YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 123.


__ADS_3

"Golongan darah pasien AB- rhesus negatif," kata dokter.


"Biar saya saja dok yang mendonorkannya, golongan darahnya sama kaya saya," ujar Serra bersedia mendonorkan darahnya.


"Sayang, kamu yakin mau mendonorkan darah mu?" tanya Alrez keliatan gak rela gadisnya melakukan transfusi darah.


"Uncle aku yakin," kata Serra serius, sembari memegang tanga Alrez.


"Kalau begitu mbak bisa ikut saya." dokter menyuruh Serra mengikuti, untuk melakukan pengecekan kecocokan darah, sekalian memeriksa keadaan pendonor dalam keadaan sehat atau tidak.


Usai melakukan pengecekan yang ternyata darah memang sama seperti darah pasien. Pendonor pun dalam keadaan yang sehat, dokter dan suster membawa Serra untuk melakukan tranfusi darah. Serra memandang orang yang kecelakaan di samping dengan seksama, seperti mengenali wajah tersebut.


"Wajahnya mirip pak Avrian," gumam Serra meneliti setiap wajah itu.


"Ya benar wajahnya bahkan sangat mirip sekali. Tapi dia siapanya pak Avrian, masih keliatan muda juga, masa pak Avrian punya bapak yang keliatan seumuran. Apa pak Avrian kembar?" Serra masih bergumam dan bertanya-tanya dalam benaknya.


Transfusi darah telah selesai Serra dibawa ke ruangan VIP untuk beristirahat disana agar lebih nyaman, semua itu atas permintaan Alrez. Ketika memasuki kamar rawat untuk Serra beristirahat, Alrez barusan saja menjenguk orang yang kecelakaan tadi, meminta dokter juga memindahkan ke kamar rawat bersebelahan dengan Serra.


"Kamu kayaknya lelah banger hari sayang," gumam Alrez duduk dikursi yang tersedia dekat ranjang. Tangannya tergerak mengusap kening gadisnya yang tertidur pulas, Alrez melirik arloji menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Tidur yang nyenyak sweetheart! Saya sudah menelpon Ibuk juga dan memberitahu kalau kamu aman bersama saya."

__ADS_1


...•••...


Pagi sekali Serra membuka matanya, saat ingin menggerakan tangan kanan sangat berat untuk diangkat. Serra menoleh kesamping, melihat Alrez menjadikan tangannya sebagai bantalan.


"Huh! pantas saja berat, orang ditindih kepala beton," ujar Serra.


Serra terpaksa menggunakan tangan kirinya membangunkan Alrez. Ia sudah tal bisa menahan ingin ke kamar mandi.


"Uncle bangun, lepasin tangan aku."


"Bentar ra saya masih mengantuk, tangan mu serasa seperti bantal nyaman sekali."


Benar saja Alrez lekas bangun, "Sakit banget, biar saya panggil dokter."


"Ngapain segala panggil dokter uncle, tangah aku gak sakit," kata Serra menurunkan kaki kebawah, melangkah ke kamar mandi, menuntaskan urusannya.


Serra keluar dari kamar mandi dengan wajah terlihat segar, karna habis membasuh mukanya.


"Uncle cuci muka sana, abis itu kita jenguk orangnya. Lihat keadaannya udah membaik atau belum, apalagi kita belum mengabari keluarganya," papa Serra.


"Yasudah tunggulah sebentar." Alrez masuk dalam kamar mandi membasuh wajahnya seperti yang dilakukan oleh Serra tadinya. Mengelap wajahnya menggunakan tisu yang tersedia.

__ADS_1


Kini wajah Alrez pun sama seperti Serra, kelihatan sangat segar. Walaupun mereka hanya membasuh wajah bukan mandi.


Kedua keluar pergi menjenguk orangnya yang kamarnya bersebelahan dengan Serra. Alrez membuka pintunya, didalam kamar rawat tersebut sudah ada keluarga dari orang yang kecelakaan tadi malam, yang paling membuat kaget keduanya ternyata keluarga orangnya adalah orang yang mereka kenal, yaitu Avrian.


"Jadi bapak ini, keluarga pak Avrian," ucap Serra bersuara, setelah terdiam beberapa detik.


"Iya, dia ayah saya," kata Avrian.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓

__ADS_1


__ADS_2