YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 30


__ADS_3

Tiba di hotel, Arlez langsung melepaskan jas melemparnya ke sofa dan merebahkan tubuh diatas ranjang, memejamkan mata sebentar untuk menghilangkan rasa penat seharian bekerja. Belum lagi nanti malam pria itu harus menghadiri undangan pesta Altan, bisa dibilang Altan adalah teman sekaligus rekan bisnisnya di Turki.


Arlez memutar-mutar memainkan Iphone. Lalu teringat dengan keadaan gadisnya. Memang ia telah memerintahkan kedua bodyguard agar mengawasi gadisnya dari jauh. Tetap saja ia ingin memastikan sendiri, tak membuang-buang waktu ia mencari kontak gadisnya yang diambilnya diam-diam dan mengklik untuk menelpon.


Deringan pertama masih belum diangkat sampai dering ketiga, barulah diangkat. Arlez belum suara membiarkan orang diseberang sana berbicara lebih dulu.


“Halo ini siapa?”


“Kalau tidak bersuara saya matikan, sepertinya anda salah sambung.” Ujar gadisnya yang bicara diseberang telpon dengan kalimat seperti mengancam.


Arlez ingin sekali tertawa mendengar suara gadisnya yang berani sekali mengacam.


“Ehem! Bagaimana keadaan kau setelah demam kemarin malam?” Tanpa basa-basi Arlez langsung bertanya, tidak mengenalkan siapa dirinya lebih dulu.


“Hah! Anda siapa?” Gadisnya tidak mengenali suaranya.


“Apa kau tak mengenali suara saya sweetheart.” Sahut Arlez enggan menyebutkan namanya, biarlah gadisnya sendiri mengenalinya.


“Sebenarnya siapa anda, jika anda tidak ingin memberitahu lebih baik saya matikan saja telponnya.”


“Saya Arlez!”


“Darimana uncle mendapatkan nomor ku?”


“Itu tidak penting Serra.. jadi bagaimana keadaan mu sekarang setelah demam,” desak Arlez. Ya, Serra orang ditelponnya dan dipanggil gadisnya.


“Aku baik-baik saja uncle.. Terimakasih sudah merawat ku, maaf aku merepotkan uncle waktu itu.”


“Syukurlah jika kau baik-baik saja. Saya tidak merasa direpotkan sama sekali. Jaga kesehatan mu selama saya tinggal, sampai ketemu kembali.”


Setelah mengatakan itu Arlez memutuskan sambungan telpon, sebelum mendengar sahutan dari Serra.


Arlez melihat jam dinding yang berada di kamar hotel menunjukkan pukul 5 sore. Masih ada beberapa jam untuk beristirahat sebelum bersiap pergi ke pesta. Ia melipat kedua tangannya di atas kepala dan menatap langit-langit kamar, membuatnya malah mengingat gadisnya.


Sungguh apa diriku sedang jatuh cinta sekarang? Salahkah jika aku menaruh hati pada istri keponakan ku sendiri.

__ADS_1


“Serra, Serra, Serra... mengapa namamu tak bisa menghilang dalam benakku,” gerutu Arlez.


Beruntunglah dia lagi sendiri, jika ada orang yang mendangarnya menggerutu, pasti orang itu akan menetertawakannya.


“Sepertinya kau memang harus menjadi milik ku, tidak perduli kau istri keponakan ku. Dengan cara apapun akan ku lakukan, asalkan kau bersamaku.”


“YOU’RE MINE, SERRA”


Arlez menekan setiap kata yang diucapkan, penuh senyuman seringai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di Indonesia, tepat dalam kamar Serra masih menempelkan handphone di telinganya, padahal sambungan telpon telah terputus. Gadis itu masih shock dengan kalimat yang diucapkan pria yang menelponnya. Belum lagi mendapatkan telpon begitu tiba-tiba dari pria tersebut dan tidak mau mengatakan dari mana mendapatkan nomor telponnya.


Serra menggenggam handphone ditanganya, masih memikirkan kalimat uncle Arlez.


“Sayang kamu belum tidur,” ujar Arka memasuki kamar mengejutkan Serra yang duduk di meja belajar.


Serra menoleh dan tersenyum pada suaminya.


“Belum ka, aku masih mengerjakan tugas,” sahut Serra.


Serra menggeleng, “Tidak usah ka, dikit lagi mau selesai.”


“Kalau gitu aku tunggu diranjang ya, biar ga ganggu kamu.” Serra mengangguk, Arka langsung menaiki ranjang dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia menunggu istrinya selesai mengerjakan tugas barulah membicarakan soal Sandra yang akan menginap di mansion ini atas izin dari mamanya.


Beberapa menit kemudian, Serra sudah menyelesaikan tugas-tugas yang akan dikumpulkan besok. Sebelum naik ke ranjang, gadis pergi ke kamar mandi mencuci wajahnya. Selesai memakai cream wajah, barulah gadis itu naik keranjang membaringkan tubuhnya.


“Sayang aku mau mengatakan sesuatu, bisakah kita bicara sebentar,” pinta Arka.


“Boleh ka...” Serra bangun dari berbaringnya dan menghadap pada suaminya yang ingin bicara.


“Sayang! Sandra akan menginap disini atas permintaan mama.” Beritahu Arka ragu-ragu mengatakannya.


“Terus kalau Sandra menginap disini memangnya kenapa ka,” ucap Serra menatap suaminya.

__ADS_1


“Kamu tahu kan sayang pernikahan kita tidak ada satupun orang yang tau. Kecuali keluarga! Jadi mama meminta selama Sandra tinggal di mansion ini, kamu semantara menginap ditempat ibu. Sebenarnya aku sudah menolak usulan mama, tapi mama tetap bersikeras agar Sandra menginap disini. Aaa.. aku bingung sayang, aku tidak bisa membiarkan kamu seperti terusir begini, aku-“


“Tidak papa ka,” potong Serra tersenyum paksa, mengerti ini sulit bagi suaminya. Serra sangat memahami bahwa dia lah yang harus mengalah.


“Sayang aku tidak bisa membiarkan mu harus mengalah begini. Aku merasa tidak becus menjadi suami karena tidak tegas dan aku sangat merasa bersalah padamu.”


Serra mengambil satu tangan hangat suaminya, meletakan pada telapak tangannya. Menggenggam dan mengelusnya.


“Aku tidak papa ka. Aku mengerti keadaan tidak memungkinkan. Kamu jangan pernah mengatakan tak becus menjadi suami dan merasa bersalah padaku. Dari awal kita menikah, kita berdua sudah sepakat menyetujui permintaan papa dan mama, untuk meyembunyikan pernikahan ini. Jadi kita lakukan saja, besok aku akan mengemas pakaian ku dan menginap di tempat ibu...”


“Aku akan mengantarmu besok, nanti aku juga akan menginap disana,” tukas Arka.


“Jadi aku akan mengemas beberapa baju mu, membawanya agar nanti saat kamu menginap tidak akan kelimpungan membawa baju,” ucap Serra.


Tangan Arka sekarang memeluk Serra, merapatkan tubuh sang istri agar mendekat padanya. Arka mencium bibir Serra beberapa menit sebelum menyudahinya.


“Rasanya aku tidak kuat lagi meanahan keinginanku untuk menyetuh mu lebih leluasa,” ungkap Arka.


“Sabar ka, sebentar lagi!”


“Tapi biarpun begitu kita masih bisa kelonan.” Arka menaik-naikan alisnya menatap Serra.


“Hmm, engga bisa, nanti kamu malah pengen kayak kemaren. Jadi untuk menghidari hal itu terjadi, sebaiknya engga dulu,” tolak Serra membuat Arka sedikit kecewa.


“Tapi kamu boleh peluk aku,” kata Serra lagi.


Arka yang tadi sedikit kecewa, sekarang bersemangat kembali.


Kedua pasangan suami istri yang masih mudah itupun berbaring. Arka memeluk Serra yang tidur membelakanginya.


...****************...


Bersambung. . .


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.

__ADS_1


Yuk follow ig author : @dianti2609


Terimakasih ❤


__ADS_2