
Selang 20 menit Arka telah selesai mandi dan bersiap memakai kemeja yang telah dipersiapkan oleh mamanya di atas ranjang. Mata Arka tertuju pada sebuah kota merah terletak di atas meja rias, ia mengambil kotak itu lalu membukanya.
“Cincin,” gumamnya.
Arka meneliti lebih jelas cincin tersebut, ternyata cincin itu adalah cincin kawin miliknya dan Serra. Karena nama mereka berdua sama-sama terukir di dalamnya. Arka tersenyum dan sedih bersamaan menyelimuti hatinya. Cincin itu mengingatkannya kembali tentang pernikahan mereka. Mengingatkannya saat ia menyematkan cincin itu di jari manis Serra, sungguh betapa bahagianya pernikahan mereka.
“Serra! Aku hanya mencintai mu, hanya kamu yang selalu ada dalam hatiku. Walaupun nanti Rachel menjadi istriku, dia tetap tidak bisa memiliki hatiku. Mungkin ini terdengar egois, tapi itulah kenyataannya.”
Tiba-tiba Devita langsung memasuki kamar putranya yang terbuka.
“Arka kamu sudah siap belum? Dibawah keluarganya Rachel menunggu mu nak,” ujar Devita.
Arka buru-buru menghapus air matanya. “Sebentar lagi mah, mamah duluan saja kebawah. Bentar lagi aku turun,” jawabnya.
“Hem, perlu bantuan mamah nak?” Tanyanya lagi.
“Tidak mah, aku hanya sedikit merapikan rambut,” balas Arka.
“Oke, jangan lama-lama ya nak. Kasian tamu kita menunggu dibawah,” ujar Devita.
“Iya mah, bentar lagi. Ga lama kok,” sahut Arka.
Devita lantas keluar dari kamar Arka, tak lupa menutup pintunya. Sedangkan Arka mematut dirinya di cermin. Lalu Arka melangkahkan kaki menuruni anak tangga.
Sampai dibawah Arka melangkah menuju meja makan. Terlihat disana ada Rachel dan kedua orang tuanya. Arka menatap heran Liora adiknya nampak mengakrabkan diri dengan Rachel.
“Liora mengapa bersama Serra kamu tidak bisa seakrab bersama Rachel.” Batin Arka bertanya-tanya.
“Kemarilah Arka, duduklah kita mulai makan malam sebelum membahas hal lainnya,” ujar Alka menyuruh putranya agar duduk.
Rachel menatap Arka penuh senyuman, tapi sayangnya Arka tak membalasnya.
“Huhh! Mengapa dia berubah menjadi dingin sekali,” gumam Rachel kecil, tidak bisa didengar orang lain, selain Liora yang berada didekatnya.
“Sabar Chel, nanti abang juga luluh kalau kalian terus-terusan bersama. Aku yakin abang bisa mencintai mu dan melupakan Serra,” bisik Liora ke telinga Rachel.
“Iya Lio, aku akan membuat Arka hanya melihat kearah ku dan melupakan Serra. Aku pasti bisa mendapatkan cintanya,” ucap Rachel kecil.
“Bagus! Pokoknya aku mendukungmu, semangat berjuang mendapatkan hati dan cinta abangku,” bisik Liora memberi semangat dan dukungan pada calon kakak iparnya.
Rachel tersenyum mendengarnya. Mereka pun makan dalam keheningan, hanya terdengar suara sendok dan garpu beradu.
__ADS_1
Setelah selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu untuk membahas kelanjutan dari Arka dan Rachel.
“Ekhem! Jadi bagaimana, kapan kita bisa melaksanakan acara pernikahan putra putri kita,” ujar Syahreza angkat bicara.
Susana berubah menjadi menegangkan sekarang.
“Pernikahan mereka kita laksanakan minggu depan saja. Semakin cepat akan sangat baik,” kata Alka.
“Saya setuju dengan mu Alka. Itu akan lebih baik bagi mereka,” balas Syahreza.
“Tunggu pah! Mama ingin bertanya dulu pada jeng Devita,” ucap Ranti menatap kearah calon besannya.
“Jeng saya hanya ingin menanyakan, apa jeng Devita menerima putriku menjadi menantu mu?” Tanya Ranti harus memastikannya, karena jika dia mengetahui Devita tidak menyukai putrinya. Maka dia tidak ingin sesudah pernikahan nanti putrinya tinggal bersama keluarga Xander. Dia takut putrinya malah diperlakukan buruk.
“Tenang saja jeng Ranti, saya pasti menerima putri mu sebagai menantu ku. Soal perkataan saya kemaren tolong lupakan saja, kemaren saya sangat emosi karena tak terima putraku dihajar Reza sampai babak belur, makanya saya tak bisa mengontrol ucapan saya,” jawab Devita lugas.
“Syukurlah kalau begitu saya menjadi tenang membiarkan putriku tinggal bersama kalian,” ucap Ranti lega akhirnya mendengar jawaban besannya.
Arka berdiri dari duduknya, ketika mau melangkah suara Alka menghentikannya.
“Mau kemana ka?” Tanya Alka.
“Disini masih ada Rachel, apa kau tak mau mengajak Rachel berjalan-jalan keliling mansion ini,” ucap Alka.
“Nanti saja pah, dia juga akan tau sendiri saat sudah menjadi istriku,” sahut Arka, melanjutkan langkahnya cepat.
“Arka!” Seru Alka meneriaki putranya, sayangnya Arka tidak memperdulikan sama sekali.
“Maafkan putraku, Raza Ranti Rachel! Mungkin dia masih sulit menerima ini dan melupakan Serra. Tapi saya yakin seiring berjalannya waktu Arka pasti bisa melupakannya,” ucap Alka merasa tidak enak pada besannya.
“Om tak perlu minta maaf, saya mengerti keadaan Arka,” imbuh Rachel.
Mereka pun melanjutkan pembicaraan, membahas tempat acara yang akan dilangsungkan pernikahan. Sampai wedding organizer dan tempat fitting baju pengantin.
Tak kerasa jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Syahreza berserta istri dan putrinya pamit pulang.
...•••...
Serra bersantai duduk di bangku panjang yang ada diluaran rumahnya. Sudah dua hari sejak terakhir kali dia bertemu Arka di mansion, ia merasa dari dalam lubuk hatinya yang dalam sangat tahu perbuatannya sangatlah salah.
Sebenarnya jika dipikir kembali, itu semua bukan salah Arka sepenuhnya. Mereka berdua sama-sama dalam pengaruh obat. Tetap saja, Serra tidak bisa menerimanya, bayangan-bayangan Arka dan Rachel hinggap memenuhi isi kepalanya.
__ADS_1
Daripada ia terus saja terbayang-bayang itu dan lagi pula ia juga tidak siap jika harus di madu. Perceraian memang pilihan sulit baginya, tapi tetap harus diambil, demi kedamaian hatinya.
“Ehem! Pasti lagi mikirin saya ya,” ujar Alrez tiba-tiba muncul dan mendudukkan diri disebelah gadisnya.
“Gausah percaya diri,” sahut Serra nampak sedikit terkejut dengan kehadiran Alrez disampingnya.
“Uncle mau ngapain malam-malam datang kesini?” Tanya Serra seraya menyelidik.
Alrez lalu mengangkat sebuah plastik didalamnya ada kotak berisi martabak.
“Buat kamu,” ujar Alrez menyerahkan plastik tersebut kepada Serra.
“Pasti ada sesuatukan, engga mungkin uncle ngasih martabak cuma cuma. Ayo jujur uncle mau apa?” Kata Serra mendesak Alrez.
“Kamu ada ada saja. Saya ikhlas ra, ini benaran buat kamu,” ucap Alrez terkekeh.
“Betulan?!”
“Iya sayang, ini memang saya beli buat kamu. Tidak ada maksud apapun,” tutur Alrez menyakinkan Serra.
Mendengar kata ‘sayang’ diawal kalimat Alrez membuat Serra terdiam sebentar dan berdiri masuk ke dalam. Menaruh martabak dalam piring, menyeduh susu coklat untuk Alrez.
Serra menyodorkan susu coklat buatan pada Alrez. Lalu meletakan martabak di tengah-tengah kursi panjang yang mereka duduki.
Keduanya menikmati memakan martabak bersama dalam keheningan malam. Serra juga tak tahu ingin membahas apa dengan Alrez.
Sedangkan Alrez merencanakan sesuatu di dalam otaknya. Tetapi ia akan menjalankan rencananya setelah acara pernikahan Arka selesai, barulah ia akan memulainya.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓
__ADS_1