi diri mereka.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.

__ADS_1


Terimakasih💓


__ADS_2