
-Ariella Cafe
Disana telah ada kelima pemuda remaja yang tengah nongkrong. Diantara mereka berlima ada satu orang lagi yang belum datang.
“Sorry ya bro gue telat,” ucap Arka yang baru saja datang memasuki cafe.
“Lo emang habis darimana sih?” Tanya Aldo melihat wajah lelah temannya.
“Gue habis dari rumah sakit, jenguk Sandra,” jawab Arka.
“Gue tebak, pasti dirumah sakit tadi ada drama karena engga mau ditinggalin. Makanya lo telat kesini,” tebak Agung tertawa dan mendapatkan tatapan tajam dari Arka.
“Udahlah, engga usah diperpanjang pembahasan itu. Lebih baik kita bahas yang lain, lebih berfaedah,” imbuh Dimas yang paling bijaksana diantara yang lain.
“Nah betul, kata teman kita yang sangat bijak ini,” sambung Farell.
“Yaudah mari kita bahas masalah pertandingan basket kita yang bakal diadakan sabtu depan ini,” timpal Fathur.
Keenam pemuda remaja itu akhirnya membahas tentang pertandingan basket di sekolah mereka. Saat asik dengan pembahasan, handphone di saku celana Arka berdering dan sangat mengganggu.
“Ka mending lo angkat dulu telpon lo bunyi terus ganggu. Kita jadi berenti ngomongnya,” tegur Aldo.
“Oke gue angkat dulu bentar...” Arka menjauh dari meja tempatnya duduk. Lalu mengangkat telpon dari Sandra.
“Ada apa nelpon?” Sahut Arka ketus.
“Arka kok kamu jadi ketus gini sih,” sahut gadis diseberang sana dengan sebal.
“Katakan kenapa lo nelpon? Bisa engga jangan telpon gue dulu, gue lagi nongkrong sama teman-teman gue. Lo disana udah ada orangtua lo yang bakal jagain lo,” tukas Arka kesal dengan gadis yang sudah dibaikinnya malah kayak ngelunjak.
“Hisk, Arka! Mami sama papi keluar kota, aku sendirian dirumah sakit, aku takut hiks,” isak Sandra ketakutan di kamar rawatnya.
“Gue tau, ini cuma akal-akalan lo biar gue nemani lo disanakan. Udahlah engga usah pura-pura nangis, lo mau bohongi gue. Gue ga bakal percaya, udah ya gue mau lanjut nongkrong. Ingat jangan telpon gue kalau ga penting...”
__ADS_1
Tutt...
Arka memutuskan sambungan telpon sepihak, tanpa mendengarkan jawaban orang yang menelponnya. Sandra membuat Arka mendongkol, baru saja orangtua gadis itu disana. Masa orangtua gadis itu tega meninggalkan anak mereka yang tengah sakit hanya gara-gara ada urusan mendadak.
Tiba-tiba handphone Arka berbunyi lagi, saat lelaki itu mau memasukan ke dalam saku celananya. Tanpa melihat nama sang penelpon Arka langsung mengangkatnya dan menjawab dengan nada marah.
“Ada apa lagi sih? Bisa ga jangan ganggu say-“
“Arka ini mama,” sahut Devita menyela Arka.
“Maaf mah, aku kita tadi Sandra,”
“Memangnya kenapa jika Sandra yang menelpon, mau kamu marah-marahin ya? Arka jangan gitu nak sama Sandra, mama dengar dari om Hendri dan tante Andini, Sandra lagi dirawat di rumah sakit. Benarkah itu Arka?”
“Iya mah,” sahut Arka malas.
“Mama mau kamu jagain Sandra di rumah sakit, kasihan dia nak. Papi maminya lagi ada urusan, tadi mereka telpon mama buat titip anak mereka semantara tinggal di mansion kita. Jadi kamu tolong jagain Sandra ya, nanti kalau udah boleh keluar dari rumah sakit bawa di ke mansion kita.”
“Apa yang benar saja mah, disanakan ada istri aku. Lebih baik Sandra tinggal di rumah sendiri mah, disanakan masih ada pembantu buat jagain dia,” sahut Arka kembali menolak usulan mamanya.
“Oh ya mama juga minta sekarang kamu ke rumah sakit jagain Sandra. Kasian dia sendirian, mama tutup dulu telponnya...”
Sampai sambungan telpon di putus Arka masih diam. Lelaki itu kesal, bagaimana tidak mamanya dengan gampangnya mengizinkan Sandra tinggal di mansion Alkavero dan menyuruh Serra istrinya tinggal semantara di rumah ibu mertuanya.
Kepala Arka serasa ingin pecah memikirkan, alasan apa yang harus diberikan pada istrinya. Belum lagi malam ini dia tidak akan pulang ke mansion dan mengingkari janji pada sang istri.
Arka balik menghampiri teman-teman yang menunggui di meja tempat nongkrong mereka.
“Ka lo kenapa? muka lo kusut banget.” Kali bukan Aldo yang bertanya melainkan Dimas.
“Gue harus pergi, kalian bahas aja berlima. Nanti hasil bahasan kalian sampaikan aja sama gue. Gue pergi dulu,” pamit Arka berlalu meninggalkan teman-temannya tidak menjelaskan alasannya.
“Arka lo mau kemana?” Teriak Aldo tetapi tak dihiraukan oleh Arka yang sudah sangat jauh dari tempat mereka.
__ADS_1
“Gue heran sama Arka, akhir-akhir ini gue perhatiin dia kayak tertekan gitu,” celetuk Farell.
“Tertekan gimana maksud lo,” sanggah Agung.
“Yah, kayak ada sesuatu yang disembunyiin dia dari kita,” sahut Farell.
Plak, dengan teganya Aldo menampol wajah Farell, yang bicara tidak nyambung.
“Gila lo main nampol aja,” umpat Farell.
“Lo kalau ngomong jangan ngasal. Kita ini udah sahabat lama sama Arka, mana mungkin Arka menyembunyikan sesuatu dari kita,” jelas Aldo.
“Stop bahas Arka! Kita gausah ngomongin teman sendiri, mending kita kembali bahas basket sekarang,” sanggah Dimas.
Akhirnya mereka kembali melanjutkan pembahasan basket.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di mansion, tepat dikamar. Seorang gadis tengah menunggu kepulangan suaminya. Hampir tengah malam belum ada tanda-tanda suaminya akan pulang atau setidak menelpon mengabari.
“Kamu dimana sih ka, jam segini kok belum pulang juga. Aku khawatir...” gumannya bicara seorang diri.
Serra hanya mondar-mandir dalam kamar, mau keluar dari kamar dirinya sangat malas turun ke lantai bawah.
“Hoam...” Serra menguap menutup mulutnya, mata sudah tak kuat lagi untuk melek.
Gadis itupun berbaring di ranjang sampai akhirnya tertidur pulas. Suaminya yang ditungguinya tidak akan pulang, karena harus kembali menjaga teman kecilnya di rumah sakit atas permintaan mama mertuanya.
🌷🌷🌷🌷
Bersambung. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
__ADS_1
Yuk follow ig author : @dianti2609
Terimakasih ❤