YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 39


__ADS_3

Setelah uncle Arlez pergi ke kamar berganti pakaian. Angga ke dalam apartemen mengejutkan Serra yang membereskan meja makan.


“Ehh, ada kak Angga. Kak Angga udah sarapan?” Ujar Serra bertanya pada lelaki yang berdiri jauh beberapa meter darinya.


“Kebetulan belum sarapan,” jawab Angga.


“Kalau gitu kak Angga sarapan disini saja. Aku tadi masak sup, ini masih banyak supnya,” kata Serra memperlihatkan sup yang akan dibawa ke dapur.


Angga mengangguk, Serra pergi ke dapur mengambil mangkok kecil. Sekalian mencari plastik membungkus sup untuk dibagikan ke orang diluar.


“Plastik buat apa nona?” Tanya Angga melihat beberapa plastik diatas meja makan yang dibawa Serra.


“Ouh ini, rencana aku mau bungkus sup yang masih banyak ini ke dalam plastik-plastik ini kak. Mau aku bagiin ke orang diluar sana. Tapi mau izin dulu sama uncle,” jelas Serra menjawab yang ditanyakan Angga.


‘Baik hati sekali gadis ini! Pantas saja tuan Arlez kepincut’ batin Angga.


Arlez sudah siap dengan pakaian santainya. Arlez memicingkan matanya ketika melihat gadisnya bicara dengan sesorang yang tengah duduk di meja makan membelakanginya. Arlez mendekat untuk mengetahu siapa orangnya.


“Angga, ngapain kau pagi-pagi ke apartemen saya?” Seru Arlez bertanya saat melihat orang yang bicara dengan gadisnya adalah Angga asisstennya.


“Hanya ingin melihat keadaan tuan. Tapi nona Serra menawari saya sarapan, saya tak ingin menolaknya, karena kebetulan juga saya belum sarapan,” jawab Angga menjelaskan kedatangannya kemari.


“Alasan kau saja, bilang saja kau mau menumpang sarapan di apartemen saya,” dengus Arlez menatap tajam asisstennya.


“Sudahlah uncle, biarkan saja kak Angga sarapan disini. Lagian supnya juga masih banyak,” ucap Serra menengahi keduanya.


“Apa telinga saya tidak salah mendengar. Barusan kau memanggil Angga, kak! Sejak kapan kalian dekat,” ujar Arlez beralih menatap gadisnya.


“Kami tidak dekat tuan, tetapi nona Serra kemaren sempat memanggil saya tuan. Saya merasa bukan boss harus dipanggil tuan, jadi saya meminta nona memanggil saya dengan sebutan kak saja. Itu lebih bagus didengar.”


Bukan Serra yang menjelaskan, tapi Angga. Angga tak mau adanya kesalahpahaman antara bossnya.


“Hemm...” balas Arlez singkat. Tapi wajahnya masih menunjukkan kekesalan, Arlez tidak ingin sampai gadisnya terlalu dekat dengan asisstennya.


“Uncle, aku boleh gak bungkusin sup ini buat dibagiin ke orang-orang diluar sana,” tutur Serra meminta izin.


“Saya sudah mengatakannya ra. Kau tidak perlu meminta izin, kau bebas melakukan apa yang kau ingin lakukan. Anggap saja apartemen ini milik kau juga.” Arlez kembali menegaskan perkataannya.


Serra mengangguk saja. Sedangkan Angga tetap memakan sarapan, tidak memperdulikan orang disekitarnya yang lagi kasmaran.

__ADS_1


“Biar saya bantu bungkusin,” pungkas Arlez.


Arlez membantu menuang sup ke wadah plastik, tapi malah supnya berceceran.


“Lebih baik aku sendirian yang bungkusin dan uncle duduk diam saja.” Serra menyingkirkan mangkok sup menjauhkan dari uncle Arlez.


...**************...


Arlez mengantar Serra pulang, setelah menginap satu hari di apartemen. Itupun karena paksaan yang mengharuskan Serra merawat Arlez, hanya waktu satu hari.


“Uncle nanti singgah di tempat pembuangan sampah yang dekat-dekat sini,” beritahu Serra.


“Memangnya mau ngapain singgah di tempat pembuangan sampah?” Tanya Arlez.


“Mau bagaiin sup nya uncle,” jawab Serra.


“Tapikan disana bau ra, memang kamu tahan dengan bau sampah,” ujar Arlez.


Serra menoleh dan tersenyum pada uncle Arlez. Lalu menggelengkan kepalanya.


“Tidak uncle, nanti uncle tak usah turun. Biar aku sendiri saja yang turun.”


Serra menatap kearah jalan dari kaca jendela mobil, lalu lintas terlihat lengang. Mungkin jam hampir menunjukkan pukul sebelas jadi jalanan tak semacet orang-orang berangkat kerja saat jam setengah tujuh pagi.


Arlez mendadak mengerem mobilnya. Pria itu mengelus dada saat melihat kaca spion tidak ada mobil dibelakangnya.


“Maaf uncle!” Serra mengatakan maaf saat menyadari kesalahan tiba-tiba meminta berhenti.


“Saya maafkan, lain kali jangan meminta stop mendadak ra. Itu membahayakan, kita selamat karena tak ada mobil melaju dibelakang mobil saya,” katanya lembut. Dilihatnya gadisnya menganggukan kepala.


“Saya takut jika kejadian kemaren terulang.” Lanjutnya membawa tangannya mengusap dahi gadisnya yang terluka karena kejadian waktu itu.


Serra membawa tangan uncle Arlez kedalam genggamannya. Mengusap tangan uncle Arlez menenangkan.


“Aku baik-baik aja uncle,” ucap Serra tersenyum manis.


Mereka berdua turun bersama. Serra sudah meminta Arlez menunggu dimobil saja, tetapi Arlez mengatakan tak mau dan memilih ingin ikut menghampiri ibu yang berada di bawah pohon.


“Permisi ibu, maaf mengganggu istirahat ibu. Ini ada makanan buat ibu makan siang,” ramah Serra sangat sopan dan berjongkok menyerahkan makanan tersebut.

__ADS_1


“Terimakasih ya nak. Ibu doakan semoga kalian cepat mendapat momongan. Selalu diberikan rezeki dan dipermudah setiap masalah yang kalian lalui dalam rumah tangga...” balas ibu tersebut mendoakan keduanya.


“Eum ibu sebenarnya kit-“


“Terimakasih kembali ibu telah mendoakan kami. Ibu ini ada sedikit rezeki buat ibu..” Arlez tersenyum senang mendengar doa ibu didepannya.


Ibu itu ingin menyalam tangan, lantas dengan cepat Arlez memegang bahu ibu tersebut.


“Ya sudah ibu, kami pamit dulu..” Arlez mengamit tangan Serra membawa masuk ke dalam mobil kembali.


Dalam mobil Serra mendelik pada uncle Arlez.


“Kamu kenapa ra?” Tanya Arlez menyadari gadisnya yang menatap tak bersahabat.


“Maksud uncle apasih tadi?” Serra balik bertanya.


“Yaampun ra, ibu tadikan juga gak tau kalau kita suami istri atau bukan. Jadi gak papa, kamu tenang saja. Saya memahami posisi kamu istri dari keponakan saya...” tukas Arlez padahal dalam hati berharap suatu saat nanti gadisnya benaran menjadi istrinya.


Akhirnya makanannya sudah habis mereka bagikan. Kini Arlez menjalankan mobilnha menuju kearah mansion. Serra yang menyadari kemana arah tujuan mobil lantas membuka suara.


“Eum uncle bisakah kita putar balik,” ujar Serra.


“Kenapa putar balik, kita hampir mau sampai mansion,” balas Arlez pura-pura tak mengetahui, ia ingin Serra menceritakannya sendiri.


“Aku sedang tidak tinggal di mansion uncle untuk beberap hari kedepan aku tinggal bersama ibuku dikontrakan,” papar Serra.


“Mengapa? Apa kau ada masalah dengan Arka?” Tanya Arlez.


“Kami tidak ada masalah uncle, hanya saja aku rindu tinggal bersama ibuku. Jadi aku meminta izin agar diperbolehkan menginap bersama ibuku dalam beberapa hari kedepan...”


Arlez tahu gadisnya tengah berbohong padanya. Ia telah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Tetapi biarlah, itu akan lebih bagus, karena ia bisa leluasa menemui gadisnya.


Mobil Arlez berhenti disebuah gang kecil sempit. Serra menolah pada Arlez dan mengucapkan terimakasih. Setelah itu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gang sempit menuju kontrakan ibunya. Sedangkan Arlez masih mengawasi Serra sampai punggung gadisnya tidak terlihat barulah ia menjalankan mobilnya.


...****************...


Bersambung. . .


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.

__ADS_1


Yuk follow ig author : @dianti2609


Terimakasih ❤


__ADS_2