YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 85.


__ADS_3

Setelah pulang dari cafe dengan naik angkot. Kini sekarang Serra tengah bersantai duduk dengan bersandar di kepala ranjang, ditemani sebuah novel yang dibacanya.


Sesekali Serra melirik jam dinding, menunggu Arka yang belum pulang juga. Mana Arka tak ada mengabarinya sama sekali.


Bertepatan ketika Serra bangun, karena mau menaruh novel kembali di rak buku, novelnya telah selesai di baca sampai tamat. Pintu kamar terbuka menampakan wajah lelah Arka. Saat Arka ingin memeluk Serra, Serra malah menghindar.


“Tumben gak mau di peluk,” ucap Arka heran.


“Kamu belum mandi,” balas Serra enggan menatap lawan bicaranya.


“Habis mandi boleh peluk ya,” ucap Arka, Serra mengedikkan bahunya, lalu pergi ke meja belajar.


“Perasaan Serra kok aneh banget hari ini, kaya berusaha ngehindar. Perasaan aku tak melakukan kesalahan apapun! Argh... nanti sajalah aku tanya.”


Sebelum masuk ke kamar mandi, Arka mendekati Serra dan langsung mencuri ciuman pipi. Barulah ia berlari cepat ke arah kamar mandi.


Kini Arka terlihat lebih segar sehabis mandi dan mengenakan pakaian santai yang disiapkan oleh Serra.


Semantara Serra tengah berdiri di luar balkon dengan angin yang berhembus menerpa wajahnya.


“Ra, masuk yuk! Bentar lagi mau maghrib,” seru Arka menyuruh istrinya yang berada di balkon untuk masuk ke dalam.


Arka memperhatikan wajah Serra tampak cemberut. Bahkan Serra malah memilih duduk ditepian ranjang di bandingkan duduk di sofa bersama Arka.


Hupp!


Arka menghembuskan nafasnya, lalu bangkit melangkah mendatangi Serra. Biarlah ia yang mengalah, mungkin ia memang punya salah sampai membuat istrinya enggan berdekatan dengab dirinya. Tapi ini tak bisa dibiarkan terus berlarut yang ada malah menyebabkan pertengkaran, maka dari itu ia harus menyelesaikan masalahnya sekarang.


“Ra cerita dong, kenapa kamu aneh hari ini? Aku ngerasa kamu ngehindari aku, kalau emang aku ada salah. Tolong kasih tahu aku kesalahan apa yang udah aku perbuat sampai kamu giniin aku sayang. Pleasee... maafin aku!”


“Kamu gak nyadar kesalahan kamu apa ka?” Serra balik bertanya.


Arka menggelengkan kepala, jika ia benar-benar tak menyadari kesalahannya.


“Oke, aku kasih tahu. Kamu habis darimana? Pulang sekolah udah lama loh ka, bahkan tadi Aldo ngajakin aku sama Nabila ke cafe aja aku ngabarin kamu, kalau aku bakalan telat pulangnya. Eh pas sampai mansion ternyata bukan aku yang telah banget pulangnya,” jelas Serra menyindir Arka.


“Yaampun sayang! Maaf, maaf banget. Aku beneran lupa ngabarin kamu. Sebenarnya tadi aku ada janji sama sahabat kamu Rachel, ngajarin dia main basket.”


“Yakin cuma main basket aja! Lalu kenapa lama?”


“Selesai ngajarin Rachel basket, kita ngobrol. Pas ngeliat jam, aku kaget udah mau jam enam. Jadi aku pamit pulang.”


Serra mengangguk mengerti, padahal ia sebenarnya sudah tahu dimana Arka berada. Ia hanya pura-pura tak tahu saja, karena salah Arka juga yang tidak ada memberitahunya.


“Aku percaya sama kamu ka, cuma lain kali kamu kabarin aku. Biar aku gak khawatir sama kamu,” ucap Serra akhirnya.


“Cie yang ngawatirin aku,” goda Arka.


“Jelas aku khawatir dong! Kamu kan suami aku, kecuali kamu orang lain bukan siapa-siapa aku, bahkan aku gak kenal. Baru aku biasa aja, bodo amat mau kamu ngilang entah kemana, gak perduli,” ujar Serra.


“Karena posisinya disini beda, bedanya kamu suami aku, aku juga mencintai kamu. Jadi kalau sesaat aja aku gak lihat kamu, jelas aku khawatir bakalan nyariin kamu,” kata Serra melanjutkan omongannya.


Arka tersenyum lebar mendengarkan kalimat yang diucapkan oleh Serra.

__ADS_1


“Ka, besok kamu gak ada kegiatan kan?” Tanya Serra.


“Gak ada yank, mau jalan kemana,” ucap Arka.


“Bukan jalan ka, lebih tepatnya temani aku ngantar Ibu buat periksa kesehatan ke rumah sakit. Bisakan?”


“Bisa dong, besok pagi kita langsung ke rumah sakit.”


“Makasih sayang.” Ucap Serra senang mendengarnya.


...•••...


Keesokan harinya...


Pagi ini, Arka dan Serra telah bersiap, mereka berdua akan pergi mengantar Ibu ke rumah sakit untuk mengecek kesehatan Ibu, sekalian membeli beberapa vitamin.


Sesampai di rumah sakit, mereka tengah menunggu antrian. Tiba nama Ibu Rida di panggil yang berarti giliran mereka. Serra dan Arka ikut masuk ke dalam menemani Ibu.


“Selamat pagi! Ada yang bisa saya bantu?”


Sapa dokter perempuan yang duduk di kursi kebesarannya. Dokter selalu tersenyum manis setiap menyambut kedatangan pasiennya.


“Pagi, dok,” jawab Serra. Semantara Arka dan Ibu Rida hanya diam saja.


“Begini dok, Ibu saya akhir-akhir ini sering demam. Saya takut Ibu saya memiliki penyakit dalam yang tidak kami ketahuan, maka itu kami memeriksakannya,” jelas Serra.


“Siapa nama Ibu anda?” Tanya dokter.


Dokter mengangguk, “Suster tolong bantu Ibu Rida berbaring di brangkar kita akan lakukan pemeriksaan.” Perintah dokter menyuruh assistennya.


Dokter mulai melakukan pemeriksaan pada Ibu Rida. Serra berada di samping Ibunya yang tengah menggenggam tangannya.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan. Mereka kembali duduk berhadapan dengan dokter.


“Setelah di lakukan pemeriksaan, kondisi Ibu anda baik-baik saja. Ini saya resepkan beberapa vitamin yang harus di beli untuk menjaga kesehatan tubuh Ibu anda,” jelas dokter.


“Alhamdulillah Ibu baik-baik saja. Aku jadi agak tenang mendengarnya. Terimakasih ya dok..” ucap Serra menjabat tangan dokter. Begitun Arka dan Ibu Rida juga melakukan hal yang sama.


“Kalau begitu kami permisi ya dok.” Pamit Serra. Mereka bertiga pun keluar dari ruang dokter.


“Ka, kamu bawa Ibu duluan ke mobil ya. Biar aku ke bagian apotek beli obatnya,” ujar Serra.


“Gak sama sama aja yank,” ucap Arka.


“Gausah biar aku sendiri aja, kasihan Ibu kecapekan nanti,” kata Serra.


“Yaudah aku sama Ibu nunggu di mobil ya.” Arka lekas membawa Ibu mertua ke parkiran mobil


Selesai dari apotek menebus obat dan vitamin untuk Ibunya. Serra bergegas menuju parkiran, Serra yang berjalan cepat dan sesekali mengecek obat yang dibelinya, Serra sama sekali tak melihat bahwa ada orang yang berjalan juga di depannya, sampai akhirnya ia menabrak orang di depannya.


Bruk!


Bungkus obat Serra terjatuh, hingga berceceran. Serra mengambil obat-obat milik Ibunya, dibantu oleh orang yang ditabraknya.

__ADS_1


“Makasih! Maafkan saya berjalan cepat, jadi saya tidak tahu ada orang di depan saya,” ucap Serra meyatukan tangannya, ia masih menunduk belum mengetahui siapa orang yang telah di tabraknya.


“Kamu Serra kan!? Teman Aldo,” ujar Aiden, orang yang ditabrak oleh Serra.


Serra mendongak ketika mendengar suara orang di depannya, betapa kagetnya ia saat mengetahui ternyata Aiden lah yang ditabraknya tanpa sengaja.


“Kak Aiden!”


“Kamu ngapain disini?” Tanya Aiden.


“Oh ini aku lagi nebus obat Ibuku,” jawab Serra.


Aiden mengangguk paham. “Mau pulang sekarang? Kalau mau bareng aja sama saya, biar saya antarkan sampe rumah.”


Serra menggeleng menolaknya, “Terimakasih atas tawarannya kak. Tapi aku naik angkot aja..”


“Oh iya kakak ngapain disini?” Sekarang gantian Serra yang bertanya.


“Saya habis nemuin temen yang kebetulan jadi dokter disini,” jawab Aiden.


Serra mengut-mangut, “Kak aku duluan ya, sekali lagi aku minta maaf,” ucapnya.


“Iya ra, santai aja,” balas Aiden tersenyum tipis.


Serra kembali berjalan kearah parkiran dan masuk dalam mobil Arka.


“Kok lama! Pasti ngantri ya,” tebak Arka.


“Enggak ngantri ka, tadi aku gak sengaja main nabrak orang. Jadi lama deh tadinya,” beritahu Serra.


“Tapi orang itu gak sampe mukul kamu kan yank?”


Serra malah tergelak mendengarnya. “Kamu ada-ada aja sih ka. Enggak tadi aku udah minta maaf kok sama orangnya, lagian orangnya juga baik..”


“Barangkali aja yank, kan mana tau orang kesal dan ngebalas kamu,” ujar Arka.


“Benar yang dibilang nak Arka, Fia. Tetapi Ibu bersyukur orang baik,” sanggah Rida.


“Iya bu, orang baik kok...” Serra bicara sambil menoleh kebelakang pada Ibunya.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓

__ADS_1


__ADS_2