
Seminggu kemudian...
Setelah di rawat selama seminggu, sekarang Rida telah di perbolehkan pulang oleh dokter. Jadi Serra memutuskan tak pergi sekolah hari ini. Kata dokter keadaan Ibuku sudah sangat sehat, makanya dokter membolehkan Ibuku pulang. Apalagi Ibuku merasa tak betah berada di rumah sakit terus menerus yang akan memakan banyak biaya. Padahal aku sendiri tak masalah, karena kesehatannya lebih penting. Apapun akan aku lakukan demi ibuku yang telah mengorbankan nyawanya saat melahirkan ku.
Serra sedang membereskan pakaian ibunya, memasukan ke dalam tas. Selesai mengemas, Serra membantu ibunya memakaikan sendal. Kedua berjalan keluar meninggalkan kamar rawat.
"Ibu tunggu disini dulu ya, aku mau mencari angkot. Ingat Ibu jangan kemana-mana sebelum aku kembali," pesan Serra.
"Iya nak, ibu akan berdiri disini sampai kamu kembali," ucap Rida.
Serra berjalan ke depan untuk mencari angkutan umum yang akan mengantar mereka sampai rumah. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti depan dengan membunyikan klakson. Serra tak mengenali mobil di hadapannya, bahkan dari luar kaca mobil Serra tetap tak bisa melihat orang yang berada di dalam.
"Uncle!" Kaget Serra mengetahui Alrez yang berada di dalam mobil.
"Bawa Ibu mu kesini, saya akan mengantar kalian pulang," perintah Alrez.
"Tidak uncle, sudah cukup aku merepotkan mu. Aku enggak ma-"
"Saya tak butuh penolakan maupun bantahan Serra Alifiana. Sekarang bawa ibu masuk ke mobil saya," ucap Alrez dengan tegas.
Serra mengangguk, menghampiri Ibunya. Menuntun Ibunya masuk ke dalam mobil pria pemaksa.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju kontrakan. Serra merasa kayak ada yang aneh.
"Tunggu ini bukan jalan kearah kontrakan kami, kemana pria pemaksa ini mau membawa kami." batinnya.
"Ini bukan jalan ke kontrakan kami," ucapku sambil menatapnya. Aku beralih menengok kursi penumpang belakang mendapati Ibuku tengah tertidur. "Huhh syukurlah ibu tidur.."
"Semantara waktu kalian tinggal di apartementku" jawab Alrez membuat mata Serra melotot.
"Aku gak mau," tolakku "Tolong putar arah uncle, biarkan kami di kontrakan saja." Pintaku.
"Ingat ra, kamu harus menuruti kemauan ku," ucapnya santai.
"Dengar ra! Seperti perkataan saya waktu itu kamu akan mengetahui persyaratannya, jadi hari ini saya akan memberitahu mu. Salah satu syaratnya kau harus menuruti kemauan saya, kau boleh menolak. Tapi dengan persetujuan saya."
"Sebenarnya apa yang uncle mau, mengapa uncle selalu saja seenaknya dengan ku. Aku ini istri keponakan uncle," ujar Serra mempertegas dirinya siapa.
"Woah! Kau sedang memperjelas status mu bahwa keponakan pengecut ku adalah suami mu begitu. Tidak ada suami yang menelantarkan istrinya hanya karena takut ketahuan orang lain. Harus Arka lebih tegas pada mama dan papanya, jika benar dia mencintai mu," ucap Alrez menatap remeh.
Serra pun hanya bisa menghela nafas pasrah. Perkataan Alrez memanglah benar adanya. Serra merasa dirinya seperti istri simpanan yang tidak diakui dipublik, miris sekali rasanya.
"Ra.." panggil Alrez.
__ADS_1
"Hem.." balasku berdeham.
"Bercerailah dengan Arka, lalu menikahlah denganku. Aku berjanji akan membahagiakan mu dan mengakui mu sebagai istriku." Alrez menatap Serra, menggenggam tangan gadisnya.
"Enggak." Serra melepaskan tangan Alrez. "Walaupun aku bercerai dengan Arka sekalipun. Aku tidak akan menikah dengan mu, mengertilah aku tidak mencintaimu." tegasnya.
Alrez terdiam tidak bisa menjawabnya lagi, wajahnya berubah menjadi dingin. Tangannya mengerat pada setir mobil.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓
__ADS_1