
Walaupun musik telah berhenti, tetapi tak menyurutnya keduanya agar berhenti malahan asik berdansa. Arka seperti terhipnotis dengan Rachel, sebenarnya gadis yang di lihat Arka dihadapan sekarang bukanlah Rachel melainkan Serra istrinya. Maka dari itu Arka sangatlah menikmati dansa ini, musik sudah lama berhenti keduanya tetap melanjutkan.
"Hei semua! Lihatlah betapa sosweetnya pasangan itu, keduanya tidak perduli musik telah berhenti, dansa mereka tetap berlanjut. Mari kita beri tepuk tangan untuk pasangan romantis kita malam ini." Kata MC meminta seluruh orang yang ada di ballroom bertepuk tangan.
Orang-orang mulai membicarakan Arka dan Rachel. Kedua memang serasi jika di pasangkan, apalagi sama sama berasal dari kasta yang sama pula. Bahkan beberapa orang merasa iri menatap keduanya.
Ocehan dari banyak orang tentang Arka dan Rachel membuat Serra muak mendengarnya. Sebelum pergi Serra menenggak minuman hingga tandas mengalir di tenggorokannya. Nabilla sudah memberitahukan mana minuman yang tak boleh di sentuh sama sekali. Namun semua itu percuma, karena Serra tak mengindahkan pesan dari sahabatnya.
"Arka musiknya sudah berhenti loh," bisik Rachel di telinga Arka.
"Benarkah? Tapi aku merasa nyaman berdansa dengan mu walau musik sudah berhenti," ucap Arka malah menggoda.
Seketika itu pipi Rachep bersemu merah mendengarnya.
"Ka aku lapar, belum sempat makan tadi," ucap Rachel mengalihkan pembicaraan agar Arka mau menyudahi acara dansa mereka. Karena Rachel melihat orang-orang sekeliling menatap mereka berdua, bahkan tadi dia mendengar suara MC mengatakan bahwa mereka adalah pasangan sosweet.
"Maaf membuat mu kelaparan," ucap Arka melepaskan tangan dari pinggang Rachel dan membawa mencari tempat duduk. Arka seperti menghindari temannya.
"Kamu tunggu sini ya, biar aku ambilkan makanan." Ketika Arka ingin berbalik, Rachel memegang tangannya, mencegah Arka pergi.
"Aku aja, kamu tunggu disini," kata Rachel.
"Biar aku aja, nanti kamu kecapean," ujar Arka.
"Enggak ka, aku bisa sendiri kok ngambil," kekeh Rachel dan pergi meninggalkan Arka begitu saja.
"Sendiri aja bro, Rachel mana?" Dimas menghampiri Arka yang sendirian dan menanyakan keberadaan Rachel.
"Lagi ngambil makanan," jawab Arka singkat.
Tak lama Rachel pun datang membawa makanan dan minuman untuk dirinya dan Arka.
"Cuman dua, makanan buat gue gak diambilkan sekalian," celetuk Dimas melirik makanan dan minuman yang dibawa oleh Rachel.
"Masih punya tangankan lo, ambil sendiri sana. Gak usah ngerepotin deh, ini gue ambilin buat Arka sama gue," ujar Rachel ketus.
"Galak amat jadi cewek," ucap Dimas baru tahu sifat asli Rachel, tapi semua itu tidak menyurutkan niat untuk mencintai dan mendapatkan Rachel.
"Udah kalian jangan ribut, makanan aku buat Dimas aja. Aku juga masih kenyang kok, aku cuma butuh minuman aja tenggorokan aku rasanya kering sedari tadi denger kalian ribut," tukas Arka bercanda.
"Tapikan Dimas bisa ambil makanan sendiri ka," protes Rachel tak terima makanan yang sudah diambilkan untuk Arka harus diberikan pada Dimas semudah itu.
"Engga papa Chel kasih aja sama Dimas, kaya dia belum makan," ucap Arka.
Dimas mengubah raut wajahnya menjadi memelasD, dengan sangat terpaksa Rachel menyerahkan makanan tersebut untuk Dimas.
"Makasih cinta," ucap Dimas pelan di akhir kalimat, sayang sekali masih bisa di dengan oleh Rachel.
Rachel melotot pada Dimas, "Coba ulang lagi lo bilang apa barusan?" pintanya.
"Makasih," ulang Dimas.
"Bukan itu! Gue dengar ya tadi lo bilang sesuatu diakhir ucapan terimakasih," ucap Rachel.
"Kalau dengar ngapain bertanya lagi," balas Dimas.
"Lo-"
"Ka gue tinggal ya, mau gabung sama yang lain," pamit Dimas, "Titip cewek galak ini ya, jangan sampai di gangguin cowo mesum." bisiknya lalu melangkah pergi.
Rachel merenggut kesal melihat Dimas berbisik sesuatu di telinga Arka.
Setelah kepergian Dimas, Arka merasa aneh dengan tubuhnya begitu juga dengan Rachel.
__ADS_1
"Ka lo ngerasa panas gak?"
"Iya aku ngerasain juga." Arka bangkit dari duduk, lalu menarik Rachel agar mengikutinya.
Arka membawa Rachel menjauhi ballroom, pergi ke dalam sebuah kamar hotel. Hawa panas dalam tubuh kedua makin menjadi, tanpa disadari Rachel sudah lebih dulu melepaskan pakaian dan hanya menyisakan pakaian dalam yang melindungi area tertentu.
"Rachel-"
'Glek' Arka menelan air liur ketika menoleh ke belakang, mendapati Rachel yang hampir telanjang.
"Oh, ****!" umpatan lolos begitu saja dari bibir Arka.
"Arka kok masih panas ya," rengek Rachel tak kuat lagi, gadis itu berjalan mendekati Arka dan mengalungkan tangannya ke leher Arka.
"Arka sentuh gue," ucap Rachel terdengar sensual di telinga Arka.
"Rachel aku tidak menyentuh mu, aku tahu kita sedang dalam pengaruh obat," tolak Arka melepaskan kalungan tangan Rachel di lehernya.
"Arka pleasee..."
"Maaf aku tidak bisa Chel, ada hati seseorang yang harus aku jaga. Tolong mengertilah! Aku akan membiarkan mu sendiri di kamar dan aku akan masuk dalam kamar mandi. Kunci kamar sudah simpan, supaya kita lebih aman," ucap Arka melangkah masuk ke dalam kamar mandi, belum sempat membuka pintu pelukan Rachel menghentikan pergerakannya.
"Gue tahan lagi ka." Rachel menggerayangi tubuh Arka dari belakang.
Arka membalik tubuh menghadap Rachel. Lalu memutar badan Rachel hingga menyudutkan di pintu kamar mandi.
"Sentuh gue pleasee ka," ucap Rachel memohon dengan mata berkaca-kaca, akibat pengaruh obat entah siapa pelakunya.
"Apa kamu siap kehilangan sesuatu yang sangat berharga ada di dirimu?" tanya Arka berusaha bicara normal.
"Semuanya milik mu," jawab Rachel tepat di wajah Arka.
Arka sudah hilang kendali saat ini karena pengaruh obatnya begitu kuat efeknya. Arka mengangkat tubuh Rachel, melempar ke ranjang. Rachel menutup mulut dan membulatkan matanya melihat Arka meloloskan seluruh pakaiannya, hanya menyisakam boxer pendek saja.
"Kenapa? belum pernah melihat tubuh lelaki lain." Rachel menggeleng kepalanya, jangankan melihat menyentuh saja belum pernah kepikiran.
"Aku tanya sekali lagi, kamu siap melakukannya."
"Ya." Jawab Rachel singkat.
Akhirnya kedua melakukan dalam keadaan sadar. Arka juga telah hilang kendali akibat Rachel yang menghentikan dirinya memasuki kamar mandi. Sekarang semua telah terjadi begitu cepat. Lelah melakukan malam panjang kedua sampai tertidur.
...•••...
Serra baru saja keluar dari dalam toilet, mata sedikit bengkak karena terlalu lama menangis dalam toilet. Serra terus berjalan, tetapi jalan terlihat sempoyongan, mencari lift, ia memutuskan akan pulang saja duluan, tidak menunggu sampai acara prom night selesai.
Tiba-tiba tangan di sentuh oleh seseorang, membuat langkah kaki terhenti begitu saja. Serra menoleh dan mendapati tiga orang cowo yang merupakan teman sekelasnya.
"Ada apa?" tanya Serra.
"Ga sengaja liat lo jalan sempoyongan maka kita berhentiin," kata salah satunya.
"Iya ra, lo kalau di liat liat ternyata cantik juga ya," ucap yang kedua dengan berani mencolek dagu Serra, tetapi langsung ditepis kasar oleh Serra.
"Berani banget tangan busuk mu menyentuh ku," ketus Serra tajam.
"Galak bro! Jangan galak galak cantik. Mau kita anterin pulang gak, kita lihat lo kaya mabuk. Ternyata cewe kaya lo suka juga minuman begitu, gue kira enggak," ucap yang ketiga menawarkan Serra tumpangan.
"Aku gak butuh bantuan, aku bisa pulang sendiri. Minggir aku mau lewat," ujar Serra menyuruh ketiga orang yang menghalangi jalannya agar minggir, karena ia mau lewat.
"Ee tidak bisa cantik, lo harus beri kita bertiga hadiah dulu. Baru lo bisa lewat." Cowo pertama kembali bicara.
"Aku gak punya apa-apa, cepat minggir." Serra mencoba mendorong mereka, sayangnya tenaga tak cukup kuat.
__ADS_1
Cowo kedua nampak kesal dengan tingkah Serra pun mencengkaram pundak Serra dan menyudutkan ke dinding, cowo tersebut memcoba untuk mencium Serra. Tetapi Serra berusaha menghindar dengan memiringkan kepala ke kanan.
"Lepasss, tolong!!!" teriak Serra.
"Percuma lo teriak gak ada yang bakal dengar, acara di ballroom masih belum selesai dan gaakan ada yang keluar," ucap cowo ketiga.
Serra hanya bisa menangis ketika cowo kedua terus mencoba menciumnya. Serra juga berusaha menghindari ciuman tersebut.
Ketiga tidak menyadari seorang pria berjalan dengan sorot mata tajam, sertw tangan mengepal siap menghajar ketiganya. Orang yang barusan mendengar suara teriakan dari gadis yang dicintai adalah Alrez. Ia mengenal suara teriakan tersebut, maka dari itu secepat kilat mencari arah suaranya.
Bug!
Bugg!
Buggg!
Alrez menarik kerah baju cowo yang hampir mencium Serra dan memberikan bogeman. Begitu juga pada dua orang teman cowo tersebut mendapatkan bogeman mentah darinya.
"Berani sekali kalian menyentuh gadisku," berang Alrez mengeluarkan pistol di balik celananya kainnya. Mengarah pistol pada ketiga orang dihadapan. Aura mafia yang selama ini tak pernah di tunjukkannya, sekarang keluar begitu melihat gadis di sentuh.
"Ampun maafkan kami." Ketiga kompak memohon maaf.
"Tidak ada ampunan bagi orang yang berani memyentuh gadisku," sarkas Alrez.
Tanpa berkata-kata lagi ketiga kabur dengan lari terbirit-birit seperti di kejar anjing liar. Alrez biasa saja melihat ketiga yang kabur.
"Sejauh manapun kalian kabur, saya tetap bisa menemukan kalian. Tidak ada kata maaf untuk kalian yang telah berani menyentuh gadisku. Saya akan menghabisi kalian bertiga," gumam Alrez mengeluarkan handphone dan menelpon Tristan saat itu juga.
"Tristen pergi ke hotel sekarang dan lihat rekaman cctv yang ada di lorong lantai tiga. Saat kau sudah melihatnya, temukan mereka dan sekap di tempat biasa."
Selesai menelpon Arlez menyimpan ponsel kembali. Alrez melihat Serra yang luruh terduduk di lantai sambil menyilangkan tangannya. Arlez merasa hati sakit melihat Serra menangis sekarang ini. Tanpa bicara sepatah kata pun, Alrez menggendong Serra ala bridal style, memasuki lift. Alrez akan membawa Serra ke apartemennya untuk menenangkan gadisnya.
Serra diam saja, tidak protes sedikitpun. Membuat Alrez menjadi khawatir karena Serra tak bicara. Alrez mendudukan Serra dan memasangkan seabelt, lalu Arlez mengeliling mobil dan masuk di pintu kemudi.
Saat di perjalanan perut Serra bergejolak, karena tak bisa menahan rasa gejolak tersebut, Serra akhirnya muntah di mobil Alrez.
"Maaf!" kata Serra lemah mengucapkan satu kalimat tersebut, sembari menatap Alrez.
"Tidak papa," jawab Alrez nampak senang mendengar suara Serra, walaupun hanya satu kalimat yang penting gadisnya mau bicara setelah hampir setengah jam terdiam.
Alrez benar benar tidak mempersalahkan mobilnya yang di muntahi oleh Serra. Bahkan Alrez mengelap mulut Serra yang terdapat sisa muntahan menggunakan tisu, tanpa ada rasa jijik sedikitpun.
Menempuh perjalanan setengah jam, akhirnya mereka tiba di basemant apartement. Alrez menggendong Serra yang telah terlelap, muntah Serra memgenai kemejanya.
Sampai di kamar apartemennya Alrez membaringkan Serra di ranjangkan. Alrez melepaskan pakaian Serra dan memakaian kaos kebesaran miliknya.
"Goodnight sweetheart"
Alrez mencium kening Serra, lalu masuk dalam kamar mandi membersihkan tubuh yang sudah lengket. Lelah yang Alrez rasakan sudah hilang, melihat orang yang dicintai berada didekatnya. Ia sangat bersyukur datang tepat waktu, ternyata perasaan tak nyaman dirasakan saat masih di pesawat benar benar terjadi. Tetapi ia merasa lega karena bisa menyelamatkan gadisnya tepat waktu.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓
__ADS_1