YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 124.


__ADS_3

"Jadi bapak ini, keluarga pak Avrian," ucap Serra bersuara, setelah terdiam beberapa detik.


"Iya, dia ayah saya," kata Avrian.


"Apa kalian berdua yang menyelamatkan ayah saya dan membawa ke rumah sakit?" Avrian bertanya.


"Benar sekali pak, kamilah yang membawa ayah anda! Tadi malam warga yang menolong ayah anda meminta bantuan pada kami untuk membawa ayah anda segera ke rumah sakit, agar bisa secepatnya mendapatkan pertolongan. Kami bersedia membantu dan membawa ayah anda ke rumah sakit, dokter juga meminta kami menghubungi pihak keluarga agar bisa ke rumah sakit dan mendonorkan darah. Tetapi kami tidak tahu, sebab identitas ayah anda ketinggalan di mobil. Beruntunglah golongan darah ayah anda sama dengan kekasih saya." Alrez menjelaskannya.


"Terimakasih Serra telah mendonorkan darah mu untuk keselamatan ayah saya," ucap Avrian mendekat pada Serra dan mengusap rambut gadis remaja tersebut.


"Eum i-iya pak." Sentuhan dirambutnya membuat Serra sedikit merasa gugup. Kalau dilihat dari dekat wajah Avrian sangat mirip lelaki yang tadi malam bertamu ke rumahnya, lelaki yang merupakan kembarannya.


"Tidak mungkin, ini pasti hanya kebetulan saja." batinnya Serra mengelak, berharap semua yang dipikirannya salah.


"Nak kemarilah, saya ingin melihat wajah dari dekat," pinta Opa Haidzar.


Serra menunjukkan dirinya, memastikan siapa yang dipanggil oleh ayah pak Avrian. Dirinya ataukan uncle Alrez.


"Iya kamu gadis cantik, mendekatlah saya ingin melihat wajah mu," kata Opa Haidzar.


Serra melangkah mendekati sisi ranjang ayah pak Avrian. Serra mengambil tangan ayah pak Avrian dan menciumnya sebagai tanda menghormati.


"Kalau dilihat dari dekat, wajah sekilas mirip cucu laki-laki. Tetapi versi perempuan, bahkan senyum mu mirip putra ku Avrian," ungkap Opa Haidzar membuat suasana dalam kamar rawat menegang.


Sabrina yang berdiri disebelah Avrian, memeluk lengan suaminya. "Mas sepertinya dugaan kita benar, gadis ini adalah kembaran Aiden. Berarti Rida berada di kota ini." bisiknya.


"Mungkin cuma kebetulan saja pak," ucap Serra sopan.


"Panggil saya opa saja nak, panggilan pak rasanya tidak nyaman didengar telinga saya. Opa sangat berterimakasih kalian berdua menyelamatkan hidup saya, terutama kamu yang sudah sukarela mendonorkan darah untuk saya."


"Sama-sama opa, sesama manusia kita harus saling tolong menolong," balas Serra tersenyum manis.


'Ceklek' suara pintu yang dibuka oleh orang yang berada diluar.


"Aiden, darimana kamu semalam? mengapa tidak pulang-pulang?" cecar Avrian saat melihat kedatangan putranya. Avrian sangat marah mengetahui putranya tak pulang.


"Opa!" Aiden lantas menghampiri Opa Haidzar dan memeluknya. Bahkan Aiden tak menggubris pertanyaan papanya.

__ADS_1


"Sabar mas, nanti dirumah saja kita meminta penjelasan Aiden," imbuh Sabrina seraya mengusap lengan suaminya memberi ketenangan.


Serra yang masih duduk di kursi yang tersedia dekat ranjang, nampak sangat shock dengan kedatangan Aiden. Serra berdiri dan mundur sampai dekat Alrez. Mata gadis itu tertuju pada Avrian, Sabrina serta Aiden yang masih memeluk Opa Haidzar.


"Opa mengapa bisa kecelakan kaya gini? Opa pasti menyetir sendirikan, ayo ngaku saja," ujar Aiden mengurai pelukan bersama opanya.


"Opa kan juga pengen nyetir sendiri Aiden, opa cape di setirin terus. Kecuali opa mu ini gak bisa menyetir, tidak masalah opa disetirin terus," jawab Opa Haidzad santai dan tenang menghadapi cucu posesifnya.


"Aku paham opa! Tetapi coba lihat keadaan opa sekarang, akibat menyetir sendiri opa malah kecelakaan dan dirawat dirumah sakit. Oma pasti belum tau keadaan opa sekarang, gimana kalau oma sampai tau opa masuk rumah sakit gara-gara berkendara sendiri, aku tidak bisa membayangkan kemarahan oma dan hukuman buat opa yang susah diberitahu," tukas Aiden.


"Makanya opa meminta papa mu agar merahasiakan ini. Jangan sampai oma mengetahui opa dirawat," balas Opa Haidzar.


"Opa yakin oma tidak akan mengetahuinya," tatap Aiden menaikan alisnya.


Opa Haidzar malah menggeleng, dia sangat mengenal istrinya, walaupun mereka sedang berjauhan. Tapi istrinya memiliki banyak mata-mata untuk mengawasi dirinya, entah itu untuk keselamatan atau takut dirinya selingkuh. Mengingat badannya masih gagah, kaya-raya, walau umurnya sudah terlalu tua. Tetap saja para wanita selalu menatap genit kearahnya, sayang sekali Opa Haidzar tak menanggapi, bahkan menganggap mereka seperti angin numpang lewat saja. Baginya istrinya adalah wanita paling tercantik yang menggetarkan jantungnya, Opa Haidzar sangat mencintai istrinya, wanita lain tidak bisa menarik hatinya.


"Aku yakin oma saat ini dalam perjalanan menuju kesini," ujar Aiden malah terkekeh.


"Hem, kau harus membantu opa menenangkan kemarahan oma mu," ucap Opa Haidzar.


"Boleh tapi-"


"Terus yang membawa opa kerumah sakit siapa?" lanjut Aiden bertanya.


"Mereka yang menyelamatkan opa." Opa Haidzar mengarahkan telunjuknya pada Serra dan Alrez yang saling berdekatan.


Aiden yang mengikuti arah telunjuk opanya, dibuat terkejut melihat orangnya.


"Serra!"


"Ternyata kamu mengenalnya," kata Opa Haidzar.


Sabrina dan Avrian juga kaget mengetahui Aiden mengenal Serra. Sungguh dunia ini sangat sempit sekali.


"Gadis itu sangat baik, dia rela mendonorkan darahnya buat opa," ucap Opa Haidzar.


Aiden diam dan melangkah mendekati Serra. Aiden memeluk Serra yang tidak membalas pelukannya.

__ADS_1


"Aku paham, semua ini terlalu cepat buat mu bisa mengerti. Tapi percayalah selama ini aku selalu mencari keberadaan kalian, takdir berkehendak lain, sekian lama kita terpisah, allah akhirnya menjawab semua doa-doa ku dan mempertemukan kita. Ku mohon tolong terima aku sebagai kembaran mu Serra," ungkap Aiden menahan sesak dihatinya saat adik kembarnya meninggalkan bersama Ibunya tadi malam. Aiden sampai kepikiran bahwa adiknya membencinya.


Semua orang yang menyaksikan keduanya dan mendengar ungkapan Aiden menjadi dibuat terkejut. Opa Haidzar sampai bangun dan menurunkan kakinya, berjalan tertatih-tatih menghampiri kedua orang yang masih belum melepas pelukan.


"Aiden jelaskan semua ucapan mu tadi." Opa Haidzar secara paksa melepaskan pelukan keduanya.


"Opa, orang yang seharusnya menjelaskan semua ini adalah papa. Karna papa dan mama yang tahu betul mengenai permasalahan mereka," terang Aiden.


Opa Haidzar beralih menatap putra dan menantunya bergantian. "Kita pulang sekarang dan jelaskan dirumah saja."


Avrian tak bisa membantah ayahnya, sebab perkataan ayahnya tak bisa diganggu gugat.


"Dan kau gadis manis, kau juga harus ikut bersama kami," tegas Opa Haidzar.


Serra menatap Alrez, meminta bantuan, agar ia tidak harus ikut bersama mereka yang tidak Serra kenal. Serra tak ingin ikut bersama orang yang telah menyakiti Ibunya.


"Kamu tenang, saya akan menemani mu. Jadi jangan cemas," ucap Alrez merangkul gadisnya agar tenang.


"Uncle! Ibu sendirian dikontrakan, aku khawatir. Aku pengen bersama Ibu," rengek Serra mengingat Ibunya dan ingin pulang memeluk Ibunya saja agar hati dan pikirannya tenang.


"Aku akan minta assistenku membawa Ibu ke rumah," ucap Aiden terdengar berbisik.


"Tidak, ku mohon jangan libatkan Ibuku. Aku tidak ingin sampai Ibuku jatuh sakit lagi," ujar Serra menolak dan mencegah Aiden agar tak membawa Ibunya.


"Baiklah, aku tidak akan membawa Ibu. Aku juga engga mau melihat Ibu sakit," sahut Aiden.


"Mengapa masih berdiam disini, ayo sekarang kita pulang dan selesaikan ini dirumah." Setelah berkata itu, Opa Haidzar berjalan keluar kamar mendahului semua orang.


...****************...


...Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!...


Follow ig aku yuk guys : @dianti2609


Bersambung. . .


Follow juga ya!!

__ADS_1


Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.


Terimakasih💓


__ADS_2