
Kantor Eldrick’s Corp.
Angga melangkah lebar agar cepat sampai di ruangan Ceo. Angga mau menyampaikan tempat dimana mereka akan meeting siang ini.
Belum sampai tangan Angga di gagang pintu, suara sekretaris boss yang meja berada disamping pintu ruangan Ceo memanggilnya.
“Emm, pak Angga boleh bicara sebentar,” ujar Jasmine takut-takut, menurut wanita itu asissten bossnya hampir sama saja sifat dengan sang boss.
“Apa yang ingin kau bicarakan ini sangat penting sekali?” Tanya Angga menatap gelagat sang sekretaris bossnya.
“Eung, sebenarnya tidak terlalu penting. Tap-“
“Kalau tidak penting sekali, sebaiknya di tunda dulu. Karna saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting untuk tuan Arlez...” Tukas Angga, langsung membuka pintu ruang Ceo tanpa mengetuknya lagi.
Sedangkan Jasmine mengepalkan tangan meninju udara, menahan kekesalan pada asissten boss kulkasnya.
“Engga boss, engga asisstennya sama sama kayak kulkas, apalagi kalau natap tajam banget mana galak dua-duanya, berasa gue mau dikulitin abis-abisan. Gue kayak kerja di kantor mafia!” Gerutunya.
Angga keluar dari ruangan Ceo setelah menyampaikan sesuatu pada bossnya.
“Jasmine siapkan berkas meeting dan flashdisk berisi file untuk dipaparkan pada perusahaan Pratama,” pinta Angga.
“Baik pak,” sahut Jasmine berdiri dan mengambil berkas dan flashdisk berisi file yang akan dibawa.
Arlez berdehem. “Kau tidak ikut dalam meeting ini Jasmine. Jadi silahkan menunggu di kantor saja.”
Kalimat boss membuat Jasmine malu setengah mati. Bagaiman bisa wanita itu melupakan satu hal, setiap ada meeting di luar kantor Jasmine tidak akan pernah ikut.
__ADS_1
“Maaf tuan, saya melupakannya,” ucap Jasmine tersenyum paksa sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Jasmine lalu kembali ke tempat semula.
Angga terkekeh. “Berikan berkas dan flashdisk ke saya,” katanya.
Jasmine menyerahkan berkas dan flashdisk ke tangan Angga.
Arlez berjalan lebih dulu dan Angga mengikuti dari belakang. Sampai depan kantor, mobil BMW merah telah disiapkan. Bodyguard langsung keluar dari dalam mobil dan membuka pintu untuk Arlez masuk.
Mobil dikemudikan oleh Angga menuju salah satu cafe dimana klien meminta melakukan meeting di cafe tersebut.
Selama berlangsung meeting Arlez sama sekali tidak fokus. Sepasang netra Arlez melihat dua orang remaja yang sedang mengobrol dengan masih mengenakan seragam SMA. Arlez mengenali gadis yang memakai seragam SMA itu. Sorot mata Arlez menajam ketika melihat anak muda menggenggam tangan istri keponakannya.
“Tidak bisa dibiarkan.” Marah Arlez beranjak dari tempat melangkah menuju meja dimana dua remaja masih berbicara serius.
BRAK!
“Un-uncle,” ucap Serra gugup.
Arlez mencengkram pergelangan tangan Serra, menarik hingga berdiri dari tempat duduknya. Menyeret gadis itu mengikutinya..
“Uncle aku mau dibawa kemana,” pekik Serra menahan sakit dipergelangan tangannya.
Aldo yang melihat Serra diseret seperti itu, merasa marah. Aldo ingin mengejarnya, tetapi seorang pria menghalanginya.
“Minggir gue mau lewat,” bentak Aldo.
“Tenang anak muda, biarkan gadis itu bersama boss saya. Saya berani menjamin tidak akan terjadi apa apa dengan temanmu, jika itu yang kau takutkan,” tutur Angga berhadapan dengan remaja SMA.
__ADS_1
“Gue engga percaya sama lo, minggir cepat!!” Marah Aldo dengan mata memerah menatap orang yang menghalanginya.
“Saya bilang kau untuk tenang. Jangan mengejar boss saya, karena itu sama saja kau mengantarkan nyawa mu,” sergah Angga.
“Entah saya tidak tahu ada hubungan apa boss saya dengan temanmu, yang pasti kau harus tahu anak muda boss adalah orang yang sangat kejam. Dia tidak segan-segan membunuh orang yang berani mencampuri urusannya.” Lanjutnya.
Aldo mulai agak tenang mendengar perkataan orang dihadapannya. Tetapi ia merasa kasihan dengan temannya yang diseret oleh pria tadi.
“Sekarang lebih baik kau pulang saja anak muda,” suruh Angga.
“Heh! Berani banget lo ngusir gue. Ingat kalau sampe teman gue masuk sekolah ada memar sedikit aja, bakal gue hajar boss lo itu. Ga peduli seberapa kejam dia seperti yang lo katakan tadi, intinya gue engga takut.” Setelah mengatakan itu Aldo menyenggol bahu orang dihadapannya dan langsung pergi.
“Boss saya bukan lawan yang sebanding dengan mu anak muda.” Guman Angga tertawa. Pria itupun kembali ke tempatnya.
“Apa meeting ini bisa dilanjutkan?” Tanya Adi selaku kliennya mereka.
“Sebaiknya meeting ini kita tunda dulu pak, dilanjutkan lain waktu saja. Sekretaris boss saya akan mengabarinya nanti,” ujar Angga.
“Baiklah pak Angga saya mengerti.” Adi berdiri dari tempat duduknya. Kedua saling berjabat tangan untuk mengakhiri pertemuan.
****
Bersambung. . .
Jangan lupa tinggalkan jejakt kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1