
"Sayang bangun, udah pagi. Hari ini kita masuk sekolah loh." Arka berusaha membangunkan Serra, tetapi Arka merasa sedikit janggal. Karena tak biasanya Serra masih tidur, apalagi hari ini masuk sekolah. Arka memegang lengan Serra terasa panas, lalu dengan cepat Arka membalikan tubuh Serra menjadi terlentang. Seketika bibir terpampang wajah pucat Serra. Arka memeriksa kening Serra terasa panas.
"Sayang kamu sakit?! Badan kamu panas banget, apa yang harus ku lakukan," ucap Arka panik dan juga khawatir.
"Sayang kita ke rumah sakit ya?!" Arka mencoba menggoyangkan lengan Serra agar bangun.
"Eungh dingin." Serra malah melenguh dingin padahal badan panas.
Sekarang Arka benar tambah panik saat Serra malah berkata dingin dan menggigil. Tanpa membuang waktu Arka langsung berlari keluar menuju ke bawah untuk memberitahu semua orang.
"Oma, mama, itu-" ucapan Arka terhenti, karena nafasnya ngos-ngosan akibat berlari menuruni tangga dari lantai dua turun ke lantai bawah.
"Arka tarik nafas dulu," ujar Alrez menyadari raut kepanikan di wajah Arka.
Arka menarik nafas, lalu menghembuskan perlahan. Sampai agak tenang barulah Arka kembali bicara.
"Sekarang bicaralah yang jelas," ucap Alrez.
"Uncle... Serra demam, badannya panas sekali, aku bingung harus melakukan apa," ucap Arka.
"Kamu tenang Arka, biar uncle telpon dokter buat kesini meriksa Serra," kata Alrez.
"Lebih baik sarapan saja ka, biar oma ke atas ngeliat keadaan istrimu." Alia lantas menggeser kursinya dan bangkit melangkah menuju ke lantai atas.
"Arka sarapanlah, sebelum berangkat sekolah. Jangan khawatir kami akan mengurus istri mu," ucap Alrez memegang bahu Arka dan membawa untuk duduk sekligus sarapan.
Reno menatap Alrez memperhatikan putra keduanya dengan seksama. Ia meneliti untuk membuktikan bahwa Alrez benar-benar tidak ada hubungan dengan Serra di belakang mereka semua.
__ADS_1
"Cukup pa! Aku tahu papa belum bisa percaya, sebelum aku membawa perempuan itu kesini. Tunggu nanti malam aku akan membawanya," tegas Alrez berlalu pergi meninggalkan meja makan saat sarapan belum habis. Ia merasa muak berada disana, tapi mengingat perkataan Arka membuatnya khawatir dengan keadaan Serra yang lagi demam.
Alrez mengetika pesan untuk seseorang.
"Carikan seorang perempuan yang bisa dia ajak kerja sama. Jika kau mendapatkannya hubungi saya segera, saya beri kamu waktu dua jam. Lewat dari itu, kamu pasti tahu apa yang akan saya lakukan." send.
Alrez lalu menghubungi dokter Dimas, agar datang ke mansion Alkavero. Melakukan pemeriksaan pada Serra.
"Datang ke mansion Alkavero sekarang juga," ucap Alrez di telpn tanpa berbasa basi lagi.
Belum lagi orang di seberang sana menyahut, telpon telah di matikan secara sepihak oleh Alrez. Semantara di rumah sakit dokter Dimas hanya bisa meredam kekesalan pada Alrez. Mungkin jika bukan yang menelpon, mana mau dokter Dimas menuruti, atau nomor telpon sudah di blokir dari lama. Sayang sekali dokter Dimas tak bisa melakukan itu pada Alrez. Karena Alrez sendiri adalan orang yang berjasa dalam karir dan hidupnya, dokter Dimas banyak berhutang budi pada Alrez.
•
Dokter Dimas memasuki mansion Alkavero disambut oleh pelayan yang mengantarnya langsung menuju kamar Serra.
"Pagi dok."
"Saya akan memeriksa keadaan-" dokter Dimas berhenti bicara dan langsung terdiam saat melihat gadis yang harus diperiksanya.
"Diakan-" Alrez lantas memberikan tatapan tajam pada dokter Dimas agar tidak mengatakan apapun yang diketahuinya tentang dirinya dan Serra.
"Kenapa dok? Apa anda mengenal cucu menantu saya sebelumnya?" Reno angkat bicara dengan bertanya saat melihat raut terkejut dari wajah sang dokter.
"I-iya saya pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya, saat dia berada dirumah sakit. Kalau tidak salah saat itu Ibunya mengalami kecelakaan tabrak lari," ucap dokter Dimas hanya mengarang cerita saja.
"Bisa bisa dokter ini mengarang cerita yang benar benar terjadi." batin Alrez tak habis pikir.
__ADS_1
"Saya mengira anda pernah melihat bersama seseorang, ternyata dugaan saya salah," balas Reno melirik sekilas pada Alrez.
Reno adalah orang yang sulit percaya, jika belum ada bukti yang membenarkan dari putranya.
Dokter Dimas akhirnya melakukan pemeriksaan pada Serra.
"Menantu anda baik baik saja, hanya mengalami demam biasa. Saya melihat ada dua bekas tamparan di pipinya, mungkin itu yang menyebabkan menantu anda demam. Reaksi tubuhnya sedikit kaget menerima kekerasan," ujar dokter Dimas menjelaskan.
"Terimakasih banyak dok anda mau datang kesini walaupun jadwal anda sangat sibuk di rumah sakit," ucap Alrez yang mengantarkan dokter Dimas sampai ke depan pintu mansion.
"Tidak masalah Alrez, saya masih bisa menyisihkan jadwal saya untuk menemui mu. Oh iya, kenapa tadi kau menatap ku tajam, apa kalian berdua menjalani hubungan rahasia?" ujar dokter Dimas bertanya memastikan bahwa yang ada dalam pikiran adalan benar.
"Itu bukan urusan anda dokter, jadi jangan mencoba untuk mencampuri urusan saya. Sekarang silahkan kembali lah ke rumah sakit," kata Alrez.
"Baiklah tak masalah jika kau belum mau memberitahuku, aku hanya bisa mendoakan semoga tidak ada hubungan terlarang antara kau dengan gadis tadi." Setelah mengucapkan itu dokter Dimas berlalu pergi dari hadapan Alrez masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya menuju rumah sakit.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
__ADS_1
Terimakasih💓