YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 20


__ADS_3

“Uncle jam berapa sekarang?” Tanya Serra dengan kepanikan melandanya.


Arlez melihat arloji ditangannya, “Jam setengah enam lewat...”


“Apa setengah enam.. Uncle aku harus pulang sekarang...” Serra tahu bahwa sekarang dia bukan berada di mansion tetapi di tempat tinggal Arlez.


“Menginaplah disini. Besok pagi kita pulang ke mansion,” ujar Arlez.


Besok adalah weekend, tapi alasan Arlez meminta Serra menginap bukan karena itu. Lebih tepatnya di mansion kosong, hanya ada pelayan dan bodyguard yang berjaga. Mengapa Arlez bisa mengetahuinya. Bodyguard yang bekerja pada Arlez diperintahkan oleh pria itu untuk berada di mansion Alkavero. Jadilah bodyguard itu yang memberitahunya, bahwa Alka sedang berpergian untuk beberapa hari, ditemani oleh Devita. Lalu Arka dan Liora tengah berada di rumah sakit menemani teman kecil mereka yaitu Sandra jatuh sakit akibat penyakit asmanya kambuh. Avrio, anak laki-laki dititipkan pada uncle Rino.


“Tapi uncle, Arka akan mencariku. Jika aku tidak berada di mansion..” ucap Serra.


“Saya pastikan Arka tidak akan mencari mu,” sahut Arlez.


“Darimana uncle bisa tahu kalau suamiku tidak mencariku?” Serra bertanya menatap mata pria di depannya.


“Jelas saya tahu... Arka bersama Liora berada di rumah sakit menemani teman semasa kecil mereka yang tengah jatuh sakit...” Jawab Arlez.


“Uncle tas ransel ku dimana,” ujar Serra.


“Sepertinya ada di lantai bawah” ucap Arlez.


Serra mencoba bangun tapi bahunya ditahan oleh Arlez.


“Jangan mencoba untuk bangun Serra!”


“Aku ingin mengambil handphoneku...”

__ADS_1


“Tunggu di kamar saja, biar saya ambilkan ke bawah.”


Arlez keluar dari kamar, turun kebawah mengambil tas ransel milik Serra. Lalu segera kembali ke lantai atas.


Setelah tas ransel ditangan Serra. Gadis itu segera mencari handphonenya untuk mengecek apakah Arka mengabarinya. Serra membuka aplikasi whatsapp, benar saja Arka mengechatnya mengabari bahwa tidak akan pulang dan menginap di rumah Farel sahabat Arka.


My Husband


Sayang sepertinya harini aku tidak akan pulang kerumah, aku akan menginap ditempat untuk mengerjakan tugas kelompok.


^^^Iya tidak apa-apa ka, tapi besok kamu pulangkan?^^^


Iya sayang besok aku pulang..


Sayang sebaiknya malam ini kamu menginap di rumah ibu. Di mansion sedang kosong, mama papa lagi ada perjalanan bisnis. Liora dan Avrio menginap di kediaman paman Rino. Jadi aku khawatir jika kamu sendirian berada di mansion. Besok pagi aku akan menjemput dirumah ibu..


Baiklah sayang aku merasa tenang kalau gitu. Ini apa kamu sudah berada ditempat ibu?


^^^Iya ka, besok pagi aku pulang naik angkot saja. Tidak usah menjemput ku..^^^


Kenapa sayang, tidak mau dijemput..


^^^Please aku pulang naik angkot saja ya..^^^


Oke, aku mengalah.. tapi kabarin aku saat mau pulang. Agar aku bisa memperkirakan waktu sampai ke mansion..


Serra menggenggam handphone erat, tanganya satunya meremas dadanya yang terasa sakit, air mata juga menetes. Serra memang gampang menangis jika ada hal yang membuat merasa sakit atau mengharukan.

__ADS_1


“Kamu berbohong ka.” Batinnya.


“Hei? Mengapa menangis, apa dada mu terasa sakit?” ujar Arlez bertanya. Serra yang mendengar pertanyaan Arlez menyilangkan tangannya di dada.


Arlez tersenyum smirk, menatap Serra menyilangkan tangannya. “Tidak usah ditutupin begitu, saya juga sudah melihatnya sedikit...”


Perkataan Arlez barusan membuat Serra membulatkan mata lebar. Barusan pria disampingnya mengatakan melihat, tubuhnya. Bagaimana bisa? Serra langsung menunduk, sadar bahwa bajunya telah berganti dengan kaos kebesaran.


“Jangan bilang un-uncle me-melihat tub-“


“Ya saya melihatnya, hanya sedikit saja. Emm, ternyata punyamu besar juga, pasti Arka menik-“


“Dasar pria mesum...” pekik Serra, memukul badan Arlez menggunakan bantal berkali-kali, hingga kapas bantar berterbaran dimana-mana.


Pukulan itu tak membuat Arlez merasa kesakitan. Serra terus saja memukulnya, Arlez yang merasa lelah mendorong bahu Serra sampai gadis itu berbaring dengan tangan Arlez mengukungnya, tangan bertumpu menahan tubuh agar tak menimpa gadis dibawahnya.


Kedua saling bertatapan mesra, Arlez mencoba mendekatkan wajah pada Serra yang memejamkan matanya. Belum sempat Arlez mencium Serra suara seseorang merusak suasana.


“Tuan ini obatnya.”


***


Bersambung. . .


Jangan lupa tinggalkan jejakt kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609

__ADS_1


__ADS_2