YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 60.


__ADS_3

Flashback.


Setelah memastikan punggung istri dan mertuanya tidak keliatan lagi. Arka membawa mamanya ke kamar tamu di bawah, supaya suara mereka tidak kedengaran saat berbicara.


"Mah, aku mohon biarkan Ibu mertuaku tinggal disini bersama kita. Mama udah liatkan kondisi Ibu mertuaku tidak memungkinkan untuk kami biarkan tinggal sendirian di kontrakan," ucap Arka menjelaskan kepada sang mama.


"Mama tetap gak setuju mertua mu yang miskin itu tinggal di mansion mewah kita. Cepat bawa mertua pergi dari mansion ini," tegas Devita menolak permintaan putranya.


"Baik kalau gitu aku juga akan pergi, karena Serra tidak akan mau meninggalkan Ibunya hidup sendirian. Begitu pula aku tidak ingin berpisah dengan istriku lagi, cukup sudah yang kemarin kami berdua tinggap terpisah. Mulai sekarang tidak akan terulang lagi."


Arka ingin keluar dari kamar. Tapi suara mamanya menghentikam langkah kakinya.


"Mama izinkan mertua mu tinggal disini. Tetapi dia tidak boleh menempati kamar tamu lainnya-"


"Lalu dimana mertua ku tidur mah, jika begitu lebih baik kami tak usah mah," ucap Arka memotong perkataan mamanya.


"Arka tidak sopan memotong omongan orang yang belum selesai," ujar Devita.


"Ibu mertua mu harus tinggal di pavilium." lanjutnya.


"Jika begitu mending kami saja yang pergi mah, aku tidak mungkin membiarkan mertua ku tinggal disana."


"Terserah mu, mama yakin kau tidak akan bisa hidup susah."


Flashback off.


Usai mendengar cerita Arka. Serra tampak terdiam, air mata berlinang.


"Sebegitu rendahnya kah orang miskin di mata mama mertuaku. Apa orang miskin seperti kami tak memiliki harga diri mata orang kaya."


"Udah sayang jangan nangis. Aku akan selalu bersamamu, mari kita pergi dari sini. Aku gak mau lagi pisah sama kamu, cukup yang kemarin," ucap Arka.


Rida yang berada di tempat tidur mendengar semua yang diceritakan menantunya. Rida berusaha bangun dan berjalan dengan tangan meraba-raba.


"Fia, Arka!" seru Rida yang melangkah entah kemana arahnya.


"Ibu, mengapa bangun dari tempat tidur?" Serra bangkit menghampiri Ibunya, sebelum Ibunya menabrak dinding.


"Nak, tolong jangan pergi dari sini hanya karena Ibu. Jika Ibu harus tinggal di pavilium bersama pembantu, tidak masalah nak. Asalkan kalian jangan pergi dari sini, Ibu tidak mau sampai nak Arka melawan mamanya hanya karena masalahnya ada di Ibu. Kalaupun yang harus pergi dari sini, bukan kalian melainkan Ibu," tutur Rida.


"Ibu sudah aku anggap seperti Ibu sendiri bukan mertua. Jadi mana tega aku membiarkan Ibu ku tinggal di pavilium yang dibuat khusus tempat tinggal pelayan," ujar Arka.


"Fia, Arka. Ibu mohon jangan pergi dari sini nak," kata Rida.


"Tapi bu, Arka benar. Aku gak setuju Ibuku tinggal bersama pelayan," tolak Serra.


"Kalau begitu biarkan Ibu saja yang pergi dari sini, kalian tak perlu mengikuti Ibu." Rida melepaskan tangan putrinya dan melangkah pergi entah kemana. Karena matanya tidak bisa melihat.


"Ibu, tunggu!" Arka menghadang mertuanya yang berhenti melangkah.

__ADS_1


Arka menatap Serra meminta persetujuan dari istrinya. Pada akhirnya Serra memilih menggangguk.


"Ibu aku mau bertanya, memang Ibu tak apa jika harus tinggal di pavilium?" tanya Arka.


Rida mengangguk, "Ibu telah mengatakannya tadi nak, Ibu tidak pernah mempersalahkan tempat tinggal, asalkan kalian bersama Ibu. Itu sudah cukup bagi Ibu."


Serra memeluk Ibunya, "Aku akan selalu bersama Ibu."


"Begitupun aku Ibu." Arka juga melakukan hal yang sama yaitu memeluk mertua dan isterinya.




Tok tok tokk ...


"Maaf mengganggu den, non. Makan malam sudah siap, den dan non di tunggu tuan Alka serta nyonya Devita," ujar Bi Tantri menyampaikan perintah tuan Alka.


"Terimakasih bi, kami akan segera turun kebawah," ucap Serra.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi melanjutkan pekerjaan." Bi Tantri segera meninggalkan kamar Arka dan Serra, tak lupa menutup kembali pintunya.


"Kalian berdua turun saja, biar Ibu di kamar. Ibu juga belum lapar," ucap Rida setelah mendengar suara pintu kamar di tutup.


"Tidak Ibu, Ibu harus ikut bersama kami turun dan makan malam di meja makan," sanggah Arka.


Sampai di meja makan Serra masih bergeming belum mengambil tempat duduk sama sekali. Serra memang sedikit canggung dengan papa mertuanya yang keliatan galak, tapi sebenarnya baik, hanya saja suara papa mertuanya sangat datar jika bicara.


"Duduklah, kasihan Ibu mu jika berdiri terus-terusan," ujar Alka menyuruh menantunya duduk.


"Biarin aja pah, mereka emang pantas kok berdiri saja," sahut Devita.


Rida terkejut mendengar perkataan besannya, disini hanya matanya saja yang buta tapi ingatan dan pendengaran masih jelas. Rida sama sekali tidak menyangka mengetahui sifat asli besannya.


"Apa mungkin putri ku selama ini berbohong soal perlakuan baik mertuanya. Sungguh allah maha baik sudah menunjukkan sifat asli besanku, aku akan bersabar dulu, jika perlakuan mereka telah kelewatan batas aku tak segan membawa putriku menjauh dari keluarga ini." batin Rida.


"Aku tau Ibu pasti terkejut mendengar perkataan mama." ucap Serra dalam hati.


Serra mengambilkan buat Arka. Lalu lanjut mengambilkan makanan buat Ibunya sekaligus untuknya. Serra membantu Ibu makam dengan menyuapinya.


"Istri saya sudah menceritakan ke saya, kalau Ibu mu akan tinggal disini bersama kalian," ujar Alka.


Serra mengangguk, "I-iya pa, jika diizinkan pa. Kalau pun tidak boleh, aku dan Ibu ku akan kembali ke kontrakan kami saja." katanya sedikit gugup ketika bicara dengan papa mertuanya ketimbang mama mertuanya.


"Tentu boleh, saya mengizinkannya," ucap Alka.


"Jelas suami saya memberikan izin, tapi Ibu harus tinggal di pavilium bukan di mansion ini." sambung Devita mempertegasnya.


"Mama cukup! Kenapa mama sebegitu tidak sukanya sama istri dan Ibu mertuaku, padahal mereka tidak punya salah apa apa sama mama. Lalu dari awal mula kebencian mama itu," seru Arka berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Jelas mama punya alasan Arka," sahut Devita juga ikutan berdiri.


"Apa mah? Beritahu kami, kami akan memperbaiki kesalahan itu mah," balas Arka bertanya.


"Mama benci mereka karena miskin. Mama benci kenapa kamu harus menikah dengan orang miskin tidak sepadan dengan kita. Jadi semua jelaskan," teriak Devita murka.


"Devita, Arka!!.. Sudah kalian jangan berdebat lagi, buat mamah tolong jangan memandang orang sebelah mata. Bersikap baiklah pada menantu dan besan kita," sergah Alka.


"Arka bawa Ibu mertua mu ke kamar tamu dimana saja, kalian bebas memilihnya. Satu lagi, papa tidak mengizinkn mertua mu tinggap di pavilium bersama pelayan." putus Alka.


"Ma-makasih pa," ucap Serra tersenyum, dibalas anggukan oleh Alka.


"Papa-"


"Sudah cukup ma, ini keputusan papa." Alka menarik tangan istrinya lembut. Membawanya menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Ingat ya saya tetap tidak setuju Ibu mu tinggal disini," ketus Devita yang masih sempat menoleh.


"Ra, Ibu. Perkataan mama jangan di masukan dalam hati ya," ucap Arka.


"Enggak papa Ka," jawab Serra tersenyum palsu.


"Ibu, aku minta ya bu sama perkataan mama tadi," kata Arka.


"Mama mu tidak salah nak Arka, mungkin benar kaliam seharus tidak menikah karena perbedaan status kita," ucap Rida.


"Tapi aku sangat mencintai Serra bu."


"Ibu paham dan mengerti! Cinta kalian lah yang akhirnya membuat kalian menikah."


"Ayo Ibu kita ke kamar, Ibu harus istirahat," imbuh Serra menuntun Ibunya.


"Biar aku yang memilihkan kamarnya." Arka berjalan ke depan memilihkan kamar buat Ibu mertuanya.


Arka sengaja memilihkan kamar untuk mertuanya dekat dengan taman. Dalam benak Arka, jika Ibu mertuanya bisa melihat. Mungkin saja Ibu mertuanya akan menyukai pilihan kamar ini.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓

__ADS_1


__ADS_2