
Arka mendesah kasar, kemudian bersandar pada sandaran sofa. Semantara otak lelaki itu bekerja memikirkan bagaimana berbicara dengan sang istri memintanya tinggal di rumah ibu mertuanya untuk semantara waktu.
“Arrghh...” Arka berteriak dan menggosok rambutnya kasar hingga berantakan.
Serra tentu mengenali suara itu. Kemudian melanjutkan berjalan menuruni anak tangga. Langkahnya ia buat lebih cepat, karena masih merasa marah Arka telah membohonginya membuat gadis itu enggan bertemu dan bertatap muka dengan suami.
Tadi pagi saat Serra bangun, gadis itu tak melihat suaminya tidur disampingnya. Berarti suaminya memang tidak pulang semalam.
Arka menoleh dan melihat istrinya menuju dapur. Lelaki itu juga berdiri mengikuti istrinya. Ia harus bicara hari ini juga, tetap harus minta maaf diutamakan, karena ia bersalah tidak pulang semalaman.
Saat menuangkan air dalam gelas, tiba-tiba saja Serra merasakan seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. Serra tahu siapa pelakunya, ia tetap memilih diam, menunggu pelakunya bicara.
“Sayang aku minta maaf soal semalam aku tidak pulang,” ucap Arka meletakan dagu di bahu istrinya.
Serra yang masih marah, tidak menggubrisnya lebih memilih untuk diam. Selesai minum, Serra melepaskan tangan Arka yang melingkar di perutnya. Setelah terlepas barulah ia pergi begitu saja meninggalkan Arka tanpa sepatah kata pun.
Serra berbaring miring di ranjang, lalu menangis. Ia merasa berdosa telah mendiami suaminya.
Arka yang sempat terdiam pun sadar dan menyusul Serra ke kamar. Melihat bahu Serra yang bergetar, Arka semakin merasa bersalah telah membuat istrinya menangis.
Arka berjalan pelan mendekati ranjang dan merebahkan tubuh disini samping istrinya. Serra merasa pergerakan ranjang disampingnya, tidak memperdulikan sama sekali. Malah berpura-pura tidur.
“Aku tau kamu tidak tidur,” ujar Arka bicara dekat telinga istrinya dan melingkarkan satu tangan diperut istrinya.
“Aku minta maaf sayang membuatmu menangis, tolong lampiaskan kemarahan mu padaku, aku tidak bisa melihat mu menangis seperti ini...” lanjut Arka.
Serra masih mengacuhkan Arka yang terus mengajak bicara.
“Sayang pleasee maafkan aku!” Mohon Arka tidak berhenti untuk mengucapkan kata maaf.
“Hiks, jelaskan mengapa kamu tidak pulang semalam,” pinta Serra parau karena teredam isakannya.
“Aku akan jelaskan, tapi berbaliklah...”
Perlahan Serra berbalik menghadap Arka, tapi matanya menatap kearah lain. Ia masih belum mau menatap suaminya.
“Tidak papa kamu tak menatapku, aku mengerti!”
“Semalam aku memang nongkrong bersama teman-temanku, tiba-tiba mama menelpon meminta aku ke rumah sakit menemani Sandra disana. Karena orangtua Sandra mendadak harus ke luar negeri. Aku terpaksa sayang, kamu tau kan aku tidak bisa menolak permintaan mama. Tolong maafkan aku sayang!” Arka menatap istrinya penuh permohonan.
Serra tidak tega melihat suaminya yang terus saja memohon padanya untuk di maafkan. Membuat akhirnya luluh, Serra menatap mata suaminya dan memberikan anggukan.
“Tapi jangan diulangi lagi, kamu harus jujur sama aku dan jangan ada kebohongan diantara kita,” ucap Serra.
__ADS_1
Arka mengangguk, membawa kedua tangannya menghapus sisa air mata yang menempel di pipi sang istri. Arka mendekatkan wajahnya, mencium lembut bibir istrinya menyalurkan rasa ingin menyentuh istri lebih dari berciuman. Tetapi tak bisa, ketika mengingat pesan mamanya.
Arka mengakhiri ciuman mereka sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Arka menciumi wajah istrinya dan membawa kepala istrinya bersandar di dadanya.
“Makasih telah memaafkan aku,” ucap Arka.
Serra mengangguk dalam dekapan Arka..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
-Istanbul, Turki
Di sebuah kamar hotel mewah dengan cahaya lampu cukup terang, membangunkan seorang pria dari tidurnya yang nyaman. Pria itu menggeliat, merenggangkan tubuh menarik-narik tangan dan badan.
Arlez beranjak dari ranjang berjalan masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya. Arlez menatap pantulan tubuh polosnya dari cermin besar dalam kamar mandi hotel. Ia menggosok rambut basahnya perlahan, kemudia melangkah keluar dengan handuk melilit dipinggang.
Tubuhnya seakan terasa segar kembali pagi ini, dengan pakaian setelan serba mahal. Arlez melangkah, berdiri dekat dinding kaca hotel yang begitu besar, untuk sekedar melihat alam mempertontonkan pemandangan yang sangat indah dari balik dinding kaca.
Tokk... tokk...
Pintu kamar hotel diketuk dari luar, membuat Arlez melangkah ke pintu untuk membukanya. Di depan pintu asisstennya berdiri berhadapan.
“Apa tuan sudah siap? Kita ada meeting sekitar 30 menit lagi di restoran, mobil yang akan mengantar kita sudah menunggu dibawah, kita juga akan sekalian sarapan disana tuan,” tutur Angga.
“Ada berapa pertemuan hari ini?” Tanya Arlez dingin.
“Tidak bisakah kau saja yang menghadiri pesta itu, saya merasa sangat malas pergi kesana,” pungkas Arlez.
“Tuan Altan sendiri yang meminta anda untuk datang dan tak boleh diwakilkan,” ucap Angga.
Mengapa Arlez sangat malas datang ke pesta, itu karena dia pernah hampir melakukan hubungan bersama wanita tak dikenalnya. Akibat terlalu banyak minum. Beruntunglah waktu itu ia masih sadar dan langsung mendorong kuat wanita yang mencoba menggodanya, lalu meninggalkan wanita itu begitu saja dalam sebuah ruangan.
“Baiklah saya akan memenuhi undangan pesta itu, tetapi kau akan ikut pergi kesana...” Putus Arlez berjalan melewati Angga yang masih berdiri ditempatnya.
“Dia yang disuruh datang, mengapa aku harus ikut juga. Padahal setelah ini aku ingin beristirahat,” desah Angga.
“Angga, berapa lama lagi kau akan berdiri depan pintu kamar hotel saya!” Seru Arlez mengeraskan suaranya agar didengar oleh Angga.
Angga terlonjak kaget mendengar seruan bossnya. Angga langsung berbalik dan berjalan cepat menyusul bossnya yang telah berjalan duluan di depan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arlez dan Angga melanjutkan perjalanan mereka menuju restoran yang berbeda. Asissten tuan Benedicto menghubungi Angga agar bertemu di restoran lain.
__ADS_1
Arlez dan Angga segera masuk ke dalam restoran, setelah Angga menyebutkan meja atas Benedicto. Pelayang restoran mengarahkan mereka ke meja tersebut, disana telah ada dua orang yang menunggu. Arlez sedikit bingung pasalnya disana tidak ada tuan Benedicto.
“Selamat datang tuan Arlez dan tuan Angga, mari silahkan duduk.” Sambut asissten tuan Benedicto bernama Demetrio.
“Kami telah memesankan minuman dan makanan, jika anda ingin memesan yang lain. Saya akan memanggilkan pelayan,” ujar Demetrio.
“Ini sudah cukup...” ucap Arlez singkat.
Luciana tak melepaskan tatapan pada pria tampan yang barusan berbicara sangat singkat. Ia merasa tertarik dengan pria yang duduk berhadapan dengannya.
“Baiklah kita akan mulai pembahasan meeting ini,” lanjut Demetrio.
“Tunggu! Dimana tuan Benedicto?” Tanya Angga tak melihat kehadiran tuan Benedicto dipertemuan mereka, hanya ada Demetrio selaku asissten dan seorang perempuan yang tak dikenal.
“Oh maafkan saya lupa memberitahukan anda, tuan Benedicto tak bisa hadir disini karena harus menemani istrinya ke sebuah pesta,” jelas Demetrio.
“Lalu siapa wanita disamping anda?” Angga kembali bertanya, melirik sekilas wanita yang berada disamping asissten Benedicto.
Demetrio menatap Luciana, menyuruh nonanya mengenalkan nama, bicara lewat tatapan mata.
“Ehem! Kenalkan saya Luciana Margareta Benedicto, saya adalah putrinya. Karena daddy saya tak bisa memenuhi pertemuan dengan anda, jadi sayalah yang akan menggantikan semantara..” Luciana mengenalkan dirinya, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali dari kedua pria dihadapan hanya acuh saja.
“Bisakah kita mulai pembahasannya,” tukas Arlez
Demetrio segera menjelaskan pertemuan mereka dan menerangkan sedikit tentang pembahasan kerja sama mereka yang semantara akan digantikan oleh Luciana.
“Sampai disini saja pertemuan kali ini, untuk selanjutnya nanti akan kita bahas lagi dilain waktu. Terimakasih tuan Arlez dan tuan Angga sudah mau memenuhi pertemuan ini...” Demetrio bicara mengakhir pertemuan mereka.
Mereka berempat sama-sama berdiri, untuk mengakhiri pertemuan, mereka berempat saling berjabat tangan. Luciana seperti enggan melepaskan jabatan tangan dengan Arlez.
“Ehem! Nona bisa lepaskan tangan saya,” dehem Arlez menegurnya. Luciana segera melepaskan jabatan tangan mereka.
“Maaf tuan.” Spontan Luciana mengatakan maaf.
“Anda terlalu bersemangat sekali menjabat tangan tuan saya nona,” ujar Angga.
Luciana hanya membalasnya dengan senyuman, dalam hati wanita sangat kesal mendengar nada mengejek dari perkataan asissten Arlez.
...****************...
Bersambung. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
__ADS_1
Yuk follow ig author : @dianti2609
Terimakasih ❤