
Serra yang tak ingin meninggalkan Ibunya dikontrakan sendirian, jadi gadis itu memutuskan membuka warung kecil-kecilan depan kontrakan. Ia menjual berbagai aneka minuman es dan gorengan, serta macam-macam cemilan. Kontrakannya dekat sekolahan dan lapangan bola, jadi jualannya selalu ramai pembeli, ia merasa tidak rugi.
Saat asik melayani pembeli, tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di depan warungnya. Tak lama kemudian orang itu turun dari motor dan menghampirinya. Sejurus pandangan Serra mengarah pada kedatangan mantan adik iparnya.
"Ambil ini," ujar Liora memberikan surat undangan pada Serra.
"Apa ini?" Serra malah bertanya.
"Malah nanya lagi, lo ga bisa baca sendiri apa," ketus Liora bicara kasar.
"Mbanya tidak bisa apa bicara sopan sedikit, cantik-cantik etikanya gak ada." Salah satu Ibu pembeli di warung Serra menegur cara bicara Liora yang kasar.
"Betul bu, zaman sekarang anak remaja kebanyakan tidak beretika, padahal pendidikannya tinggi. Tapi etikanya masih no." Sahut salah satu Ibu Ibu ikutan menyindir membuat Liora meradang mendengarnya.
"Hehh kalian-"
"Sayang sudah! jangan memperkeruh suasana, mending kita pulang sekarang. Itu undanga pernikahan Arka dan Rachel, besok pernikahan akan dilangsungkan," sela Farell meraih tangan kekasihnya untuk menghentikan sebelum terjadi keributan.
"Ibu Ibu saya minta maaf atas ketidaksopanan kekasih saya," lanjut Farell menatap kedua Ibu Ibu yang tadi menegur Liora.
Kedua Ibu itu malah melengos begitu saja, "Tolong mas bawa pergi kekasih anda, kami enggan melihat wajah angkuhnya itu," ucap salah satu Ibu Ibu yang kedua tadi.
Farell menghidupan mesin motornya dan bergegas pergi meninggalkan area tersebut. Intinya dia sudah meminta maaf pada kedua Ibu Ibu tadi. Jika mereka tidak memaafkannya itu hak mereka masing-masing, dia tidak bisa memaksakan kehendak.
Setelah kepergian Liora dan Farell. Serra baru membuka surat undangannya, ia merasakan organ tubuhnya sesak seketika, melihat di surat undangan tersebut tercantum nama Arka dan Rachel. Sontak air matanya tak terbendung lagi.
"Ya allah kenapa hati ini sakit sekali melihat orang yang kita cintai akan bersanding dengan sahabat kita sendiri." batinnya.
"Neng Serra yang kuat ya, mungkin dia bukan jodoh neng. Allah swt sedang menyiapkan jodoh yang tepat untuk neng, jadi jangan bersedih hanya karena satu laki-laki yang kita cintai menjadi milik orang lain," bijak Ibu Ibu yang pertama menegur Liora tadi.
"Iya bu insyaallah saya akan kuat dan ikhlas melepaskannya untuk orang lain," ucap Serra tersenyum tipis menutup kesedihan yang masih hinggap di lubuk hatinya.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Alrez datang dan memberi salam.
"Waalaikumsalam," jawab Serra.
"Ehh ada mas ganteng, pasti mau ketemu sama neng Serra." Alrez mengangguk saja.
"Temenin neng Serra ya mas, kasihan tadi abis dikasih surat undangan pernikahan sama perempuan kasar. Kami tinggal dulu ya neng." Kedua Ibu lalu meninggalkan Serra dan Alrez berduaan.
Sontak Alrez memandang ke wajah Serra penuh tanya. "Siapa yang barusan datang kesini dan bersikap tak sopan pada mu ra? Biar aku kasih pelajaran padanya."
"Aku engga papa uncle," lembut Serra mengubah suasan agar menjadi lebih tenang.
"Tidak usah menutupinya ra, katakan saja siapa orangnya? atau saya akan mencari tahu sendiri," desak Alrez meminta gadisnya jujur sekarang.
"Liora, dia yang ngasih ini." Akhirnya Serra terpaksa mengatakannya juga.
"Gadis itu benar benar tidak ada sopan sopannya, nanti aku akan memberinya sedikir pelajaran. Biar dia bisa bersikap baik pada mu," ujar Alrez kesal, ternyata Liora masih saja membenci Serra, walaupun Serra sudah tidak menjadi kakak iparnya setidaknya hargai Serra sebagai orang yang lebih tua darinya.
"Hem, saya tidak menyakitinya ra. Saya ingin memberikan sedikit pelajaran agar Liora bisa bersikap sopan," ujar Alrez.
"Ra saya ingin kamu datang ke undangan pernikahan itu bersama saya. Kamu harua menunjukkan kalau kamu baik-baik saja tanpa Arka."
"Hiks tapi aku takut engga kuat ngeliat mereka uncle."
"Husstt! Kamu pasti bisa, kan ada saya. Saya akan selalu bersama mu disana nanti." Alrez memeluk Serra menenangkan gadisnya.
Prok...prok...prokk..
Ketika mendengar suara tepukan tangan, Serra dan Alrez memgurai pelukan keduanya. Wajah Serra menengang melihat kedatangan Arka, sekarang berada di depan warungnya.
"Oh ternyata selama ini kamu diam-diam ada main belakang sama uncle aku. Gak nyangka kamu murahan juga, pantas ngebet banget pengen cerai. Kalian berdua pasti udah ngelakuin sesuatu kan dibelakang," cemooh Arka.
__ADS_1
Bugg.
Alrez memberikan satu bogeman mentah pada pelipis Arka membuat Arka terhuyung hampir jatuh. Semantara Serra terkejut, menutup mulutnya.
Arka melihat Serra sinis, "Alasan kamu minta cerai ternyata semurahan ini. Sekarang aku enggak akan merasa sakit melepaskan mu demi Rachel yang tengah mengandung anakku. Seperti kalimat mu kemaren aku akan mempertimbangkannya, aku akan menerima Rachel dan belajar mencintainya dan melupakan wanita murahan kayak kamu ga pantas untuk aku cintai lagi. Mama ku benar, harusnya aku gak nikahin kamu karena status kita beda."
"ARKA CUKUP! kau benar benar keterlaluan, asal kau tau Serra tidak seperti yang otak kotor mu pikiran. Dia jauh lebih baik dari kamu ataupun wanita yang akan kau nikahi. Kalian lah yang kotor, bermain dibelakangnya. Karena Serra begitu menyayangi sahabat baiknya, dia rela melepaskan kamu demi kebahagian sahabat dan anak kamu. Kamu tahu kenapa? Agar anak kalian bahagia memiliki orang tua lengkap tanpa satupun yang kurang maupun ditambah. Jadi kau harusnya berterima kasih pada Serra, bukan malah menghinanya kaya gini. Saya datang kesini hanya mau menyerahkan undangan pernikahan mu, tapi keduluan oleh Liora adiknya yang berlaku tidak sopan pada Serra." Kata Alrez panjang lebar membela gadisnya atas fitnah Arka.
Plak. Serra maju dan memberikan tamparan pada pipi kiri Arka.
"Aku tak semurahan itu seperti yang kamu katakan. Pergilah jangan menemui ku lagi. Satu lagi aku akan datang ke pernikahan mu karena aku sudah di undang. Aku janji tak akan merusak hari spesial kalian, aku datang hanya mengucapkan selamat, setelah itu aku akan pergi," papar Serra.
"Tunggu apalagi pergi kau," usir Alrez mendorong keponakannya, ia kesal karena Arka sangat kasar.
Arka akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan kotrakan mantan istrinya. Hatinya sekarang tidak menentu, menyesalkah atau marahkah. Tapi melihat dengan mata kepala sendiri, mantan istri dan unclenya berpelukan membuat hatinya murka. Merasa kalau dia sebenarnya dikhianati, padahal jelas-jelas dia yang menghianati menodai pernikahannya.
"Arghh brengsek," umpatnya berteriak setelah berada dalam mobil.
...****************...
Guys! Ayo guys join grup chat antiloversn!!!
Follow ig aku yuk guys : @dianti2609
Bersambung. . .
Follow juga ya!!
Like, comennt, rate 5. jangan lupa gifts+vote nya.
Terimakasih💓
__ADS_1