
Dua bulan kemudian.
Kandungan Serra telah memasuki usia 3 bulan. Awal pertama masa kehamilan Alrez yang mengalami mual berlebihan hingga sempat rawat inap dirumah sakit, hanya beberapa hari saja. Namun Serra harus ekstra sabar mengahadapi perubahan sikap suaminya yang cenderung seperti anak kecil, apa bila tidak dituruti akan 'ngambek'.
Tetapi beruntunglah Alrez memiliki istri seperti Serra. Wanita penyabar dan selalu berpikir dewasa.
Morning Sickness Alrez memang sudah hilang digantikan dengan mengidam aneh-aneh. Contohnya sekarang ini, Serra harus menunggu pria itu pulang dan tak membolehkan Serra untuk tidur duluan.
"Tumben banget papa kamu minta ditungguin nak, biasanya juga minta mama tidur duluan. Engga papa ya nak kita tungguin papa." Serra mengajak anaknya yang masih dalam kandungan berbicara, sambil mengelus perutnya yang belum kelihatan.
Jam sepuluh lewat, belum juga ada tanda-tanda suara mesin mobil Alrez tiba. Beberapa kali Serra mengucek matanya agar tak tertidur.
"Mas Alrez kok belum nyampe juga, padahal udah dua jam yang lalu bilang otw pulang," gumam Serra merasa jengkel, ingin sekali rasanya ia tinggal masuk kamar, tapi ia tak tega.
"Oke nak, kita tunggu papa mu sampai jam 11 belum nyampe juga. Baru kita tinggal ke kamar, bodo amat papa mu marah, kita marahin balik," kesal Serra melipat tangan didada dan wajah merengut.
Selang beberapa menit kemudian, suara mesin mobil terdengar. Senyum Serra langsung mengembang, bumil pun berdiri membukakan pintu sebelum suami tercinta masuk.
"Assalamualaikum sayang, maaf mas telat banget pulangnya," ucap Alrez mencium kening istrinya dan menyerahkan jas kerja, karena tas kerja ia sendiri yang membawanya.
"Waalaikumsalam, hemm iya," jawab Serra tak enak didengar telinga Alrez.
"Sayang kamu marah?" Tanya Alrez mulai keluar sifat anak kecilnya.
"Masuk Mas! Bahas di dalam aja," ujar Serra segera berjalan duluan meninggalkan Alrez yang masih mematung dengan mata berkaca-kaca.
"MAMA!!!" Teriak Alrez memanggil Serra dan membanting pintu utama, hingga kedengeran sampai pos satpam.
BRAK!!
"Astagfirullah." Satpam yang berkerja beristigfar.
"Itu tuan lagi kenapa ya din sama nyonya, berantem kali ya," ujar Wandi menebak.
__ADS_1
"Sembarangan kamu kalau ngomong Wan, mana mungkin tuan sama nyonya berantem, wong suara tuan kedengeran kaya ngerengek gitu, pastinya lagi manja-manjaan," balas Saripudin yang kerap dipanggil Udin.
"Hah emang iya din?" Tanya Wandi penasaran.
"Makanya kalau punya telinga itu korek, biar pendengaran mu tuh jelas," kata Udin, kemudian berlalu meninggalkan Wandi masuk ke dalam pos jaga.
•••
Serra memasukan jas suaminya ke dalam keranjang pakaian kotor. Kemudian wanita hamil itu berjalan masuk ke walk-in closet mengambilkan piyama untuk suaminya.
"Sayang ma-maaf, jangan diemin aku," ujar Alrez memeluk Serra dari belakang.
"Mandi Mas, jangan peluk-peluk ih kamu banyak kuman," protes Serra melepaskan tangan Alrez yang berada diperutnya.
"Engga mau, sebelum dimaafin," ucap Alrez kembali ingin memeluk Serra, namun bumil tersebut berhasil menghindar.
"Mandi! Setelah itu baru jelasin mengapa Mas pulang telat." Pungkas Serra meninggalkan Alrez di dalam kamar.
"Argghh! Sialan gara-gara meeting itu, istri kecil jadi marah," umpat Alrez kesal, sambil mengacak rambut menjadi berantakan.
"Perintah ratu siap laksanakan," balas Alrez langsung berjalan masuk kamar mandi, ia tidak ingin menambah masalah.
Serra masuk kembali kedalam kamar membawa nampan berisi makanan untuk suaminya. Serra tau Alrez pasti belum makan malam, karena suaminya lebih menyukai masakan istrinya, ketimbang masakan diluar.
"Mas stop!" Seru Serra menghentikan Alrez yang hendak memakai piyama, Alrez menatap istrinya dengan menaikan alis seolah bertanya.
"Ck! Kebiasaan kamu gak pernah berubah, selalu lupa ngeringin rambut," decak Serra mendorong badan kekar suaminya agar duduk di meja rias.
"Sengaja sayang, biar istri kecil ku yang melakukan," ucap Alrez mendongak menatap lembut istrinya.
"Huh untung sayang," balas Serra, lalu tangan dengan lihai menggosok rambut suaminya.
"Selesai! Sekarang boleh pakai piyama dan lanjut makan, harus cepat jangan lama. Lama aku tinggal tidur duluan," perintah Serra sedikit memberi Alrez ancaman.
__ADS_1
Tentu saja Alrez tidak mungkin membiarkan Serra tidur sebelum mengeloni dirinya. Entahlah, malam ini Alrez ingin dikeloni.
Serra begitu telaten menyuapi Alrez hingga makanan dalam piring tak tersisa lagi. Sungguh ia senang setiap kali Alrez menghabiskan masakan yang dibuat oleh tangannya sendiri.
"Alhamdulillah kenyang sayang."
"Tunggu sebentar Mas aku taruh piring ke dapur," ucap Serra hendak bangkit dari duduknya tapi suara Alrez menghentikan pergerakan istri kecilnya.
"Gak, tetap disini aja sayang. Biarin aja piringnya, besok pagi aja kebawahnya," sergah Alrez menarik lembut lengan istrinya hingga duduk dipangkuannya.
"Sekarang kamu dengerin Mas cerita tentang Mas yang telat pulang sampai dua jam. Pertama-pertama Mas mau minta maaf untuk itu," tukas Alrez menyandarkan dagu ke bahu istrinya.
"Iya aku maafin, tapi jangan diulangi lagi. Aku khawatir, apalagi Mas gak ada kabarin sama sekali," ungkap Serra.
"Mas tadi sebenarnya sudah pulang, saat masih dalam perjalanan pulang Angga tiba-tiba telpon Mas dan ngasih kabar mendadak tentang meeting sama perusahaan asing, yang tidak bisa diundur hari lain. Jadi Mas terpaksa putar balik menuju restoran yang menjadi tempat meeting, saat Mas ingin menghubungi kami, handphone Mas lowbet sayang." Jelas Alrez panjang lebar, tidak sedikitpun kebohongan yang ia tutupi dari istrinya.
"Pokoknya lain kali, kalau waktunya jam pulang, Mas harus pulang, gak mau tau ada meeting penting sekalipun, bodo amat gak perduli," ketus Serra turun dari pangkuan Alrez.
"Ayo tidur!" Serra mengajak Alrez menuju ranjang king size mereka yang muat empat orang.
Mendengar nada ketus Serra, membuat Alrez mengurungkan niatnya yang minta dikelonin. Alrez mengintip Serra yang sepertinya telah tidur. Sedangkan Alrez matanya sama sekali tak bisa diajak kompromi, ia sedari tadi gelisah membuat Serra yang tadinya tidur menjadi kebangun.
"Kenapa Mas? Belum tidur, ada yang lagi kamu penginin?" Tanya Serra memperhatikan wajah suaminya.
Alrez mengangguk, "Pengin dikeloni, pengen itu juga." Tangan nakal Alres menunjuk dada istrinya.
"Yaudah sini dekatan," kata Serra membuka kancing piyama, mengeluarkan benda kenyal kesukaan suaminya.
"Elusin kepala aku sayang," rengek Alrez manja.
"Tiap hari manja kamu semakin menjadi Mas, gimana kalau karyawan kamu tau kalau boss mereka yang terkenal kutub selatan ini saat dikantor berubah menjadi kucing menggemaskan ketika bersama istrinya." Batin Serra tersenyum, tapi Alrez tak bisa melihat senyumnya.
Serra menunduk melihat Alrez ternyata sudah tertidur. Ia lalu mencium kening suaminya.
__ADS_1
"Selamat tidur nyenyak bayi gede ku."