YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 165


__ADS_3

Seluruh keluarga tengah berkumpul di depan ruang operasi, termasuk Serra dan Alrez pun juga ada disana. Ketika dalam perjalanan pulang ke rumah Alrez mendadak mendapat telpon dari sang kakak Alka, bahwa menantu akan melahirkan.


Awal Alrez enggan datang ke rumah sakit, karena disana sudah pasti ada Arka si keponakan kurang ajar yang masih mencintai istri nya. Alrez percaya istri nya tidak ada rasa lagi pada si mantan suami. Namun tidak dengan keponakan kurang ajarnya yang gamon (gagal move on).


"Kita ga usah ke rumah sakit ya sayang, biar tunggu kabar aja," ujar Alrez berharap istri nya mengerti yang tengah Ia khawatirkan.


"Ayolah Mas kita ke rumah sakit, aku pengen tau juga keadaan Rachel gimana," bujuk Serra bersikeras tetap kekeh ingin ke rumah sakit.


"Sayang disana pasti ad-...


"Arka maksud Mas? Ya Arka pasti ada, kan dia suami nya Rachel. Sudah cukup Mas cemburu nya, lagian aku datang sama kamu ga sendiri, dia pasti ga berani mendekati aku," papar Serra menyela omongan Alrez.


"Tetap saja Mas masih kesal sama yang kemaren, bawaan Mas kalau ketemu keponakan kurang ajar itu pengen Mas bikin patah tangan nya biar ga bisa sembarang mau nyentuh kamu," sarkas Alrez mengingat kejadian beberapa bulan lalu.


"Sabar Mas sayang," ucap Serra lembut mengusap dada bidang suami nya agar tenang.


Perlahan Alrez menghembuskan napas nya, berusaha mengontrol emosi agar lebih tenang berhadapan dengan Arka nanti nya, jika dia berani macam-macam lagi.


"Oke baiklah demi keinginan sayang, Mas turutin," ucap Alrez akhirnya mengalah dan membelokan mobil menuju rumah sakit.


***


"Tante Ranti, Om Reza," sapa Serra mendekati kedua orang tua Rachel dan menyalami tangan mereka.


"Serra." Ranti memeluk Serra yang dianggap sudah seperti anaknya sendiri, karena mereka bersahabat sudah cukup lama. Meskipun kemaren sempat tidak bertegur sapa, namun sekarang mereka sudah baikan dan kembali bersahabat seperti dulu lagi.


"Tante yang sabar ya, Serra yakin mereka akan baik-baik saja," ucap Serra mengusap punggung wanita paruh baya yang telah ia anggap seperti Ibunya.


"Tante takut Rachel dan bayi nya ga selamat sayang," ungkap Ranti menangis.


Satu jam kemudian dokter keluar bersama perawat yang membantu dalam menangani operasi.

__ADS_1


"Dokter gimana keadaan putri saya?" Tanya Reza menghampiri dokter tersebut.


"Begini pak, mohon maaf kami tidak bisa menyelamatkan cucu anda, akibat benturan keras yang terjadi pada kandungan putri anda membuat bayi nya meninggal di dalam perut sang Ibu."


Penjelasan dokter membuat beberapa orang menutup mulut karena syok mendengar berita duka ini. Ranti sampai pingsan, tapi ditahan Serra, Alrez yang melihat istri nya kesusahan pun membatu menahan tubuh Ranti.


"Terus keadaan putri saya dok?" Reza kembali bertanya.


"Ibu Rachel akan kami pindahkan ke ruang rawat pak," ujar dokter.


Kini mereka berada di TPU (Tempat Pemakaman Umum). Semua orang mendoakan bayi yang baru saja dikebumikan. Arka sendiri merasa terpukul dan sangat merasa bersalah, karena dirinyalah anaknya meninggal, sungguh dia benar tak sengaja mendorong Rachel.


"Sabar son, papa yakin allah pasti punya jalan terbaik untuk kalian. Anak mu akan menjadi syafa'at untuk kalian nanti," ujar Alka menguatkan putra sulung nya.


"Sekarang yang perlu kamu pikirkan bagaimana caranya menjelaskan pada Rachel tentang anak kalian," kata Alka lagi.


"Arka pasrah jika Rachel ingin menghukum Arka seberat-beratnya karena ini memang salah Arka," ungkap Arka, tidak di mengerti Alka sama sekali apa maksud perkataan putra nya.


"Hiks Mas aku ga bisa bayangkan gimana perasaan Rachel pas tau anak yang dia nantikan meninggal." Tangis Serra juga pecah dalam pelukan Alrez yang senantiasa menenangkan Serra.


"Kita doakan saja semoga dia bisa kuat menghadapi semua ini," balas Alrez menanggapi omongan istri nya.


"Mas kita ke rumah sakit lagi kan, aku pengin liat keadaan Rachel dan menguatkannya," ujar Serra menginginkan ikut kembali ke rumah sakit untuk melihat sahabat nya itu.


"Tidak sayang, kita langsung pulang. Sayang juga perlu istirahat, hari ini sayang sudah banyak beraktivitas di luar," bantah Alrez tidak akan menuruti keinginan istri nya.


"Tapi Mas, Rachel pasti butuh aku," sahut Serra mulai mendebat suami nya.


"Keluarga yang lain masih banyak untuk menemaninya sayang, jadi cukup mengkhawatirkan sahabat mu itu. Sekarang kamu harus memikirkan debay yang perlu mama nya buat rehat," tegas Alrez tak suka istri nya yang membantah perkataannya.


"Mas," rengek Serra mencoba merayu suami nya agar mau kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


"Mas bilang tidak ya tidak. Paham!" Hardik Alrez membuat Serra langsung terdiam dan mengigit bibirnya takut mendengar suara keras Alrez.


"Alrez ada apa?" Tanya Reno mendatangi Alrez dan Serra yang terlibat perdebatan.


"Serra kekeh mau kembali ke rumah sakit nemuin Rachel pah. Aku melarangnya karena Serra butuh istirahat," jelas Alrez.


"Nak benar yang suami mu bilang, kamu juga perlu istirahat. Kamu ga perlu khawatirkan Rachel, disana ada kami yang akan menemani dia, sekarang kalian berdua pulang lah dan istirahat," kata Reno membantu putranya memberi pengertian pada menantunya.


Serra mengangguk, kemudian masuk ke dalam mobil duluan.


"Son jangan bicara keras pada istri mu, papa perhatikan istri keliatan takut pada mu. Kontrol emosi mu, jangan sampai jadi boomerang diri mu sendiri." Nasehat Reno.


"Iya pah, aku akan mengontrol emosi ku," ucap Alrez.


"Sana masuklah, ingat minta maaf sama istri mu," peringat Reno sembari terkekeh.


Alrez bergegas masuk ke dalam pintu samping kemudi. Alrez memperhatikan istri nya yang hanya diam dan mengalihkan pandanga keluar jendela.


Perlahan tangan Alrez bergerak menyentuh tangan Serra untuk dikecup.


"Mas minta maaf sayang, sumpah Mas gak maksud meninggikan suara pada mu. Maafin Mas sayang," ungkap Alrez sesekali melirik istri nya.


Serra akhirnya menoleh ke samping untuk memandang suami nya.


"Sayang maukan maafin Mas?" Tanya Alrez meskipun Serra belum juga menyahut omongannya.


"Sayang!" Seru Alrez melirik istri nya yang masih setia mendiamkan dirinya dan menatap keluar jendela mobil. Entah pemandangan diluar sangat menarik bagi istri nya ketimbang menatap dirinya yang berada di samping.


Sampai tiba di rumah pun, Serra memilih langsung cepat-cepat keluar dari mobil tanpa menunggu dibukakan oleh Alrez yang biasa melakukan.


"Huh harus bagaimana lagi aku membujuk istriku, aku ga bisa didiamkan seperti ini. Aku lebih baik mendengar istriku marah-marah dan memukul ku daripada didiamkan. Sakit banget!"

__ADS_1


__ADS_2