
Dua hari telah berlalu, Arka masih mengurung diri dalam kamar. Tanpa makan apapun, karena Arka tidak mau membukakan pintu untuk siapapun kecuali Serra.
"Arka buka pintunya," seru Devita dari luar, sembari menggedor-gedor pintu kamar. Tetap tak mendapakan sahutan dari dalam.
"Pa, gimana ini Arka masih belum juga mau keluar kamar. Mama khawatir, sudah dua hari anak kita tak menyentuh makanan sama sekali. Mama takut Arka kenapa-napa pa," lirih Devita seraya memeluk Alka dengan isakan.
"Pah, mah! Saran aku mending bawa Serra kesini, minta dia bujuk abang, biar mau keluar kamar," usul Liora yang tiba-tiba berada di dekat mereka.
Devita melepaskan pelukan dan menatap putrinya, "Kalau Arka bertemu Serra, yang ada bukannya cepat melupakan malah semakin susah melupakan Liora," ucapnya.
"Mah dengerin aku dulu, maksud aku bukan begitu. Pertemukan abang dan Serra, minta Serra bujuk abang buat tanda tangani suara cerai. Biar urusannya cepat kelar dan abang bisa nikah sama Rachel, aku tahu om Reza terus mendesak papa, menanyakan kapan pernikahan akan dilangsungkan. Semua demi kebaikan kita semua," bijak Liora, padahal ia memang ingin Serra cepat menyingkir selamanya dari keluarga mereka.
"Liora ada benarnya mah! Mending mama ke rumah Serra, bujuk dia agar mau kesini," imbuh Alka.
"Suruh sopir aja pah jemput dia kesana bisakan," ujar Devita ogah-ogah mengunjungi kontrakan gadis itu.
"Papa tahu mama males kesana karena jalan menuju kontrakan ga bisa masukin mobil. Papa bisa saja menyuruh orang menjemput Serra, tapi menurut papa ada baiknya mama yang kesana. Biar kesannya baik mah," tutur Alka.
"Yaudah papa temani mamah kesananya," ujar Devita memegang lengan suaminya.
"Engga bisa mah, papa ada meeting penting di kantor. Makanya papa mau ke kantor sekarang," ucap Alka melepaskan tangan istrinya, lalu mencium kening istrinya dan pipi putrinya.
"Ishh! Mama kesal sama papa mu, masa yang benar aja mama harus kesana. Males bangetkan sayang," ucap Devita bersungut-sungut.
"Untuk kali ini mamah harus melakukannya, biar abang bisa melepaskan Serra secepatnya, agar gadis itu menjauh selamanya dari keluarga kita. Aku engga papa sih abang nikah sama Rachel, apalagi Rachel kan sederajat sama kita mah. Jadi fine fine aja, gak masalah," tukas Liora.
"Mama tahu itu sayang, cuma mama kesal kejadian kemaren malam. Reza seenaknya banget mukulin abang kamu, mama ga tega lihatnya. Mana mereka pada menyudutkan abang kamu, emang disana cuma abang kamu aja salah. Padahalkan anak mereka juga salah sebenarnya, kenapa mau mau aja begituan, seharusnya dia nolak, entah gimana caranya dia membebaskan diri dari abang mu. Itu bisa aja sayang, ya cuma mama kira anak mereka juga mau mau tuh."
"Iya sih, aku juga sempat kesal pas ngeliat abang dipukulin dengan pasrahnya abang terima itu."
"Yaudah sayang mama mau jemput gadis kampungan itu dulu," pamit Devita, lekas pergi menuju kontrakan Serra.
...•••...
__ADS_1
Setelah keluar dari mansion, Serra berusaha mencari penghasilan dengan berjualan kue seperti sekarang, yang baru di mulainya hari ini. Cuaca hari ini nampaknya tidak bersahabat bagi Serra yang sedang berkeliling menjual kue buatannya. Hujan deras yang turun tiba-tiba membuat Serra harus berlari mencari tempat berteduh. Serra terpaksa meneduh di halte, tetap ia tak bisa duduk karena tempat sudah penuh dengan orang-orang yang ikut berteduh juga.
Serra menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Ia menatap langit yang tampaknya masih ingin menurunkan hujan. Serra mengambil ponsel dalam tas selempang, jam sudah menunjuk pukul satu siang.
"Sebaiknya aku terobos saja hujan ini, daripada aku terus berteduh. Kasian Ibu pasti kelaparan menungguku," gumam Serra kedinginan.
Jarak kontrakannya lumayan jauh, ditempuh Serra dalam waktu tiga puluh menit dengan cara berlari. Sesampainya di kontrakan, saat akan menaruh sendal di rak, mata melihat sepatu pantofel pria berwarna hitam tersusun di rak.
"Aku sepertinya mengenali sepatu ini." Ucapnya lantas segera masuk ke dalam kontrakan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Serra mendengar suara Ibunya dari arah dapur. Serra terpaku memperhatikan pria yang selalu ingin di hindarinya tengah duduk berasam Ibunya, bukan itu yang menjadi fokus utamanya, melainkan tangan yang menyuapi Ibunya.
"Mengapa dia keliatan manis seperti ini. Oh tuhan ada apa denganku, kenapa aku jadi memujinya." batin Serra menggeleng-gelengkan kepalanya menghilangkan pikiran yang sempat ada dalam otaknya.
"A-aku disini bu," jawab Serra buru-buru mendekat dan memegang tangan Ibunya.
"Maafin aku ya bu, baru pulang. Pasti tadi Ibu kelaparan nungguin aku," kata Serra.
"Engga papa nak, Ibu mengerti sayang. Jadi ga usah minta maaf, kamu engga ada salah sama sekali," balas Rida. "Lagian Ibu juga dibawain makanan sama nak Alrez, malah disuapin." Lanjutnya.
"Terimakasih ya nak Alrez sudah repot repot bawain Ibu makanan, dan juga ngebantuin Ibu makan," ucap Rida.
"Sama-sama Ibu. Ibu tidak merepotkan saya kok," balas Alrez.
"Fia bisa buatkan kopi untuk nak Alrez," pinta Rida menyuruh putrinya.
"Bisa bu." Serra lantas melangkah ke dapur menyeduh secangkir kopi untuk Alrez. Lalu membawanya ke depan, meletakan di atas meja makan.
Alrez tampaknya enggan menyentuh kopi buatan gadisnya, sebelum di persilahkan.
__ADS_1
"Di minum uncle," ucap Serra pelan, menahan kekesalan dalam hatinya.
Alrez tersenyum mendengar suara gadisnya dan mengambil cangkir, lalu menyeruput kopinya.
"Ibu aku kekamar dulu ya, mau ganti baju," ucap Serra.
"Yaallah nak, kamu hujan-hujanan ya?" tanya Rida.
"Iya bu, tadinya aku neduh. Teringat Ibu belum makan siang, aku khawatir. Makanya aku memutusan menerobos hujan, Ibu tenang aja aku gabakaln demam kok bu," ujar Serra menyakinkan Ibunya bahwa dirinya akan baik-baik saja.
"Kamu cepat ganti baju sana, Ibu takut nanti kamu bisa sakit kelamaan pakai baju basah," sahut Rida menyuruh putrinya agar segera berganti pakaian.
"Nak Alrez! Ibu tinggal ke kamar, engga papakan? nak Alrez sendirian dulu disini, nanti biar Fia yang nemani setelah berganti pakaian."
"Iya bu tidak papa saya disini saja. Ibu istirahat saja di kamar, atau Ibu mau saya antar ke kamar," tawar Alrez.
"Engga usah nak, Ibu bisa sendiri." Rida bangkit menggeser kursinya, Rida melangkah menggunakan tongkat untuk meraba-raba sekitar. Tetapi karena tempat tinggal mereka adalah kontrakan yang dulu, jadi tidak menyulitkan Rida untuk mengenali setiap sudut ruangan.
Semantara Alrez menikmati kopi sembari menunggu gadisnya keluar dari kamar. Maksud kedatangan Alrez kesini sebenarnya ada hal penting yang mau ia omongkan yaitu tentang keadaan Arka. Dari kantor Alrez pulang ke mansion Alkavero dan bertemu kakak iparnya yang meminta tolong dirinya untuk pergi ke kontrakan Serra dan memberitahu Serra tentang keadaan Arka.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓
__ADS_1