YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 16


__ADS_3

“Al buruan cerita, gue penasaran banget sejarah cafe aesthetic ini,” ujar Rachel tak sabaran menunggul Aldo menceritakannya.


“Iya gue ceritain sejarah Ariella cafe di bangun penuh perjuangan oleh sepupu gue sendiri. Sepupu gue namanya Aiden, dia sangat dingin, jika bicara hanya seperlunya saja. Kenapa gue bilang sepupu gue bangun cafe ini penuh perjuangan? Karena Aiden membangun cafe ini tanpa campur tangan om gue. Aiden saat itu masih SMP dan dia sudah berkerja banting tulang, yang akhirnya Ariella cafe berdiri sampai saat ini. Tapi saat kelulusan SMP keluarga om gue pindah ke luar negeri bersama istri dan Aiden dipaksa om gue untuk ikut dengan ancaman jika tak ikut maka Ariella cafe akan di hancurkan. Aiden tidak mau sampai itu terjadi, jadi dia memilih mengikut kemauan om gue. Jadi sekarang Ariella cafe dipercayai pada karyawan pertama kali bekerja disini yaitu bang Putra tadi. Dia yang mengurusi cafe ini, Aiden tetap memantau perkembangan cafe ini dari jauh.”


Cerita Aldo membuat Serra penasaran dengan orang yang bernama Aiden. Sungguh lelaki yang hebat dan mengagumkan, masih SMP sudah bekerja keras demi membangun cafe aesthetic dan mewah.


“Al, aku boleh bertanya,” ujar Serra.


“Tanya aja re, selagi bisa gue jawab bakal gue jawab,” ucap Aldo.


“Kenapa nama cafe ini Ariella. Apa dia punya seorang perempuan yang sangat di sayangi atau hanya sekedar ingin menamainya saja?”


“Pertanyaan lo bagus ra! Oke gue bakal cerita lagi, Ariella adalah saudara kembar Aiden. Mereka terpisah saat baru di lahirkan. Ariella di bawa oleh ibu kandung Aiden, sedangkan Aiden dibawa oleh om gue. Sebenarnya om gue punya dua istri, karna istri pertamanya tak bisa mengandung. Jadi atas permintaan istri pertama om gue harus mendekati seorang perempuan dan harus menikahinya. Tapi istri om gue minta agar om gue tidak memberitahu kalau sebenarnya dia sudah menikah sebelumnya. Inti dari cerita ini om gue menikahi ibu kandung Aiden demi mendapatkan keturunan. Setelah mendapatkan keturunan om gue akan menceraikan istrinya dan mengambil anak yang dilahirkan oleh istri kedua om gue. Sayangnya istri kedua om gue mendengar niat jahat om gue dan mengetahui bahwa dia bukan istri satu-satunya melainkan hanya istri kedua penghasil anak. Istri kedua om gue langsung membawa kabur kembaran Aiden dan meninggalkan Aiden bersama om gue.”


“Pasti sepupu lo sangat marah saat mengetahui bahwa dia mempunyai saudara kembar dan orang yang dipanggilnya mama bukanlah ibu kandungnya,” celetuk Nabilla akhirnya bersuara juga setelah sekian lama hanya diam mendengarkan mereka mengobrol.


“Yap, lo benar Bill. Ketika mengetahui rahasia yang disembunyikan papanya, Aiden kabur dari rumah selama berbulan-bulan. Aiden mencari ibu dan kembaranya, sampai dia bekerja banting tulang. Tidak disangka bisa membangun cafe ini, awalnya cafe ini tidak punya nama. Tapi saat Aiden ditemukan om gue, Aiden awalnya engga mau pulang ke rumah sebelum ibu dan kembarannya ditemukan. Tetapi om gue membujuk Aiden akan menceritakan semua masalalunya asalkan Aiden pulang kerumah. Akhirnya Aiden mau pulang kembali kerumah om gue..”


Semua yang diceritakan Aldo tentang sepupunya bernama Aiden. Membuat dada Serra begitu sesak mendengarnya, ia sudah tidak tahan lagi sampai tidak sadar air mata jatuh tanpa di minta.


“Lo nangis ra?” Tanya Rachel melihat pipi sahabatnya basah.


Serra menghapus air matanya, lalu mengangguk “Dada aku tiba-tiba merasa sesak mendengar cerita Aldo. Rasanya aku pengen ikutan marah sama om nya Aldo. Aku engga bisa bayangin ketika Aiden bisa menemukan ibu kandungnya dan gimana reaksi kembaran mengetahui bahwa sebenarnya dia masih punya papa dan saudara kembar.” Lirih Serra memegang pipi yang basah.

__ADS_1


Pelayan datang membawa pesanan keempat orang tadi mengobrol.


“Maaf kak, menunggu lama. Tadi di bawah masih banyak pesanan yang belum diantar ke meja. Maaf sekali lagi ya kak, karena lambat mengantarkan pesanan kakak dan teman-teman..” Pelayan itu memang mengenal Aldo sepupu dari pemilik cafe ini, itulah mengapa pelayannya meminta maaf.


“Tidak papa Rini, santai saja gue ga bakal marah kok”Menurut Aldo wajar saja pesanan merek diantar lambat, karna cafe ini selalu rame pengunjung. Jadi bukan hanya mereka saja yang harus dilayani cepat tadi ada banyak orang yang memang lebih dulu kesini daripada mereka.


“Terimakasih kak Aldo. Kalau begitu silahkan di nikmati minuman dan makanan. Saya pergi dulu, jika ada yang ingin dipesan silahkan panggil saja..” Pelayang berkata ramah dan melangkah pergi turun kebawah lagi melanjutkan pekerjaannya.


Mereka berempat menikmati makanan masing-masing. Handphone Rachel berdering ada panggilan masuk dari mamanya.


“Gue kesana bentar ya. Mau angkat telpon dari nyokap.” Rachel menjauh dari meja mereka untuk mengangkat telpon dari mamanya. Beberapa menit ia kembali lagi ke meja mereka.


“Guys gue harus pulang sekarang. Nanti makanannya biar gue bayar duluan di bawah. Maaf ya gue harus pulang duluan, nyokap gue minta temani ke salon,” ujar Rachel.


“Iya bil, jemputan gue lagi otw kesini. Bentar lagi nyampe,” kata Rachel.


“Chel, gue mau nebeng boleh ga?” Tanya Nabilla lagi.


“Boleh bil..” jawab Rachel.


“Billa kok ikutan pulang juga sih, jadi aku gimana dong. Masa aku ditinggalin berdua sama Aldo,” protes Serra pada kedua temannya yang malah ingin pulang.


“Ra, gue benar-benar minta maaf banget. Gue baru ingat kalau ada janji sama sepupu gue buat bantuin dia ngerjain tugasnya.” Nabilla menyatukan kedua tanganya meminta maaf pada Serra.

__ADS_1


“Udah ngga papa ra, nanti pulangnya lo gue anterin. Kalian duluan aja, hati-hati ya di jalan..” Aldo tampak senang bisa berduaan dengan Serra. Kapan lagi coba dia bisa berduaan dengan seseorang yang disukainya selama ini tetapi hanya bisa memendamnya. Karna belum cukup punya keberanian mengungkapkannya.


“Enggak! Aku juga mau pulang kalau kayak gitu,” sanggah Serra bersiap ingin pulang.


Tangan Aldo menahan lengan Serra. “Ra jangan pulang dulu, temanin gue disini ngobrol ada banyak hal yang mau gue ceritain,” ujarnya.


Serra sedikit bimbang jadinya ingin pulang atau berada di cafe ini untuk mendengarkan cerita Aldo lagi.


“Tuh ra, mending kamu disini aja dulu temanin Aldo,” pungkas Nabilla.


Akhirnya Serra mengangguk, “Tapi jam 4 gue harus pulang..”


“Iya nanti gue anterin,” ucap Aldo.


“Nah kalau gitu kita berdua pulang duluan ya..” pamit Rachel.


Kini di cafe tinggal Serra dan Aldo yang saling mengobrol ringan. Serra tidak menyadari bahwa seseorang tengah memantaunya sedari tadi dengan sorot mata tajam.


***


Bersambung. . .


Jangan lupa tinggalkan jejakt kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.

__ADS_1


Yuk follow ig author : @dianti2609


__ADS_2