YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 153.


__ADS_3

Usai melaksanakan sholat maghrib berdua, kini Serra kembali rebahan di atas ranjang bersama Alrez. Serra meletakan kepala di atas dada bidang suaminya, tangan wanita itu asik memainkan ponsel membuka instagram, kebetulan ia sedang menscroll berbagai kuliner. Seketika langsung dibuat ngiler melihat layar ponsel yang menampilkan Hamburger yang mengunggah selera makan dengan tiba-tiba.


"Mas Rez," panggil Serra mendongak agar bisa melihat wajah suaminya yang sedang fokus pada ponselnya juga.


"Ada apa sayang heum?" Tanya Alrez lantas menghentikan membaca email yang masuk dan balik menatap istrinya.


"Aku kayanya kepengin makan sesuatu Mas, sumpah ngiler banget!" Ujar Serra menunggu respon suaminya, barulah ia akan mengutarakan apa yang menjadi keinginannya.


"Katakan saja sayang yang kamu pengin? Mas akan usahakan makanan itu ada di kota ini," balas Alrez sembari mengusap kepala istrinya dan sesekali menciumi.


Nampak Serra tersenyum lebar mendengar perkataan suaminya, "Aku pengin makan burger terenak disini, dimana Mas?" Tanyanya.


"Yaampun istriku ini ternyata lagi ngidam burger terenak," ujar Alrez, saking gemasnya mengecup bibir istrinya, dan ia juga tanpa sadar mengatakan istrinya ngidam, padahal tidak tau benar atau tidaknya kalimatnya.


"Ngidam? Mas jangan asal ngomong deh, orang aku gak hamil kok malah dibilang ngidam," balas Serra merengut kesal atas salah bicara suaminya.


"Iya sayang Mas tau, kita berdoa dan berusaha semoga dedek bayi cepat hadir dalam perut sayang. Mas gak sabar rasanya mau jadi papa," kata Alrez sembari mengusap perut rata istrinya serta berdoa agar buah hati yang keduanya tunggu segera dihadirkan ditengah-tengah keluarga mereka.


"Maaf juga Mas asal ngomong tadi, jangan kesal lagi ya. Ayo sekarang sayang siap-siap kita pergi ke burger terenak," ujar Alrez segera bangun dan berganti pakaian dengan mengunakan pakaian berlapis agar tubuh mereka hangat. Apalagi diluar sedang hujan salju, pastinya sangat dingin.


Dalam perjalanan menuju ke tempat Hamburger butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai tempat tujuan.


Sesampainya disana Alrez lekas memesankan burger dan kentang goreng serta minuman untuk mereka nikmati. Karena merasa sudah terlalu lama santai di Hamburger, saatnya mereka untuk kembali ke rumah dan beristirahat, besok malam keduanya akan pulang ke Indonesia.


Tiba di rumah, dan membuka pakaian hangat yang berlapis-lapis tadi. Bukannya langsung istirahat, Alrez yang kelewat mesum memeluk Serra erat, tangan nakal itu masuk ke dalam kaos oversize yang dikenakannya.


"Sayang, Mas cuma nagih janji kamu buat bercinta malam ini. Bolehkah Mas menyentuh mu sayang, kalau kamu ingin menolaknya katakan sayang. Mas gak keberatan buat berhenti sekarang juga, Mas gak mau bertindak memaksa, karena itu sama saja pemerkosaan," papar Alrez hendak menurunkan tangannya yang belum sempat meremes benda kenyal tersebut, ia juga ingin mundur.

__ADS_1


Namun tanpa di duga Serra menahan tangan suaminya yang hampir keluar dari bajunya.


"Sampai kapan pun aku milik mu Mas! Kita juga bukan pasangan kumpul kebo, tapi pasangan yang halal. Jadi sentuh aku, tuntaskan hasrat Mas pada istri halal mu ini," tutur Serra lalu berbalik berhadapan langsung dengan suaminya, tangannya juga mengalung dileher suaminya.


Alrez mengulum senyum bahagia, hanya mendengar kalimat istri kecilnya yang begitu dewasa dalam menyikapi kebutuhannya. Tetapi Alrez juga bukan orang yang hipersexsualitas gangguan yang membuat seseorang mengalami kecanduan itu. Hanya saja dirinya benar-benar ingin melakukan itu saat ini, entah apa yang menjadi pemicunya ia sendiri pun tidak tau.


Perlahan tapi pasti bibir mereka akhirnya menempel satu sama lain. Kedua tangan Alrez berada dipinggul Serra dan mengangkat istri kecilnya dalam gendongan sembari bibir yang masih bertaut. Alrez melangkah ke arah ranjang membaringkan istrinya dengan penuh hati-hati.


"Kamu cuma milik ku sayang, siapapun orang yang menjadi cinta pertama mu Mas gak perduli, intinya kamu sekarang telah menjadi milikku. Nyona Eldrick, satu-satunya wanita yang mampu meluluhkan hatiku sedemikian rupa. Bahkan aku rela menunggu janda mu, dan alhasil penantian ku akan cinta berbalas akhirnya terwujud. Kita menikah bukan pemaksaan salah satu pihak, tapi karena saling mencintai." Ungkap Alrez tak pernah bosan sekalipun mengatakan Serra adalah miliknya.


"Jika ada yang berani menyentuh istri kecil ku ini dan melukainya seujung kuku saja Mas pastikan orang itu gak akan selamat dari kematian," tukas Alrez menyambung kalimatnya dan membuat bulu kuduk Serra meremang.


"Serra milik Mas, aku yakin mereka akan berpikir berulang kali untuk menyakiti nyonya muda Eldrick ini. Sebab ada singa yang siap menerkam mereka saat itu juga," balas Serra menanggapi perkataan suaminya yang ia pikir hanya bercandaan saja, bukan hal serius. Mana mungkin suaminya bisa menjadi pembunuh berdarah dingin, mungkin kalau membalas perbuatan mereka iya, tetapi untuk membunuh ia tidak percaya, untuk saat ini cuma dianggap bercandaan.


Alrez kembali mencium Serra dan melanjutkan kegiatan mereka hingga satu jam kemudian berakhir. Sebetulnya Alrez masih ingin, tetapi melihat wajah kelelahan istrinya, pria itu mengurungkan niatnya dan sekarang mendekap istrinya dengan tubuh mereka dibungkus selimut tebal dan hangat serta tidak mengenakan apapun dalam selimut. Habis percintaan, keduanya enggan sekedar membersihkan diri akibat lelahnya merenggut kenikmatan bersama.


****


Hampir 3 jam mereka berada diluar, setelah mendapatkan semua barang-barang Serra dan Alrez bergegas kembali ke rumah untuk beristirahat dan akan dilanjut mengemas pakaian.


Waktu kini berganti malam, mereka lekas menuju airport agar tidak terlambat. Jadi mereka memutuskan berangkat lebih cepat dari waktu yang ditentukan.


"Sayang kok lidah Mas rasanya gatel," keluh Alrez manja saat keduanya telah berada dalam pesawat.


"Gatel? Tumben, apa mau sariawan ya. Mas coba buka mulut lebar, biar aku liat," pinta Serra menyuruh Alrez untuk membuka mulut.


"Gak ada apa-apa," ujar Serra.

__ADS_1


"Ya emang gak ada apa-apa sayang, orang bukan lagi sariawan kok," balas Alrez menatap lucu wajah menggemaskan istrinya.


"Lalu apa dong Mas?" Tanya Serra penasaran.


"Mas pengen susu dari pabriknya langsung," ucap Alrez ambigu, tak dimengerti oleh Serra yang masih agak polos belum tau arti dari kalimat kode tersebut.


"Memangnya pabrik susunya ada dimana Mas? Entar sampai Jakarta kita cari lokasinya, masih bisa nahan gatelnya kan Mas?" ujar Serra bertanya lagi.


"Gak perlu susah-susah mencari pabrik susunya sayang, kan pabrik ada di kamu." Setelah menyelesaikan kalimatnya mulut Alrez langsung dibekap Serra karena sadar arah pembicaraan suaminya kemana.


"Kita lagi dipesawat Mas, bisa gak mesumnya dikurangi atau ditahan gitu sampai rumah kita nanti," omel Serra.


"Gak bisa ketahan sayang, gatel banget pengin susu," pinta Alrez berharap istrinya akan menuruti keinginannya.


"Suamiku dimana pun tetap saja mesumnya gak ketahan," gerutu Serra melihat kesekeliling mereka, orang-orang pada tidur.


Serra akhirnya membuka pakaiannya yang kebetulan busui, mengarahkan salah satu dada ke mulut Alrez, dengan senang dan bersemangat Alrez langsung menghisapnya walaupun sebenarnya tidak ada susunya.


****


To be continue. . .


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609


 

__ADS_1


 


__ADS_2