
Serra membuka pintu kamar, ternyata kosong dan mendenger suara gemericik air dalam kamar mandi. Selagi Arka mandi, Serra membereskan tempat tidur dan menyiapkan seragam sekolah mereka, menaruhnya di atas kasur yang sudah rapi.
‘Kreek’ terdengar suara pintu kamar dibuka. Arka keluar dengan handuk melilit pinggangnya serta rambut yang masih basah sehabis keramas. Arka yang akan memakai seragam sekolah langsung cegah istrinya.
“Ka rambut kamu masih basah, jangan dulu pakai seragamnya,” larang Serra ketika suaminya hampir saja memakai seragam sekolah padahal rambut masih basah, airnya menetes hingga ke leher dan bahu.
Arka pun tak jadi memakai seragamnya dan malah duduk di ranjang dengan wajah cemberut, menunggu apa yang akan dilakukan istrinya selanjutnya.
“Uluh suami aku kok cemberut, jelek tau ka,” ejek Serra terkekeh melihat wajah sang suami.
“Kamu sih, aku mau pakai seragam malah dilarang,” ujar Arka.
“Gimana engga aku larang, orang ini rambut kamu masih basah kok. Makanya kalau habis keramas itu rambutnya jangan kelupaan digosok dulu pakai handuk sampe setengah kering." Serra meraih handuk yang tersampir dikursi meja rias. Pikirnya mungkin Arka lupa membawa handuk satunya ke kamar mandi, itulah mengapa rambut masih basah saat keluar.
Dengan penuh kelembutan Serra menggosok rambut suaminya hingga setengah kering. Setelah itu dia mengambil hair dryar dalam laci meja riasnya, kembali mengeringkan rambut dengan bantuan alat ditangannya.
“Selesai! Sekarang kamu udah aku bolehin pakai seragamnya,” seru Serra.
“Males pasang sendiri, mau dipakaikan." Katanya manja ingin istrinya yang memakaikan seragam ke badannya.
“Manja... Pasang sendiri ya. Aku mau mandi loh ka, ini sebentar lagi setengah 7. Nanti kita telat kesekolah gimana?"
“Pakaikan bajunya aja ya." Kekeh tak mau dan hanya diam melipat kedua tangan didada, tetap meminta istrinya yang memakaikan.
“Oke bajunya saja, celana kamu pasang sendiri.” Serra langsung memakaikan baju ke badan suaminya dengan cepat agar mempersingkat waktu.
Selesai memakaikan baju seragam ke badan Arka. Serra berjalan cepat ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya dan bersiap kesekolah.
...***...
Arka telah siap sedari Serra masih mandi. Arka memilih turun ke lantai bawah duluan tanpa menunggui Serra, mengajaknya barengan ke meja makan.
Di meja makan semua sudah mulai sarapan tidak memperdulikan satu orang yang masih berada dikamar. Arka pun juga memilih sarapan duluan, tidak menunggu Serra dikamar mereka tengah bersiap memakai baju seragamnya dan menyisir rambut dengan cepat serta memakai bedak dipipi, mengoleskan lip balm di bibirnya yang memang sudah berwarna pink.
“Ka istrimu kenapa belum turun juga? Apa istrimu masih sakit,” ujar Alka bertanya pada sang putra yang duduk disebelah adiknya Arlez.
“Engga pa, Serra udah sembuh,” jawab Arka.
“Lalu kenapa belum turun juga? Haruskah mama yang menjemputnya keatas dan membawa untuk ke meja makan dab sarapan bersama kita,” ketus Devita marah mengingat kejadian tadi malam yang mengakibatannya harus turun tangan sendiri keatas memberitahu putra dan menantunya.
“Jangan mah, nanti dia merasa diperlakukan seperti ratu di mansion, yang ada nantinya malah ngelunjak,” timpal Liora menyahuti omongan mamanya.
“Lio, jangan memanggil istri abang dengan sebutan dia. Serra itu kakak ipar mu, jadi panggilah dia kakak,” ujar Arka menasehati adiknya untuk memanggil istrinya dengan benar.
“Iya bang,” ucap Liora males.
“Bener yang dikatakan mamah ka, apa memang harus mamah mu yang menjemput Serra agar mau turun sarapan bersama kita,” tukas Alka menatap putranya yang memberikan gelengan bahwa itu tidak benar. Lain dengan Devita terlihat sangat senang mendengar suaminya membelanya.
__ADS_1
“Tidak pah, Serra memang mandi. Pagi sekali Serra sudah bangun dan memasak sarapan pagi. Ini sarapan pagi yang tengah kita nikmati, itu semua masakan dibuat Serra pah. Jadi Arka mohon jangan berpikiran seolah-olah Serra menikah dengan Arka karena ingin mendapatkan harta. Kalau itu yang kalian takutkan, hilangkan ketakutkan kalian tentang itu pah mah, karena itu tidak benar sama sekali. Kami menikah karna saling mencintai,” jelas Arka panjang lebar.
Dibalik dinding Serra diam mendengarkan pembicaraan mereka. Dimana suaminya Arka yang sangat membelanya di hadapan kedua mertuanya. Serra tidak menyangka jika pikiran keluarga Xander terhadapnya sesempit itu. Serra tahu bahwa dia tak sederajat dengan keluarga suaminya, tapi dalam hati atau pikiran sama sekali tak terlintas ingin mengusai harta kekayaan keluarga ini. Dia hanya menginginkan menikah dengan orang yang dicintainya dan mencintainya itu saja.
Merasa telah lama bersembunyi dibalik dinding Serra akhirnya memberanikan diri menuju ke meja makan.
“Maaf mah pah, aku telat," ucap Serra meminta maaf dan menunduk.
“Tidap papa nak, duduklah dan sarapan,” ujar Alka mendahului Devita berbicara. Alka juga memberikan tatapan tajam pada Devita untuk tidak memarahi Serra. Alka tak mau terjadi keributan di meja makan saat sarapan masih belum selesai.
“Sini sayang duduk sebelah aku!” Seru Alka, melihat Serra yang kebingungan membuat Arka sadar bahwa disebelahnya masih ada unclenya.
“Uncle bisa pindah tempat, sepertinya istriku ingin duduk disebelahku,” ucap Arka meminta dengan baik pada unclenya untuk berpindah tempat.
“Masih banyak kursi yang kosong ka, jadi masih banyak tempat untuk dia duduk,” ujar Arlez dingin, pria itu tak mau diatur apalagi disuruh untuk berpindah tempat duduk yang sudah diduduknya.
Arka mengalah, rasanya tak mungkin juga memaksa uncle kulkasnya untuk berpindah tempat.
“Aku duduk disini saja ka, tidak apa-apa,” ujar Serra mengambil duduk sebelahnya kursi kosong sebagai batasan antara dia dan unclenya Arka.
“Kamu mau makan apa sayang? Biar aku ambilin,” ujar Arka bertanya dengan menegok Serra yang terhalang oleh badan kekar unclenya.
“Biarkan Serra mengambil sendiri makanannya ka,” ujar Devita.
“Iya ka, benar kata mamah. Aku bisa ambil sendiri kok. Mending kamu lanjutin makan kamu ya,” sahut Serra. Arka melanjutkan makanannya.
Tapi menurutnya itu juga tak pantas bagi keluarganya untuk merendahkan seseorang ataupun berpikiran yang tidak-tidak terhadap orang kelas bawah. Karena tidak semua orang seperti itu, kita perlu untuk mencari tahunya sebelum menuduh yang tidak-tidak.
“Kelihatan sekali bawah gadis ini memang mencintai Arka,” ucap Arlez dalam hati dan masih mencuri pandang kearah Serra.
Serra sadar bahwa sedari tadi pria disebelahnya terus mencuri pandang kearahnya. Membuat dia sedikit tak nyaman dengan pandangan seseorang. Mungkinkah pria disebelahnya masih dendam dengan kejadian tadi pagi, dimana dia tidak sengaja menumpahkan kopi dikemejanya. Tanpa ingin berlama-lama di meja makan, dia mempercepat sarapan agar segera berangkat kesekolah.
“Ka apa kamu sudah selesai sarapannya?” Tanya Serra melirik Arka sekilas.
“Sudah yank, mau berangkat sekarang?” Tanya Arka balik.
“Iya ka, hari ini kelasku ada ulangan dadakan. Nabila barusan memberitahu ku,” ucap Serra.
“Yasudah kalian berangkat saja kesekolah, tapi ingat jangan sampe orang-orang tahu bahwa kalian telah menikah,” pesan Alka.
“Baik pa, kami akan menjaga rahasia pernikahan ini sebaik mungkin.” Serra dan Arka langsung berpamitan untuk langsung sekolah.
“Abang, tungguin Lio mau nebeng ya,” teriak Liora berlari mengejar langkah Arka dan Serra.
“Biasanya juga diantar supir, kok tumben mau bareng,”’ujar Arka menatap sang adik untuk mencari tahu maksud dibaliknya.
“Lio bosan diantar sopir bang,” ucap Liora ngos-ngosan akibat berlari.
__ADS_1
Saat ini di meja makan tinggal Arlez, Alka dan Devita. Sedangkah Avrio memilih menuju kamar setelah para kakaknya berangkat sekolah. Avrio memilih menunggu guru private datang, anak itu sebenarnya merasa bosan hanya berada di mansion. Avrio ingin merasakan dunia persekolahan yang nyata bukan homeschooling seperti ini, sangat membosankan baginya. Tapi apalah daya keadaannya tidak mendukung keinginan seperti kemauannya.
“Jangan pergi dulu, tetaplah di meja makan.” Sentak Arlez bersuara keras. Ketika Alka dan Devita ingin pergi menghindari Arlez yang diketahui Alka akan bertanya tentang ini.
“Ada apa Lez?” Tanya Alka menetralkan rasa keterkejutan saat Arlez bersuara keras.
“Tunggu! Apa maksud perkataan mu tadi Al? Apa pernikahan ini disembunyikan dari orang diluaran sana tidak ada yang mengetahui pernikahan cucu Xander,” cetus Arlez menatap Alka tajam.
“Ya, karena mereka masih anak sekolah. Jadi pernikahan ini disembunyikan, peraturan disekolahan Xander juga sangat jelas tidak memperbolehkan bagi siswa maupun siswi untuk menikah ketika masih bersekolah,” jelas Alka panjang.
“Lalu kenapa kau membiarkan mereka menikah. Bullshits! Jika alasannya karna mereka saling mencintai, kau bisa menunda pernikahan mereka sampai keduanya lulus sekolah.” Hardiknya..
“Semua ini bukan omong kosong Lez. Karna memang benar pernikahan ini terjadi adanya cinta.” Alka membenarkan perkataan adiknya.
“Bagaiman jika istri Arka mengandung?” Tanya Arlez menyeringai menatap wajah sang kakak.
“Itu tidak akan terjadi,” sambung Devita angkat bicara.
“Kenapa?” Arlez mengarahkan tatapan tajam pada kakak iparnya.
“Karena mereka sudah aku larang agar tidak berhubungan badan sebelum lulus sekolah,” jawab Devira enteng.
“Apa kau yakin mereka tidak berhubungan atas permintaan konyol mu itu,” ujar Arlez.
“Konyol kau bilang Lez. Terserah saja, yang pasti aku selalu mengawasi mereka dirumah maupun disekolah. Aku tidak mau kecolongan.” Devita menatap adik ipar kurang ajarnya itu dengan kesal.
“Sungguh tidak punya kerjaan sekali kau kakak ipar.” Pungkasnya.
“Cukup Lez, biar Arka dan istrinya menjadi urusan kami. Kau jangan ikut campur untuk ini, sebaiknya kau ke kantor saja secepatnya.” Setelah mengatakan itu Alka menarik tangan Devita dan melenggang pergi begitu saja.
Sepeninggal mereka, Arlez malah tertawa tipis. Pria itu merasa aneh dan janggal dengan pernikahan keponakannya ini.
“Pernikahan yang aneh.” Gumannya.
Handphone di saku celana kainnya berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk. Arlez segera mengangkatnya.
“Tuan sebentar lagi meeting akan segera dimulai. Tuan dimana? Apa perlu saya menjemput,” ujar Anggara diseberang telpon.
“Tunggulah saya segera ke kantor sekarang.” Sahut Arlez mematikan sambungan telpon dan menaruh kembali handphone disaku celana. Arlez melangkah keluar dari mansion masuk kedalam mobil mercy dan mengemudikan sendiri menuju kantor.
****
Bersambung. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1