YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 50


__ADS_3

Serra bingung mau menjelaskan darimana. Menjadi terselamatkan saat kedatangan dokter dan dua suster dibelakangnya.


"Permisi," kata dokter


"Silahkan masuk dok." Serra mempersilahkan dokter masuk.


"Syukurlah Ibu anda sudah siuman," ucap dokter.


"Iya dok, barusan saja ibu siumannya," sahut Serra.


"Ibu berbaring dulu, kami akan melakukan pemeriksaan." Suster membantu Rida berbaring agar mereka bisa melakukan pemeriksaan.


"Dok mata saya kenapa bisa di perban? Memang saya kenapa?" cecar Rida bertanya, karena tadi belum mendapatkan jawaban.


Dokter menatap Serra meminta persetujuan gadis itu untuk menjelaskannya. Serra memberikan izin dengan mengangguk.


"Kepala ibu mengalam benturan sangat keras dan mengakibatan pendarahan. Begitupun mata ibu, untuk mengetahui ibu mengalami kebutaan atau tidak. Kami akan melepaskan perban yang menutup kedua mata ibu."


"Tolong lepaskan sus perbannya," pinta dokter kepada kedua suster.


Perban di kedua mata Rida pun dilepas dengan bantuan dua suster yang di minta oleh dokter.


"Buka mata ibu dengan pelan dan perlahan." Ridu melakukan instruski dokter.


"Fia mengapa gelap, kamu dimana nak," kata Rida menggerak-gerakan tangannya.


"Maaf ibu saya akan periksa mata ibu," ucap dokter melakukan pemeriksaan lagi.


"Gimana dok?" tanya Serra.


"Ibu anda mengalami kebutaan.. Kita harus mencari donor mata, agar ibu anda bisa melihat kembali," tutur dokter.


Serra membekap mulutnya, air mata mengalir deras. Anak mana yang tega melihat ibunya menjadi begini. Rida pun sama juga menangis.


"Ibu yang kuat ya. Aku janji akan mencari pendonor mata untuk ibu," ucap Serra.


Rida menggeleng, "Tidak nak, biaya pasti sangat mahal." tolaknya.


"Sebisa mungkin aku mengusahakannya bu, jadi ibu jangan memikirkan soal biaya," kata Serra.


"Ibu makan dulu ya." Rida mengangguk, Serra menyuapi ibunya bubur rumah sakit.


Alrez sudah selesai mandi ketika dokter masuk kamar rawat. Pria itu mendengar semua penjelasan dokter mengenai yang dialami ibunya Serra.


"Sekarang ibu kembali istirahat ya." Serra membaringkan ibunya pelan.


"Nak berapa biaya rumah sakit yang harus kita bayar?" tanya Rida.

__ADS_1


"Semuanya sudah di lunasi bu," jawab Serra.


"Berapa nak?"


"Eum hanya lima juta bu, aku membayarkan pakai tabungan miliku," bohong Serra.


"Maaf bu, bukan maksud aku membohongi ibu. Tapi ini demi kebaikan," lanjutnya berkata dalam hati.


"Maaf ibu menyusahkan mu nak, menghabiskan uang mu hanya untuk membayar biaya rumah sakit," ucap Rida merasa bersalah.


"Sstt. Ibu jangan ngomong seperti itu, ibu adalah orang tua satu-satunya yang aku miliki." Serra menaruh jari telunjuknya di bibir ibunya agar tak berbicara lagi.


"Ibu istirahat ya!"


Beberapa menit kemudian ibunya telah tertidur akibat pengaruh minum obat, membuat mengantuk.


"Ra, bisa bantu saya," seru Alrez pura-pura kesusahan memasang dasi.


"Yaampun uncle rambut mu masih basah. Mengapa tidak menggosoknya," sungut Serra.


"Tidak masalah ra, bantu saya memasang dasi ini," ujar Alrez menarik-narik dasi yang melingkar di lehernya.


"Merendahlah sedikit uncle, kamu terlalu tinggi aku tidak menyamai mu,"


"Kamu bisa berjinjit,"


"Dan kaki akan penat," protesnya.


"Uncle duduk di kursi, aku mau mengambil handuk." Serra berjalan masuk kamar mandi mengambil handuk untuk menggosok rambut Alrez.


"Nah, rambut uncle sudah lumayan kering," beritahu Serra sambil merapikan rambut Alrez menggunakan jarinya, karena di kamar rawat tidak ada sisir.


"Uncle bisa kau memberitahu ku syarat mu itu, agar aku cepat melakukannya agar tidak merasa memiliki hutang lagi denganmu," ucap Serra berpindah duduk di sofa bersama Alrez.


"Aku belum membuatnya.. Setelah ibumu keluar dari rumah sakit aku akan memberitahu mu," tegas Alrez.


Serra mengangguk paham walaupun ia penasaran. Ia hanya takut jika syaratnya mengarah pada hal-hal tidak diinginkan.


"Aku berdoa semoga syaratnya bukan hal yang intim." ucapnya dalam hati.


"Jangan khawatir, syaratnya bukan sesuatu yang membuat mu harus kehilangan kehormatan. Saya bukan orang yang mengambil keuntungan dari kesusahan orang," terang Alrez seperti tahu yang sedang dipikirkan gadisnya. "Saya akan menyentuh mu, ketika kamu sudah sah menjadi istriku. Disaat itulah kamu akan menjadi miliku sepenuhnya." lanjutnya dalam hati.


Serra menampilkan wajah kekagetannya, pria dewasa didepannya mengetahui isi pikirannya.


"Uncle cenayang?" Pertanyaan yang dilontarkan Serra malah membuat Alrez tertawa.


Alrez menyentil dahi Serra. "Terlalu jauh pikiran mu. Dari raut wajah saja aku bisa membaca isi kepalamu. Jadi berhati-hatilah menampilkan raut wajah mu, atau gerakan lainnya." peringatnya.

__ADS_1


Tok... tok..


"Itu pasti kurir yang mengantar makanan yang saya pesan. Ini ambil uangnya, katakan pada kurirnya kembalian tidak usah. Anggap saja tips untuknya."


Alrez memberikan uang sebanyak lima ratus ribu pada Serra untuk di berikan pada kurir yang telah mengantarkan makanan. Serra sedikit shock, lantaran uang diberikan Alrez lumayan banyak.


Setelah itu Serra menaruh tiga paper bag yang di dalam belum diketahui Serra makanan apa yang di pesan Alrez sampai semahal itu.


"Ra keluarkan saja makanannya, saya masih harus mengecek email masuk. Kamu sarapan saja dulu," ujar Alrez bicara dengan mata tetap fokus pada layar handphonenya.


Serra mengeluarkan semua isi paper bag itu. Tambah membuatnya kaget makanan-makanan ini hanya berisi sedikit saja isinya di setiap menunya.


"Tidak usah kaget Serra. Orang kaya bisa memesan makanan apa saja yang mau dimakannya. Toh suami mu juga orang kaya, intinya aku makan saja menikmatinya. Perut ku juga sangat lapar."


Serra lantas memakan makanan yang bisa di makannya saja. Karena ada beberapa menu makanan yang tidak bisa di makanan. Lantaran tak tahu nama makanannya. Serra yang melihat Alrez tetap fokus pada handphonenya sampai ia sendiri sudah selesai sarapan membuatnya tak tega.


Serra menyodorkam sendok berisi makanan ke mulut Alrez dan diterima pria itu tanpa banyak bicara. Tidak terasa makanan yang disuapkan ke Alrez sudah habis tanpa tersisa.


"Eum apa uncle mau makan lagi? Ini masih tersisa satu paper bag," ucap Serra.


Alrez menggeleng, "Itu buat kamu saja nanti, kalau kamu lapar lagi bisa memakannya."


"Hmm, terimakasih uncle untuk semua bantuan ini," kata Serra tiba-tiba.


"Hemm..." balas Alrez menatap Serra.


"Oh ya saya akan ke kantor sekarang, jika kamu membutuhkan sesuatu telpon saja saya," pamit Alrez.


"Uncle!" panggilnya.


"Ya, ada apa ra?" Tanya Alrez berbalik kebelakang.


"Hati-hati," ucapnya malu-malu mengatakannya.


Alrez membalasnya dengan senyuman, "Saya juga telah mengirimkan pesan pada Arka. Mungkin dia akan kesini.."


Selesai mengatakan itu, kini Alrez benar-benar berlalu pergi. Serra menutup pintu kamar rawat saat punggung Alrez tidak terlihat lagi.


...****************...


Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!

__ADS_1


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓


__ADS_2