
Serra berdiri tak jauh dari ranjang. Ia memandangi wajah pria yang terlihat pucat dengan mata terpejam. Pria itu seperti merintih tetapi tak mengeluarkan suara hanya mulutnya yang bergerak-gerak, kadang menaik turunkan alisnya, mengekspresikan wajahnya yang menahan sakit.
Serra mengira kalau Arlez tengah tertidur, saat menatap lekat wajah pria itu barulah dia menyadari. Jika pria itu sebenarnyar menahan sakit yang dideranya.
Arlez memegang kepalanya, pusingnya tidak kunjung hilang sedari dua hari ini.
Serra memilih mendekat dan duduk ditepian ranjang, tangannya dengan terampil memijit kepala Arlez.
Merasakan sebuah tangan yang begitu lembut memijit kepalanya membuat Arlez merasa nyaman. Perlahan lelaki itu membuka matanya, untuk mengetahui siapa yang memijitnya.
“Serra,” ucap Arlez lemah.
Bibir lelaki itu tersenyum tipis saat mengetahui gadis yang diinginkan telah berada di apartemen. Angga benar-benar melaksanakan perintahnya.
“Iya uncle ini aku. Uncle mau aku buatkan bubur?” Tanya Serra.
Arlez mengangguk. Tiba-tiba perutnya bergejolak ingin muntah, Arlez langsung lari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi di dalam perutnya. Serra menyusul masuk ke dalam kamar mandi, karena khawatir mendengar suara Arlez yang muntah-muntah.
“Serra jangan kesini.” Arlez mengibaskan tangan meminta Serra agar tidak masuk ke dalam.
Serra tidak memperdulikan, gadis itu tetap masuk dan membantu mengurut tengkuk uncle Arlez yang masih muntah. Tetapi bukan makanan yang di muntahkan melainkan hanya cairan. Berarti tuan Angga tak berbohong soal uncle Arlez yang tidak makan selama dua hari.
Selesai muntah Arlez berkumur-kumur dan mengelap di area bibirnya pakai tisu. Serra memapah Arlez yang amat lemas sehabis muntah.
__ADS_1
“Kau tidak mencium bau badan saya. Saya sudah dua hari tidak mandi,” akunya.
Serra menggeleng. “Kulit uncle terasa lengket,” jujurnya.
“Bisakah kau membantu menyeka badan saya?” Tanya Arlez yang kini sudah berbaring kembali di ranjang.
“Mengapa uncle enggak mandi aja,” usul Serra.
“Badan saya sangat lemas Serra, jika berdiri terlalu lama,” terang Arlez.
“Biar aku panggil tuan Angga saja ya uncle. Buat bantu menyeka badan uncle,” ucap Serra dengan santainya.
“Lebih baik tidak usah Serra,” tolak Arlez. Daripada Angga yang harus menyeka badannya, dia lebih memilih membiarkan badanya lengket saja.
Serra mulai membuka kancing baju piyama yang dipakai Arlez dengan mata terpejam. Arlez tampak tersenyum menikmati wajah Serra dengan mata yang terpejam.
‘Sungguh manis sekali gadisku ini’ batinnya.
Andaikan Arlez bertemu lebih awal dengan Serra. Mungkin dia akan sangat bahagia memiliki istri seperti Serra. Gadis berhati lembut dan penuh ketulusan.
“Bagaimana kau bisa menyeka badan saya dengan mata terpejam.” Pungkas Arlez.
Serra membuka mata, karena yang dikatakan Arlez benar. Ia tidak bisa melakukan dengan mata terpejam. Ketika matanya sudah terbuka, ia tersipu malu melihat otot uncle Arlez yang terlihat hot dan seksi menurutnya.
__ADS_1
“Singletnya sekalian ra,” ujar Arlez dengan senyum menggoda.
“Buka sendiri aja uncle, aku mau mengambil air hangat,” balas Serra langsung melangkah cepat masuk ke kamar mandi.
Serra menatap dirinya dicermin, ia memegang pipinya yang memerah. Pertama kali baginya melihat badan orang selain suaminya, terlebih orang itu adalah uncle dari suaminya.
Tak mau berlama-lama di kamar mandi. Serra mencuci wajah sebentar dan keluar.
“Mau kemana?” Tanya Arlez melihat Serra berjalan terburu-buru.
“Kebawah, ngambil baskom,” jawab Serra.
Kini Serra kembali dengan membawa baskom. Lalu masuk kembali ke kamar mandi mengambil air hangat dan handuk kecil yang tersedia dalam lemari dikamar mandi.
Serra mulai menyeka badan Arlez. Sekitar dada bidang pria itu ditumbuhi bulu-bulu halus. Ada orang yang mengatakan pria dengan bulu dada membuat seorang pria terlihat bijak dan dewasa.
🌷🌷🌷🌷
Bersambung. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1
Terimakasih ❤