YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 56


__ADS_3

Saat dibawah Serra memperhatikan Alrez terlihat marah berbicara dengan orang ditelpon. Serra tak mau ambil pusing, melanjutkan langkah ke dapur menyiapkan sarapan Ibunya berserta untuk Alrez. Sarapan buat Alrez telah Serra hidangkan di meja makan, tinggal membuatkan kopi saja yang belum.


Serra yang asik mengaduk kopi buatannya. Tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang.


"Lepas uncle." Percuma saja Serra memcoba melepaskan pelukan tangan kekar itu malah semakin mengeratkan pelukan.


"Uncle berapa kali aku harus mengingatkan mu, tentang permintaan ku," lirih Serra merasa terus saja dilecehkan, mengingat suaminya malah membuat ia merasa bersalah setiap kali mendapat sentuhan dari Alrez.


"Maafin saya! Saya butuh sandaran ra, dan hanya kamu yang bisa menenangkan hati, sekaligus mengendalikan emosi yang meledak-ledak dalam jiwa ini. Saya paham kamu pasti merasa diri mu tengah direndahkan karena perlakuan saya yang selalu menyentuh, entah itu memeluk maupun mencium secara tiba-tiba."


Alrez menghapus air mata Serra. Lalu merangkum wajah Serra yang menunduk tak mau menatapnya.


"Sekarang saya berjanji tidak akan mencium tanpa seizin darimu. Tapi bolehkah saya memeluk mu ketika saya butuh ketenangan," ucap Alrez.


Serra mengangkat wajah menatap bingung pria di depannya ini, masih dengan sisa air mata di pipinya.


"Sama saja uncle menyentuh ku, yang ku mau tak ada sentuhan fisik sedikitpun selama aku memenuhi syarat ini." Serra memprotes permintaan Alrez, menurutnya tak ada bedanya.


"Hanya memeluk saja ra, saya berjanji tidak ada gerakan tambahan," ucap Alrez menyakinkan gadisnya.


"Oke aku setuju, tapi jangan memeluk ku tiba-tiba. Uncle juga harus bersikap biasa saja denganku saat ada Arka. Aku enggak mau sampai Arka salah paham," jelas Serra.


"Hem, kau tenang saja. Saya pastikan Arka tidak akan mencurigai hubungan kita."


"Kita tidak ada hubungan apapun uncle. Hanya sebatas aku membayar hutang budi karena uncle telah berbaik hati membantu membayarkam biaya rumah sakit Ibu ku. Jadi jangan menganggap seakan-akan kita punya hubungan khusus." Sanggah Serra memperjelas semua.


"Aku akan membawa kopi uncle ke meja makan." Lanjut Serra melewati Alrez begitu saja dan meletakan kopi buatan.


"Ehm, bisa pasangkan dasi saya sebentar? Sebelum kamu naik ke lantai atas mengantar sarapan buat Ibu mu," ujar Alrez terlihat biasa saja mendengar ucapan gadisnya yang mengutarakan hubungan mereka.


Tanpa menjawab, Serra menaruh kembali nampan yang sempat diangkatnya. Lalu mengambil alih dasi ke tangan Alrez. Tangan Serra yang telah terlatih menyimpulkan dasi, kira-kira membutuhkan waktu semenit menyelesaikannya. Agar terlihat rapi Serra menyelipkan dasi di lipatan leher kemeja.


"Terimakasih.." Serra membalasnya hanya dengan mengangguk, kembali membawa nampan menaiki tangga.


***


Bell sekolah berbunyi menandakan jam istirahat, Arka dan keempat sahabatnya berjalan ke kantin. Arka melihat-lihat sekitar mencari keberadaan Serra tapi mata tak menemukan istrinya. Arka lupa menghubungi Serra tadi pagi, memberitahu istrinya bahwa tak bisa menjemputnya.


"Lo lagi nyarian siapa bro?" tanya Aldo memperhatikan gerakan mata Arka.

__ADS_1


"Gue nyarin Clara, tumbenan banget enggak ke kantin," bohong Arka padahal tengan mencari keberadaan istrinya.


"Lah iya tumben banget adek lo gak ke kantin," sambung Dimas.


"Oh iya Farell kemana?" tanya Agung menyadari salah satu sahabat mereka tidak ada.


"Menghilang lagi, heran Farell akhir-akhir ini males banget gabung sama kita ke kantin. Pasti ada aja alasan bilang izin ke perpus, rajin banget perasaan. Mungkin karna mendekati ujian, jadi dia mau belajar biar mendapatkan nilai memuaskan," tukas Fathur.


"Baguslah kalau Farell mau berubah, kita sebagai sahabat harus mendukung," ucap Arka. Mereka berempat mengangguk.


Aldo sedari memperhatikan kedua cewe seperti kebingungan mau duduk dimana. Kantin sudah sangat penuh, tempat duduk tidak ada yang kosong kecuali tempat mereka, ada tiga kursi yang kosong. Aldo merasa kasihan datang menghampiri kedua cewe tersebut.


"Ayo gabung sama kami saja. Gue tau kalian kebingungan mencari tempatkan," ujar Aldo.


Rachel dan Nabila saling menatap satu sama lain. Lewat tatapan Rachel seolah-olah bertanya pada Nabila. Terima atau tidak ajakan Aldo.


"Ayo, gausah banyak mikir. Bisa-bisa bell masuk bunyi, kaliam sendirian yang nanggung ga bisa makan." Aldo lantas mengambil nampan dari tangan Nabilla.


"Udahlah Bill, sekali-kali kita gabung sama cowo-cowo tampan yang paling di gilai satu sekolah. Kapan lagi coba," ujar Rachel menarik sahabatnya.


"Mereka siapa Al?" tanya Dimas menatap Rachel dan Nabila bergantian.


Rachel dan Nabila pun memperkenalkan diri mereka. Saat berjabatan tangan dengan Arka, jantung Rachel berdetak kencang. Nabila sadar Rachel sedari tadi masih memegang tangan Arka.


"Chel tangan lo lepas," bisik Nabila.


Rachel sontak menarik tangan dan tersenyum malu pada Arka.


"Maaf," cicitnya.


"Tidak papa," sahut Arka singkat.


"Bill, Serra kenapa akhir-akhir ini jarang masuk sekolah?" tanya Aldo.


"Kemarin Serra sempat cerita ibunya kecelakaan, jadi kemungkinan ia gak masuk karena ngerawat ibunya. Apalagi Serra cuma punya ibunya, orangtua satu-satunya yang dia miliki," tutur Nabilla.


"Kenapa enggak ngasih tau gue, kalau gue tau Ibunya kecelakaan gue mau jenguk," ujar Aldo.


Nabilla tersenyum menampilkan deretan gigi rapinya, "Kita juga ga sempat jenguk, Serra ngasih taunya pas udah pulang ke rumah.."

__ADS_1


Arka mendengarkan percakapan Aldo dan dua sahabat istrinya. Arka merasa Aldo memiliki perasaan terhadap istrinya. Tetapi ia tak bisa menuduh sahabatnya begitu saja, Apalagi ia juga tak pernah mendengar Aldo cerita tentang cewek disukainya. Aldo memang tertutup soal perasaannya, makanya cowo itu sulit di tebak.


"Kapan-kapan kita kerumah Serra gimana?" tanya Aldo mengajak Nabilla dan Rachel.


"Percuma Al.. Serra selalu banyak alasan kalau kita mau ke rumahnya," ujar Rachel.


"Benar kata Rachel. Serra sepertinya tidak mau kita ke rumahnya karena minder, padahal kita biasa aja. Berapakali sudah kita mau ke rumahnya Serra selalu mencari-cari alasan," jelas Nabilla.


"Nanti deh, gue coba cari tahu alamat rumahnya. Kita datenging dia diam-diam," ucap Aldo.


"Ekhem, Al kalian akrab banget, ngobrolnya lancar. Kita kita di lupain, ga diajakin ngobrol juga," kata Agung menyindir halus.


"Kan mereka teman sekelas gue bro. Kalau mau ikut nimbrung ya ngomong aja bro. Pasti di sahut kok, iyakan Bill?" Aldo malah meminta persetujuan Nabilla saja.


"Eung, iya.." jawab Nabilla.


"Tuh dengarkan, yaudah ngobrol aja.."


Akhirnya mereka mengobrol, mencoba untuk tidak canggung satu sama lain. Bahkan Rachel pun sekali-kali bertanya-tanya pada Arka soal basket. Rachel memang tertarik dengan basket, tapi karena ia tidak bisa bermain basket sama sekali membuatnya mengurungkan niat untuk ikut eskul itu saat kelas 10.


"Nanti bisa gue ajarin kalau mau," kata Arka.


"Wah, benaran mau ngajarin gue," ucap Rachel memastikan.


Arka membalasnya dengan anggukan saja. Mereka lalu mengbrol pembahasan yang lainnya.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓

__ADS_1


__ADS_2