YOU'RE MINE, SERRA

YOU'RE MINE, SERRA
Bagian 23


__ADS_3

Arlez menikmati makan malam bersama Angga asisstennya dengan tenang. Memang kedua lelaki itu sama-sama irit berbicara. Bicara hanya kadang seperlunya saja. Sifat keduanya pun sama-sama kaku padahal keduanya tidak ada hubungan darah.


“Tuan sebenarnya ada hubungan apa anda dengan gadis remaja tadi, sepertinya anda sangat mengenal, sehingga anda terlihat marah ketika gadis remaja itu bersama dengan lelaki remaja di cafe tadi. Maaf tuan kalau saya lancang bertanya..” Tutur Angga dengan permintaan maaf dikalimat akhirnya.


Angga hanya penasaran saja dengan hubungan bossnya bersama gadis remaja tadi. Setahu Angga memang bossnya cukup dekat dengan beberapa wanita, tetapi tidak sekalipun salah satu dari mereka bossnya izinkan untuk duduk di mobil kesayangan dan dibawa keapartemen sampai digendong pula. Semua itulah yang membuat Angga jadi bertanya-tanya apakah gadis remaja itu sangat spesial dan apa bossnya mulai membuka hati setelah bertahun-tahun ditinggalkan seseorang yang menoreh luka dalam hati sang boss.


Arlez menatap tajam Angga. “Ini seperti bukan sifat kau Angga. Apa kau begitu ingin mengetahuinya Angga?”


“Ya tuan, saya hanya tidak ingin anda dalam masalah besar,” ucap Angga.


“Sekarang keluar dari apartemen saya!” Hardik Arlez mengusir Angga keluar dari apartemennya.


“Baik saya akan pergi...” Angga melangkah menuju pintu keluar dan pergi menuju apartemen disebelah yang memang miliknya. Apartemen kedua lelaki tersebut memang bersebelahan.


Beberapa menit kepergian Angga dari apartemen, Arlez sempat terdiam memikirkan perkataan asisstennya itu. Setelah pergi meninggalkan meja makan membiarkan piring kotor bekas mereka makan tetap berada di atas meja.


Bukannya pergi ke lantai atas melihat keadaan Serra. Arlez memilih keluar dari apartemen menuju lantai dasar untuk pergi ke ruang gym, sekedar menenangkan pikiran.


Arlez melepaskan baju yang tengah dipakai, memperlihatkan otot-otot tubuhnya, perutnya yang sixpack mungkin jika ada wanita melihatnya akan menetes air liur mereka melihat penampakan yang begitu sempurna dari seorang Ceo tampan dengan kekayaan tidak bisa diragukan lagi.


Pria mulai dengan salah satu gerakan yaitu angkat beban. Dilanjutkan menggunakan alat gym treadmill. Lalu melakukan olahraga lainnya, sampai tak terasa hampir dua jam lebih pria itu berada di ruang gym.


Keringat Arlez benar-benar bercucuran dari dahi sampai ke badan-badannya. Rambut pria itu juga ikutan basah. Merasa dirinya sudah agak tenang karena melampiaskan dengan gym sangat lama. Kini ia kembali ke apartemennya.


Sampai di dalam apartemen Arlez menuju ke dapur mengambil minuman dingin dan meneguknya hingga tinggal setengah. Selesai melepaskan dahaga, Arlez berjalan menuju anak tangga dan menaiki.


Pelan tangannya membuka pintu kamar dan masuk melangkah pelan agar tidak menimbulkan suara. Pria itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Arlez keluar dengan menggunakan handuk kimono di tubuhnya. Saat ingin melangkah masuk ke walk-in closet, telinga mendengar suara Serra. Kaki berhenti melangkah dan terpaksa memutarbalikan badannya memastikan apakah pendengaran tidak salah.


“Ayah! Ayah jangan tinggalin Fia..” Serra mengigau dalam tidurnya.


Arlez mengeryitkan dahi mendengar suara Serra. Ia mendekati tempat tidur dan duduk ditepian ranjang.

__ADS_1


“Fia rindu ayah, mengapa ayah pergi secepat ini.. Ayah!!!” Serra tetap mengigau sampai air matanya mengalir.


“Hei? Serra bangunlah..” Arlez menepuk pipi Serra yang terasa panas di telapak tangan. Lalu Arlez menempelkan telapak tangan di dahi dan leher Serra benar saja gadis yang tengah tertidur ini mengalami demam.


“Ayah!!”


“Serra bangunlah!!” Arlez membangunkan Serra dengan suara lebih keras lagi dan mengoyangkan lengan gadis tersebut.


“Ayah!!” Serunya langsung bangun terduduk.


Serra meraba pipinya yang basah oleh air mata. Lalu menatap orang yang berada dihadapannya. Serra terisak, menatap Arlez dengan menangis tersedu-sedu.


“Hiks, bo-boleh pe-luk?” Tanya Serra meminta izin.


Arlez mengangguk... Serra mengalungkan tangan di leher Arlez dan menyandarkan kepala di dada bidang pria itu. Arlez mengusap-usap punggung Serra menenangkan gadis itu.


“Sudah agak tenang?” Tanya Arlez sambil menghapus air mata dipipi gadis dalam pelukannya.


Serra mengangguk, “Ma-kasih pe-pelukannya..”


Tetapi Serra menahan tubuhnya agar tidak berbaring kembali. Disaat seperti ini, biasanya Serra tidak ingin ditinggalkan sendirian. Jika bersama ibunya gadis itu akan meminta ibunya memeluk atau menggendong dirinya untuk merubah suasana agar lebih tenang dan baik.


“Kenapa tidak mau berbaring?” Tanya Arlez.


Serra menggeleng, “Engga mau ditinggal,” katanya manja.


Mendengar perkataan Serra membuat Arlez heran. Gadis dihadapan sekarang berubah menjadi manja. Arlez tidak sadar bahwa tangan Serra sudah mengalung lagi di lehernya, bahkan sangat erat seperi takut dia pergi meninggalkan sendirian.


“Ada apa dengan gadis ini? mengapa setelah mengigau sikapnya berubah seperti bukan Serra yang tadi dikenalnya pada saat di dapur..” Batinnya bertanya-tanya tentang perubahan sikap Serra. Arlez berperang dengan pikiran sendiri.


Pria itu masih mengenakan handuk kimono. Entah gadis yang tengah memeluknya ini menyadari atau tidak dirinya yang masih mengenakan handuk kimono.


Tetapi dalam pelukannya pun Arlez merasakan badan Serra yang sangat panas. Dokter Dimas memang sempat mengatakan bahwa Serra akan demam nantinya dan memperingatkannya untuk tidak khawatir karena ini biasa efek dari kecelakaan yang membuat sedikit badan gadis itu terasa sakit hingga menyebabkan demam.

__ADS_1


“Serra tinggal lah dikamar, saya hanya sebentar kebawah,” bujuk Arlez. Tetap saja Serra tidak mau dan malah semakin mengeratkan pelukannya.


“Aku ikut, kemanapun pergi,” ucapnya sadar atau tidak.


“Fine, tapi jangan begerak selama saya gendong..” Serra mengangguk patuh, seperti anak kecil.


Arlez terpaksa membawa Serra bersama untuk turun kebawah mengambil baskom untuk mengompres gadis di gendongannya yang tengah demam. Selama menuruni tangga Serra bergerak tak nyaman dalam gendongan Arlez.


“Serra jangan bergerak atau kau mau kita terjatuh..” Mendengar perkataan Arlez. Serra kembali tenang dalam gendongannya.


Setelah mendapatkan apa yang mau diambilnya tadi. Arlez membawa baskom kecil tetapi tidak di isi air, karena jika dia membawanya tidak akan bisa sambil menggendong Serra.


Sesampainya di atas, Arlez mencoba membaringkan Serra ke ranjang, tetap Serra tidak mau. Arlez menghembuskan nafas lelah di leher Serra. Arlez masuk ke dalam kamar mandi mengambil air, mengisi ke dalam baskom, lalu mencari handuk kecil untuk digunakan mengompres.


“Aku tidak mau berbaring, nanti aku ditinggalkan,” tolaknya saat Arlez membaringkannya.


“Menurutlah Serra, saya tidak akan kemana-mana jika itu yang kau takutkan. Saya akan bersamamu, asalkan kau menjadi gadis penurut untuk saat ini. Saya hanya mau mengambil air dalam kamar mandi...” Arlez mencoba membujuk Serra agar mau berbaring, karena jika tidak berbaring bagaiman dia akan mengompres dahi gadis ini.


Akhirnya Serra menurutinya dan berbaring, membiarkan Arlez mengompres dahinya. Sampai panas Serra kembali turun, karena mata Arlez yang sangat mengantuk dan tubuh juga lelah. Arlez pun tertidur di samping kiri Serra, tangan tanpa sadar memeluk perut Serra. Sebelumnya Serra sudah berada agak ketengah membuat pinggiran ranjang sedikit lebih luas dan Arlez bisa tidur tidak kesempitan.


🌷


🌷


🌷


🌷


Bersambung. . .


Jangan lupa tinggalkan jejakt kalian yaitu vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609

__ADS_1


Terimakasih ❤


__ADS_2