
Serra lekas menyusul Alrez ke toilet yang tak jauh dari dapur. Wanita selalu cemas jika mendapati suaminya kembali muntah, namun mengajak suaminya ke rumah sakit juga percuma, pasti tidak akan mau.
"Lagi lagi Mas muntah, kalau kayak gini terus Mas bisa tumbang loh. Pleasee, mau ya setelah acara kumpul keluarga selesai kita mampir ke rumah sakit, atau gak panggil dokter Dimas ke rumah buat periksa Mas. Aku janji gak akan izinin dokter Dimas suntik Mas." Serra kembali berusaha membujuk Alrez untuk periksa, muntah-muntah Alrez tidak bisa di diamkan, harus ditindaklanjutkan. Serra takut bisa berbahaya untuk kesehatan Alrez.
Alrez sungguh lemas usai muntah cairan bening, yang bisa pria itu lakukan cuma memeluk istrinya. Entah hanya pelukan istrinya yang bisa menenangkan Alrez.
"Sayang pengin susu," ucap Alrez lain, tidak menggubris kalimat bujukan Serra.
"Engga bakal ada susu, sebelum Mas di periksa," tolak Serra tegas, membuat Alrez berkaca-kaca menatap Serra.
"Pengin susu ini." Tangan Alrez hampir memegang dada Serra, namun secepat kilat juga wanita itu menepis tangan nakal suaminya.
"Aku gak luluh sama air mata Mas, sekarang hentikan rengekan Mas. Kita kembali ke meja makan, dan stop bertingkah kekanakan atau malam ini Mas tidur diluar kamar," ancam Serra, seketika Alrez langsung merubah raut wajahnya. Mana bisa lelaki itu tidur tanpa kelonan istrinya, dalam tiga hari berturut-turut Alrez bisa tidur pulas karena susu istrinya.
Sedangkan di meja makan Firesa menyenggol lengan Alia, dan tatapan keduanya saling bertemu pandang. Keduanya juga satu pemikiran.
"Mama sadarkan Serra barusan ngomong, sama sekali gak masuk akal Alrez mual cium bau sop iga, padahal setau aku Alrez suka sama makanan itu," ujar Firesa bicara dengan pelan, seperti berbisik.
"Iya mama juga sadar Sa, kayanya dugaan mama kali ini gak salah. Bentar lagi mama dapat cucu," kata Alia senangnya menanti kehadiran cucu dari Alrez anak terakhirnya.
"Cepat banget jadi Alrez junior, perasaan mereka nikah baru 14 hari," imbuh Firesa.
"Berarti Alrez tokcer dong Sa, Serra juga subur. Mama harap ini benaran kabar bahagia," sahut Alia lagi.
"Rez wajah lo keliatan pucat banget, plus lemas banget. Kaya orang pesakitan," ujar Nevano.
"Sialan lo, enak benar ngatain gue pesakitan." Alrez menoyor kepala Nevano saking jengkelnya dikatain pesakitan.
"Sayang belain Mas dong, Nevan jahat banget masa Mas dikatain pesakitan," adu Alrez bertingkah manja pada Serra dengan memeluk istrinya dari samping.
"Yang om Nevan bilang emang benar kok, Mas sakit. Makanya kalau gak mau kelihatan sakit harus mau ke dokter." Bukannya membela suaminya, Serra malah menyetujui ucapan Nevano.
__ADS_1
"Udah dibilang Mas itu gak sakit. Nanti siang juga gak muntah lagi, orang Mas muntah cuman diwaktu tertentu kok," tukas Alrez kembali duduk ditempat semula.
"Ra daripada Alrez yang periksa ke dokter, ada baikanya kamu saja yang di periksa dokter kandungan. Mama temenin ke dokter kandungan ya." Celetukan Alia membuat tatapan semua orang mengarah padanya.
"Betul yang mama bilang, Mba sudah kirim pesan sama teman yang kebetulan dokter kandungan buat janji. Jadi nanti sampai sana gak perlu antri lagi," sanggah Firesa.
"Ini maksudnya Serra hamil, Lia?" Tanya Reno memastikan ucapan istrinya.
"Kayanya sih iya pah, dari pengalaman kita terdahulu. Ciri-ciri yang dialami Alrez seperti morning sickness, mama yakin banget pah," tutur Alia.
"Bisa gitu ya mah, tapi kayanya Mas Alrez sakit mah. Bukan karena aku lagi hamil, masa yang ngalamin morning sickness Mas Alrez, bukannya aku yang alami ciri-ciri tersebut," sanggah Serra tak ingin terlalu berharap takut kecewa dengan hasil akhirnya.
"Gak semua harus dialami wanita hamil sayang, pria juga bisa mengalami morning sickness. Karena ikatan bayi yang pengin bikin si ayah tersiksa," sahut Alia.
"Oke sayang untuk memastikan ucapan mama. Mas mau ke dokter hari ini, kita periksa sama-sama," imbuh Alrez akhirnya setelah sekian hari mau juga ke rumah sakit.
"Palingan kalau hamil belum tentu anaknya Alrez," timpal Olivina.
Alrez menggebrak meja makan, tanpa perduli orang-orang masih pada menikmati makanan. Beberapa makanan sampai tumpah, ulah Alrez. Pria dingin dan datar itu seketika meradang mendengar kalimat Olivina yang tidak bisa menjaga lisan.
"Jaga bicara mu Olivina, berani sekali kau menuduh istriku yang tidak-tidak. Asal kau tau istriku perempuan baik-baik, yang menjaga kehormatan hanya untuk suaminya. Seharusnya tuduhan mu itu pantas dilayangkan untuk dirimu sendiri brengsek." Hardik Alrez, betapa murkanya pria itu secara langsung tuduhan itu menyakiti hatinya. Bagaimana tidak menyakitkan, tuduhah itu sama sekali tidak benar, karena dialah yang menjadi orang pertama untuk istrinya. Andai saja Olivina adalah lelaki atau buka istri sepupunya, ia pasti akan menghajar wanita tersebut sampai mati ditangannya sendiri.
"Kenapa diam saja? Apa ucapan ku benar, sepertinya Nevano mencintai wanita yang salah," lontar Alrez sinis.
Olivinan cuma bisa diam tak berkutik mendengar perkataan pedas Alrez. Olivina sekarang takut rahasia yang dia simpan selama ini terbongkar, entah Olivina bingung darimana Alrez mengetahui rahasianya.
"Mas Nevan jangan percaya omongan Alrez," lirih Olivina memandang Nevano sambil geleng-geleng kepala.
Nevano masih terpaku dalam lamunan, sampai suara Rino papinya menyadarkannya.
"Nevan, papi sarankan bawa istri serta anak mu pulang terlebih dahulu. Tekan ego untuk sekarang, nanti saja jika kamu ingin bertanya pada Vina. Situasi sangat tidak kondusif, emosi Alrez lagi gak stabil. Cepat Nevan!" Pungkas Rino menyarankan putranya agar segera meninggalkan kediaman Reno.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Nevan menarik tangan Olivina, keduanya beranjak dari tempat duduk mereka.
"Mau kami bawa kemana istri sialan mu Nevano," teriak Alrez.
Kepala Serra pening melihat perdebatan, sedari ia datang Olivina selalu mencari-cari ribut dengannya. Padahal ia sama sekali tidak meladeni wanita itu. Bukan Serra takut dengan wanita itu, hanya ia tidak ingin bertengkar disaat acara kumpul seperti ini.
"Mas tenang," ujar Serra memaksakan diri bangkit dari kursi, walaupun kepalanya berasa berat sekali, namun Serra juga tak bisa membiarkan suaminya dikuasai emosi.
"Gak bisa sayang, sialan itu udah keterlaluan sama kamu Mas gak terima sama ucapan. Mas harus buat dia minta maaf sambil sujud kaki kamu, gak perduli dia istrinya Nevan," tukas Alrez.
"Mas gak baik marah-marah depan makanan. Redakan emosi Mas," ucap Serra mengelus dada Alrez supaya tenang.
Perlahan Alrez menarik nafas, menghilangkan emosi dalam dirinya yang begitu menggebu saat ini.
"Gimana sudah agak tenang?" Tanya Serra, Alrez mengangguk dan kembali duduk lagi.
"Ternyata Alrez mendapat pawang yang tepat," batin Rino lega melihat keponakannya bisa meredakan emosi.
Kepala Serra semakin pening, bahkan berputar-putar, karena tak bisa menyeimbangkan tubuh Serra akhirnya ambruk di pangkuan Alrez.
Bruk!
****
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1