YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 163


__ADS_3

Alrez heran melihat Serra yang berpenampilan rapi saat keluar dari Walk-in closet. Biasanya hari minggu seperti ini Serra hanya menggunakan daster rumahan, karena mereka memang sedang tidak berencana untuk keluar rumah.


"Sayang mau kemana hem? kok rapi banget," ujar Alrez bertanya.


"Yaampun aku lupa bilang sama Mas, tadi malam mama telpon minta temanin arisan," ucap Serra menepuk jidat pelan.


"Kenapa gak ditolak sayang? Mas gak suka kamu ikut mama arisan, paling mama cuma mau pamer bentar lagi bakal dapat cucu dari Mas. Gak usah pergi ya, biar Mas telpon mama kalau kamu gak jadi ikut karena Mas larang," papar Alrez menarik tangan Serra hingga istrinya jatuh ke pangkuan nya yang duduk di atas ranjang.


"Aku gak enak nolak, jadi ya aku mau. Karena ku pikir juga kita gak ada mau jalan-jalan kan. Mas gak papa deh sekali-sekali aku temanin mama, gak boleh berpikir buruk tentang mama, belum tentu mama punya niat kayak gitu Mas. Kamu ishh jelek banget pikiran nya soal mama," kata Serra menyentil bibir suami nya agar tidak bicara seenak jidat.


"Tapikan sayang hari ini Mas mau dikelonin sama sayang. Masa hari libur begini Mas di tinggal sendirian di rumah," keluh Alrez bersikap manja, dia mengeratkan tangan nya memeluk pinggang istrinya.


"Yaudah mending gini aja, Mas ikut aja anterin aku sama mama. Biar Mas gak sendirian," urai Serra mengajak suami nya ikut.


Alres menggeleng, "Big no sayang, asal sayang tau teman-teman mama itu ganjen." Ujarnya menolak ajakan istri nya, sebab dia kenal betul bagaimana sifat teman-teman arisan mama nya. Karena dia pernah sekali menemani mama nya waktu masih remaja.


"Kalau gitu mas dirumah aja, nunggu aku pulang. Janji aku gak lama kok," kata Serra dan Alrez mengangguk.


Tok... Tok... Tok...


Serra melepaskan diri dari Alrez ketika mendengar suara ketukan pintu. Ia bergegas membuka pintu kamar untuk melihat siapa orang yang mengetuk.


"Ada apa mba?" Tanya Serra pada Mba Rahmi ART nya yang bertugas sebagai bersih-bersih.


"Itu nyonya dibawah ada nyonya Alia yang menunggu anda," beritahu Mba Rahmi.


"Oh sudah ada mama, tolong bilang sama mama saya buat tunggu sebentar," pinta Serra agae Mba Rahmi menyampaikan.


"Baik nyonya." Mba Rahmi segera turun ke bawah untuk menyampaikan pesan Serra.

__ADS_1


"Mas aku berangkat ya, dibawah sudah ada mama," kata Serra berpamitan dengan mencium punggung tangan Alrez serta tak lupa mencium seluruh wajah suami nya dan terakhir di bibir.


"Peluk dulu sayang." Manja Alrez, begitulah sikap Alrez jika sedang bersama Serra. Alrez tak pernah menunjukkan sikap dingin dan datarnya ketika berduaan dengan Serra. Pokoknya Alrez berubah total saat bersama istri tercintanya.


"Lepas ya Mas, nanti pulang dari nemani. mama kamu aku kelonin," kata Serra membuat senyum Alrez terbit.


"Kalau teman-teman mama ngomongin sayang yang engga-engga. Mas minta sayang jangan diam aja, bales perkataan mereka. Mengerti sayang?" Pesan Alrez.


"Iya iya suamiku yang bawel," ucap Serra.


"Hati-hati sayang, jaga debay. Awas jangan sampai tangan ibu-ibu ngelus perut kamu, Mas gak izinin pokoknya." peringat Alrez.


"Iya Mas, sudah dulu ya kasian mama nunggu lama," ujar Serra mulai agak kesal, karena Alrez masih saja memeluk pinggangnya.


Akhirnya Alrez melepaskan pelukannya supaya istrinya bisa pergi.


"Gak papa sayang, mama ngerti kok, pasti Alrez susah banget buat kasih izin kamu keluar kan," tebak Alia, hapal dengan perubahan sikap Alrez yang amat begitu posesif pada Serra.


"Mama tau aja," kata Serra tersenyum.


****


Sekarang mereka sudah sampai di restoran yang menjadi tempat arisan para ibu-ibu sosialita. Entah kenapa Serra menjadi deg deg'an bertemu teman-teman mama mertuanya, apalagi ini pertama kali baginya.


"Semoga gak ada yang julid ibu-ibunya ya allah." Batin Serra berdoa.


"Jeng Alia, siapa itu yang disamping jeng? Saya baru pernah liat." Tanya salah satu teman mama Alia, ketika melihat ku yang berada di samping mama mertuaku.


"Kenalin jeng-jeng semua ini menantuku, Serra istrinya Alrez putra bungsuku." Kata mama Alia yang bersemangat mengenalkan ku pada semua para ibu-ibu arisan, yang ku hitung mungkin ada sekitaran 15 orang.

__ADS_1


"Owalah istrinya Alrez toh jeng, lama gak liat jadi lupa." Sambung Ibu-ibu yang berhijab merah.


Serra menampilkan senyum manis pada seluruh Ibu-ibu, dia juga berjalan untuk menyalami mereka semua, bukan karena pencitraan, hanya saja sebagai bentuk menghormati dan menghargai yang lebih tua, dia juga menjaga nama baik mama mertuanya.


"Nak Serra hamil ya, sudah berapa bulan usianya?" Tanya Ibu-ibu teman mama.


"Enam bulan tante," jawab Serra ramah.


"Wah nda lama lagi lahiran, di jaga kandungan baik-baik ya nak Serra."


"Iya Ibu."


"Aslinya cantik banget ya istrinya Alrez, mungkin karena itu Alrez menyembunyikan istrinya biar gak di goda lelaki lain."


"Ternyata Alrez posesif juga."


Masih banyak lagi berbagai perkataan Ibu-Ibu teman mama mertuaku bicarakan tentang ku. Tapi semua yang mereka katakan hal-hal positif tidak ada yang menjelekan sama sekali. Hingga ada salah satu Ibu-Ibu yang kurang suka terhadap ku, jadi dia membandingkan diriku dengan putrinya yang tidak aku ketahui siapa.


"Halah jeng-jeng semua mau saja ketipu sama perempuan itu. Paling dia melet Alrez biar bisa dinikahin, dimana-dimana juga masih cantikan putriku Luciana. Gara-gara dia putriku gak jadi dinikahin Alrez, memang dasarnya pelakor miskin butuh belaian plus uang banyak," tuduh Margareta sembarang bicara. Margareta melakukan ini untuk membalas kesakitan putrinya gara-gara penolakan Alrez yang begitu kejam.


Serra menatap mama Alia untuk melihat ekspresi mama mertuanya. Kelihatan sekali mama mertuanya menahan amarah yang segera ingin meledak. Serra mendekati mama Alia dan mengelus lengan mama mertuanya supaya agak tenang dan terkendali.


"Jaga bicara mu Reta, menantuku bukan orang yang seperti yang kamu katakan. Aku lebih dulu mengenal menantuku ketimbang kamu, jadi jangan asal bicara yang engga-engga soal menantuku," sarkas mama Alia mengepalkan tangannya, ingin rasanya dia menghajar mulut temannya itu, untunglah ada menantunya yang menahan dirinya supaya tidak melakukan itu.


"Loh emang benar kenyataannya begitukan kan jeng, pernikahan Arlez dan putriku batal gara-gara perempuan sundal ini yang menggoda Alrez hingga hamil." Hinaan terus saja keluar dari mulut Margareta.


Serra kepalang emosi dituduh yang tak pernah dilakukannya pun menghampiri Margareta. Entah mendapat keberanian dari mana tangan Serra menarik lengan Margareta supaya berdiri berhadapan denganya.


PLAK

__ADS_1


__ADS_2