YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 84.


__ADS_3

Mobil Aldo langsung parkir di halaman cafe Ariella. Serra, Nabila dan Aldo, mereka lekas keluar dari mobil. Aldo lantas memimpin berjalan di depan.


“Aldo!” Panggil lelaki dari arah pintu dapur cafe, siapalagi kalau bukan Putra yang baru saja mengecek dapur.


“Eh bang putra.” Aldo menyapa bang Putra.


“Kalian pasti mau kerja kelompok kan...” tebak bang Putra. “Kebetulan di lantai atas sedang kosong, jadi kalian bebas memilih tempat di atas.” Lanjutnya.


“Begini bang, tujuan kita kesini bukan mau ngerjain tugas kelompok, melainkan mau ketemu sama Aiden. Aiden ada kan bang?” Ujar Aldo bertanya.


“Pak Aiden ada di ruangannya Al. Kalian langsung ke atas aja nanti biar aku saja memberitahu pak Aiden kalau kamu mau ketemu,” ucap bang Putra.


“Yaudah, kita ke atas. Makasih ya bang.”


Setelah itu Aldo bersama Serra dan Nabila, lantas pergi ke lantai atas. Setibanya di lantai dua, mereka mengambil tempat duduk yang pernah mereka tempati sewaktu ke cafe Ariella.


“Aldo ada apa kau mau bertemu dengan saya.”


Suara bariton mengagetkan ketiga orang yang tengah mengobrol. Ya, lelaki itu adalah Aiden.


“Sepupu selamat datang di Indonesia. Lama banget kita gak ketemu, lo betah banget di luar negeri.” Aldo langsung nyamperin dan memeluk Aiden.


Aiden melepas paksa pelukan Aldo, “Geli banget saya kau peluk,” dengkus Aiden.


“Masih aja formal, gue sepupu lo bro. Jangan formal banget lah kalau ngomong sama gue. Jadi gak enak dengernya,” ucap Aldo tertawa.


“Harus di biasain mulai sekarang. Karena saya hanya akan mengobrol tidak formal ketika bersama adik saya. Jika saya menemukannya nanti,” bales Aiden.


“Terserah lo deh,” pasrah Aldo, males ingin meladeni sepupu datarnya kelewatan.

__ADS_1


“Sekarang kita udah ketemu, jadi saya mau balik ke ruang kerja. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.” Ketika Aiden ingin turun suara lembut seseorang seperti menghentikan langkahnya.


“Aldo buruan sini! kamu pesan apa?” Seru Serra meyeru Aldo.


“Bentar ra,” sahut Aldo.


“Aiden jangan ke bawah dulu, gue mau kenalin lo sama dua temen cewek gue,” ujar Aldo.


Aiden tidak jadi turun bukan karena Aldo, melainkan karena suara dari seseorang yang memanggil Aldo. Tapi Aiden tidak tahu siapa diantara kedua gadis di depannya yang tadi memanggil sepupunya.


Kali ini Aiden diam menunggu Aldo mengeluarkan suaranya memperkenal kedua temannya itu.


“Aiden kenali ini Nabila dan di samping Serra.” Aldo memperkenalkan Nabila dan Serra dengan menunjuk keduanya bergantian.


Tatapan mata Aiden seketika fokus pada Serra. Senyuman manis dari gadis itu membuat jantungnya berdegup kencang.


Serra sedikit gugup ketika di tatapan mata Aiden tak pernah lepas darinya sedari pesanan mereka datang. Bahkan Aiden masih menatap Serra saat gadis itu tengah makan.


“Emang kenapa masalah buat kamu Al. Saya yang punya cafe, jadi terserah saya dong,” tandas Aiden mendengkus kesal mendengar nada sindiran dari sepupunya, padahal ia tahu bahwa itu hanyalah bercandaan.


“Oke pak Aiden, gua ngalah. Terserah lo deh mau dimanapun,” ujar Aldo memilih diam.


Akhirnya mereka berempat mengobrol bersama. Tetapi Aiden terlalu kaku di ajak ngobrol, karena bahasa sangat formal. Padahal mereka berempat seumuran, walaupun Aiden terlalu cepat menyelesaikan pendidikan.


...•••...


Semantara di tempat lainnya, tepat di rumah Rachel. Arka sedang duduk istirahat setelah mengajari Rachel bermain basket.


“Ka mau jus jeruk gak? gue buatin ya,” tawar Rachel.

__ADS_1


“Boleh deh,” jawab Arka.


Rachel langsung menuju kulkas dan mengambil jeruk serta es batu. Kemudian mengambil gelas dan alat peras. Beberapa menit, es jeruk buatan telah jadi, Rachel lekas ke depan.


“Ini minum dulu, biar segeran,” kata Rachel tersenyum memandang wajah lelah Arka sehabis mengajarinya.


“Makasih ya, gue jadi berasa ngerepotin,” balas Arka.


“Sama sekali gak ngerepotin ka, malah gue yang ngerasa ngerepotin lo. Karena minta ajarin main basket,” ucap Rachel.


Keasikan mengobrol, hampir lupa waktu. Jam sudah menunjukkan kurang dari 15 menit lagi pukul enam.


“Chel udah mau jam enam, gue pamit pulang ya. Kapan kapan kalau ada waktu gua ajarin lagi, tadi lo udah mulai bisa kok main basketnya,” ujar Arka.


“Kamu hati hati ya, sampe rumah kabarin,” pesan Rachel seperti pacar.


Arka membalas dengan sebuah anggukan saja. Arka masuk dalam mobil dan menjalankannya. Rachel masih berdiri menunggu sampai mobil Arka keluar dari gerbang rumahnya.


“Arka kamu pasti akan menjadi miliku, tidak akan aku biarkan Serra memiliki mu. Walaupun aku harus menjadi musuh sahabat ku sendiri, akan aku lakukan demi mendapatkan orang yang aku cintai dari lama.” Tekad Rachel penuh ambisi.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!

__ADS_1


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓


__ADS_2