YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 122.


__ADS_3

"Maafkan Ibuk, yang bertindak egois memisahkan kalian satu sama lain," tangis Rida pecah dihadapan anak kembarnya.


"Jangan menangis buk, semua ini bukan kesalahan Ibuk. Tapi papa dan mama lah yang jahat, telah memanfaatkan Ibuk demi kepentingan mereka. Aku benar-benar tidak menyangka mereka bisa sejahat itu," tukas Aiden marah terhadap papa dan mamanya. Aiden sama sekali tidak menduga ternyata itulah penyebab mengapa sampai Ibu kandung dan kemberan menghilang. Awalnya papa dan mama juga menceritakan, tetapi papa tidak menceritakan penyebab kepergian Ibu kandung dan kembarannya.


Serra bangun dari tempatnya dan memilih keluar dari dalam kamar, berlari keluar dari rumah.


"Ra kamu kenapa? mau kemana? tungguin saya," seru Alrez seraya mengejar Serra yang berlari keluar dari rumau.


Alrez menarik tangan Serra membuat gadis itu berbalik menghadapnya, sehingga menyebabkan gadisnya membentur dada bidang Alrez.


"Hiks uncle bawa aku pergi, kemana aja! Asalkan aku bisa menenangkan diri semantara waktu," ucap Serra menangis dalam pelukan Alrez.


"Iya saya akan membawa mu, tapi mengapa kamu jadi menangis seperti ini. Apa yang laki-laki itu lakukan," ujar Alrez.


"Uncle aku tidak bisa menceritakannya sekarang, ku mohon bawa aku pergi," mohon Serra mendongakkan kepalanya sembari menyatukan kedua telapak tangannya.


"Tapi Ibuk bagaimana?" tanya Alrez mengingat Ibu Rida yang masih bersama dengan lelaki tadi dan mereka malah ingin meninggalkannya sendirian bersama orang tidak dikenal.


"Ibuk aman bersama dia uncle. Dia orang baik uncle, jadi tak mungkin berbuat macam-macam."


"Ra kita tidak bisa percaya dengan orang yang baru kita kenal. Mau dia sebaik apapun kalau dia khilaf berbuat jahat sama ibuk gimana? kamu gak cemas ninggalin Ibuk mu sendirian bersama orang asing itu."


Dengan polosnya Serra menggeleng, "Dia bukan orang asing uncle, ta-tapi dia anak Ibuk juga."


"Anak? Maksudnya gimana bisa dia juga anak Ibu, saya tidak mengerti Ra."


"Uncle pleasee, aku tak bisa menceritakan sekarang." Serra malah semakin menangis.


Alrez yang tak tega mendengar dan melihat tangisan gadisnya, memutuskan untuk tak menuntut gadisnya menceritakan bagaimana kejadian sampai lelaki tadi anak dari Ibu Rida, otomatis lelaki tadi adalah saudara gadisnya.


Sesampainya diluar gang, Alrez membukakan pintu mobil untuk gadisnya. Alrez menjalankan mobilnya, sepertinya ia akan membawa gadisnya ke apartementnya saja. Disana lebih aman dibanding membawa gadisnya menginap di hotel.


"Arghh! Mengapa otak ku ini malah mikirin hal begituan! Oh Alrez kau harus bersabar sebentar lagi gadis mu akan menjadi milik mu. Tidak akan ku biarkan satu orang pun menyakiti, aku akan menjaga segenap jiwa ragaku," batin Alrez melirik Serra yang berada di samping dengan senyum tipis.


"Uncle stop!" pekik Serra membuat Alrez yang fokus menyetir menjadi kaget dan mengerem mendadak.

__ADS_1


"Ra mengapa mengangetkan saya, kita bisa saja celaka jika ada mobil dibelakang melajum," ujar Alrez tetap bicara lembut, walaupun ia sedang marah.


"Lihat diseberang sana uncle, ada yang kecelakaan," ucap Serra menunjuk mobil yang dikerumunin oleh warga sekitar.


"Ya lalau kenapa, itu bukan urusan kita kan. Lagian disana udah ada warga yang membantu."


"Bukan gitu uncle, ah entahlah aku ingin kesana ngelit keadaan orangnya uncle. Engga tau kenapa tiba-tiba mau ngeliat."


"Kamu gak lagi hamilkan?" pertanyaan spontan Alrez mendapatkan pukulan keras dari Serra di lengannya.


"Uncle mulutnya ih. Hamil anak siapa coba? Terus masa orang hamil ngidamnya aneh segala mau ngeliat orang kecelakaan, yang benar aja uncle."


"Siapa tau kamu udah ngelakuin itu sama Arka." Alrez sambil berdoa dan berharap Serra menjawab tak pernah.


"Selama kami menikah Arka memang menyentuh ku, tapi tidak sampai mengambil mahkota. Kami menuruti keinginan papa mamanya, untuk tidak berhubungan sebelum kelulusan sekolah." Serra malah berkata jujur pada Alrez,


Alrez nampak bahagia, sekaligus kesal. Karena pastinya Arka telah menikmati keindahan tubuh gadisnya duluan. Alrez menjadi berang sendiri mendengar kejujuran gadis polosnya.


Tiba-tiba pintu mobil mereka di ketok oleh bapak-bapak. Alrez menurunkan kaca mobilnya sampai setengah.


Alrez menoleh pada Serra meminta persetujuan gadisnya. Serra yang memang dasar gadis baik dan suka menolong orang, walau sekalipun orang tersebut tidak dikenalnya. Rasa kemanusian yang membuat Serra selalu tak bisa diam jika ada yang membutuhkan bantuan.


"Baik pak kami akan membantu, saya akan putar arah dulu," balas Alrez.


"Terimakasih banyak pak, mbak," ucap bapak-bapak tersebur dan segera menyebrang kembali.


Alrez menghidupkan kembali mesin mobilnya, menjalankan kearah belokan. Kini mobilnya berhenti tepat didepan mobil yang barusan kecelakaan. Alrez turun membukakan pintu belakan mobilnya, tiga orang mengangkat korban kecelakaan tersebut yang ternyata seorang laki-laki paruh baya.


Alrez bergegas menjalankann mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat. Tujuan Alrez yang ingin membawa Serra ke apartement tidak jadi, karena mereka harus menyelamatkan nyawa orang lain, membawanya ke rumah sakit agar mendapatkan penangan medis segera.


Setibanya di rumah sakit, korban kecelakaan yang mereka bantu dipindahkan ke berangkah yang telah dipersiapkan. Lantas langsung di dorong ke ruang IGD dimana disana dokter telah menunggu.


"Maaf bapak, Ibu. Silahkan menunggu di luar saja," ucap suster sopan.


Pintu ruangan IGD ditutup, dokter yang berada di dalam melakukan tugasnya menangani pasien. Semantar Arlez dan Serra duduk di kursi tunggu, jelas sekali Serra kelihatan sangat gelisah. Alrez duduk mendekat pada gadisnya, mengangkat tangan merangkul gadisnya.

__ADS_1


"Tenang ya, saya yakin orangnya pasti baik-baik saja," ujar Alrez supaya gadisnya merasa lebih tenang.


Serra mengangguk, "Iya uncle, semoga saja orangnya baik-baik saja dan tidak mengalami luka serius."


Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruang IGD.


"Apa kalian keluarga dari pasien didalam?" tanya dokter menatap keduanya.


"Eum, iya dok. Gimana keadaannya?" jawab Serra mendahulu Alrez.


Dokter sempat bingung dengan pertanyaan Serra yang tak menyebutkan nama pasien didalam, setidaknya menyebut orangan dengan sebuatan apa yang penting mereka seperti mengenal.


"Anda berdua benaran keluarga pasien?" dokter malah bertanya ulang, menatap curiga.


"Hemm! Sebenarnya kami berdua bukanlah keluarga pasien dok, kami hanya berniat baik membantu membawa korban kecelakan di dalam ke rumah sakit agar cepat mendapatkan pertolongan," sanggah Alrez menjelaskan.


"Apa kalian membawa identitas korban, agar kami bisa menghubungi keluarganya. Sebab pasien di dalam sedang membutuhkan donor darah segera."


"Identitas ketinggalan di mobil dok," ucap Alrez.


"Memangnya golongan darah pasien apa dok? Siapa tau diantara kami berdua ada yang sama," imbuh Serra.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓

__ADS_1


__ADS_2